google-site-verification=a29cQDLicXmx_KpxGtFuPjFzKNqoMZ3FEdNxkyQfTTk Kang Badi': Gara-Gara Menulis

Gara-Gara Menulis


Subadi


Ada satu kalimat yang coba saya pegangi "Membaca dan menulis itu memiliki energi besar untuk merubah hidup kita" [ The Power of Writing, hal.20], Kalimat ini saya coba renungkan, saya resapi dalam-dalam dan kemudian saya tanamkan di bagian otak saya. Saya hafal sungguh dengan kalimat itu.

Menulis itu ragamnya sangat banyak, tetapi di sini yang saya maksud adalah menulis dalam arti sesungguhnya, bukan asal menulis. Secara pribadi saya tidak terlalu tertarik menulis menggunakan kata dan bahasa yang sulit dipahami oleh halayak, meskipun itu tidak salah. Karena karakter menulis itu juga beragam dan sifatnya subyektif. Mungkin ini kecenderungan saya yang lebih memihak pada kata-kata yang sederhana, tidak rumit. Saya lebih menyukai membaca bahan bacaan yang mudah dipahami, yang terpenting pesan yang hendak ditawarkan itu bisa dengan mudah  dicerna dan ditangkap maknanya.

Dalam konteks ini, agaknya tulisan yang saya hasilkan pun sarat akan kesederhanaan kata. Sekali lagi, ini bagi saya pribadi, belum tentu bagi orang lain. Kecenderungan seperti itu saya nikmati dengan setulus hati. Saya berusaha enjoy dengan aktivitas belajar menulis ini. Sebenarnya, sampai saat ini aktivitas belajar olah kata yang saya jalani  nyaris baru genap 1 bulan, tetapi meskipun umurnya masih seumur jagung, ibaratnya. Ternyata banyak hal positif yang terus saya rasakan. 

Ah, rasanya tidak penting berdebat soal pilihan kata, itu murni hak setiap penulis, dan sah-sah saja. Yang terpenting adalah berusaha terus menulis dan menulis. Karena menulis dengan sungguh-sungguh penulis akan selalu diiringi energi positif dan efek luhur lainnya. Jika di atas ditegaskan "menulis memiliki energi besar" dalam hal ini saya dengan lapang menerimanya, sungguh. Mengapa? karena dalam proses menulis sendiri sebenarnya kita membutuhkan energi yang sangat besar. Sehingga tanpa tekat yang kokoh dan usaha yang sungguh-sungguh tidak mungkin akan dihasilkan sebuah tulisan, sekalipun tulisan itu sangat sederhana. Dari sini dapat dipahami bahwa tidak berlebihan jika dikatakan "menulis itu memiliki energi besar untuk merubah hidup". Tinggal kita mau melakukannya atau tidak. 
Beberapa menit yang lalu, ide itu muncul seiring obrolan di group WA Ma'arif Menulis. Oh, entah dari mana dorongan itu muncul, keinginan menulis dengan judul "Gara-Gara Menulis". Gugusan ini sebenarnya ide sederhana, bermula dari efek yang ditimbulkan dari aktivitas menulis yang saya rasakan. Saya juga bisa pastikan teman-teman Penulis pemula yang lain, saat menulis - dalam arti yang sesungguhnya- juga akan merasakan hal yang sama. Sama-sama merasakan efek positif yang menyertai aktivitas menulis itu.

Gara-gara menulis, saya menjadi terdorong untuk lebih giat belajar, terutama membaca. Ternyata betul apa yang tertulis di buku "The Power of writing" [Penulis yang tidak mau membaca tidak akan mampu menulis secara baik dan mendalam, hal.,13]. Meskipun saya merasa bodoh, saya terus mensyukurinya, gara-gara ini saya musti lebih giat lagi belajar dan belajar. Karena jika kita mempunyai semangat menulis tanpa disertai membaca yang kuat, selain kita kebingungan ide yang akan ditulis dan minimnya pembendaharaan kata yang kita miliki,  juga bisa berpengaruh pada kejujuran dalam menulis, bisa jadi penulis akan mengambil langkah plagiasi/mengambil tulisan orang lain dan diakui sebagai tulisannya, ini bagi saya sangat merugikan. Sesederhanapun tulisan kita, jika itu hasil dari kerja keras sendiri akan sangat bermakna.

Gara-gara menulis, banyak waktu luang yang menjadi mutiara. Bagiamana tidak, ketika aktivitas menulis sudah menjadi kebiasaan,  rasanya sangat rugi jika ada waktu yang terbuang sia-sia, apalagi habis untuk hal yang kurang berfaidah. Saya katakan mutiara, bagi saya bukanlah hal yang berlebihan, karena dengan menulis sebenarnya kita juga sedang belajar, dan belajar itu adalah kewajiban sebagai muslim. Jadi menjilmakan waktu luang menjadi waktu belajar adalah mutiara yang sangat berharga dan bernilai ibadah, bukankah setiap aktivitas itu tergantung pada niatnya? tentunya iya. Dan agaknya semua orang sepakat dengan pemahaman ini. 

Gara-gara menulis, saya jadi berfikir untuk menyisihkan sebagian uang yang saya miliki untuk membeli buku, bukan hanya habis untuk keperluan yang lain.  Bagi saya membeli buku bukanlah hal negatif, sama sekali tidak. Membeli buku untuk kita baca dalam rangka belajar dan menambah wawasan adalah hal yang sangat positif, apalagi bagi orang yang meniti dunia olah kata, tentu membaca buku adalah suatu keniscayaan yang musti terus tekuni. Membaca dan menulis ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Dengan membaca buku yang banyak dan bermutu akan memungkinkan penulis tidak akan kekeringan ide menulisnya.

Gara-gara menulis, anak-anak di rumah sering bertanya, yah... Sampean kok kerja wae ? [yah kamu kok kerja saja?], ini saatnya memberi teladan dan motivasi kepada anak-anak. Meskipun sering mengganggu aktivitas kita menulis, suasana seperti ini sangat bermanfaat buat anak-anak kita, setidaknya dia selalu melihat buku, memegang buku, sering bertanya tentang buku, bertanya tentang apa yang kita tulis, dan sesekali juga membaca buku yang kita sanding. Hanya harapan semoga kelak menjadi pribadi yang lebih baik dan ahli ilmu. Amin.

Gara-gara menulis, Laptop, Hp, dan kuota internet menjadi lebih bermanfaat. Ya, ini kelihatannya sepele, tetapi bagi saya, jika kita mau merenung sejenak akan menemukan hikmah yang luar biasa, segala sesuatu yang kita miliki, sekecil apapun itu jika kita peruntukkan pada hal-hal yang positif tentu akan bernilai ibadah. Bagi saya ini termasuk cara kita mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, kita pergunakan dengan sebaik-baiknya. Yang biasanya laptop hanya untuk urusan formal ketik-mengetik data sekolah kini menjadi alat untuk berbagi manfaat melalui tulisan-tulisan yang kita hasilkan. Tambah ber-arti bukan? tentunya iya.

Gara-gara menulis, Waktu terasa berjalan begitu cepat, apalagi saat sedang berpuasa seperti saat ini,  waktu yang diisi hal-hal positif terasa lebih bermakna. Di saat tugas sekolah yang harus dikerjakan di rumah jika tidak ada selingan kegiatan tambahan tentu akan sangat membosankan. Dengan menyadari bahwa waktu berjalan dengan cepat, akan menjadi keuntungan tersendiri jika kita mau berfikir. Sehingga timbul pemahaman, sayang sekali apabila kita sampai menyia-nyiakan waktu kita. Waktu harus digunakan dengan sebaik-baiknya, agar lebih bermanfaat. Waktu bagaikan pedang,  jika kita tidak bisa menaklukkannya pasti kita sendiri yang akan tertebas oleh pedang itu, kita merugi.  Menggunakan waktu dengan aktivitas yang positif -seperti membaca dan menulis- juga termasuk cara kita mensyukuri  nikmat usia yang Allah berikan kepada kita.

Ternyata betul,  dengan menulis kita akan menemukan hikmah yang luar biasa. Selain wawasan yang semakin berkembang,  juga mendorong kita menjagi orang yang berfikir.  Ya,  berfikir dalam konteks menggali anugerah yang telah Allah berikan,  mensyukurinya dan berusaha menjadi insan yang lebih baik. 

Alhmdulillah... 
19 mei 2020
Punjul, Karangrejo,  Tulungagung




4 comments:

  1. Menulis itu bermanfaat. Sudah, itu saja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cekak aos, istilah balaghohya kalimat ijaz...

      Delete
  2. YaabTuhan....aku nyoba nulis sedikit saja perlu energi yg besar...la ini tulisan se panjang ini..ndak bisa mmbayangkan. Lanjutkan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Entah kenapa rasanya pingin yang panjang panjang....

      Delete

Terimaksih telah berkenan membaca tulisan ini, komentar anda sangat saya hargai. Semoga ada manfaatnya. amin..

𝗥𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻

𝘒𝘦𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘰𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪...