google-site-verification=a29cQDLicXmx_KpxGtFuPjFzKNqoMZ3FEdNxkyQfTTk Kang Badi': KEUTAMAAN BELAJAR DENGAN REPETISI [Kajian Surat al-Alaq Ayat 1-5]

KEUTAMAAN BELAJAR DENGAN REPETISI [Kajian Surat al-Alaq Ayat 1-5]




Jangan mikir bagus,  yang  penting kerjakan!
Jangan mikir faham,  yang  penting baca dan baca! 

Subadi 

Ada makna yang sangat mendalam,  jika kita mau membaca dan merenungkan surat Al-Alaq ayat 1-5. Di sana kata Iqro' diulang-ulang dan diiringi beberapa kata dan kalimat yang saling mendukung. Kata dan kalimat yang mengiringi itu, bagi saya mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kata Iqra’. Iqra' pada level yang paling dasar merupakan bentuk kata kerja perintah yang dalam ilmu Nahwu disebut Fi'il Amar. Iqra' artinya "Bacalah". Kata ini mempunyai maksud seruan untuk membaca. Sedangkan membaca sendiri adalah bagian paling dasar dari proses belajar.
Dari sini,  menurut hemat saya surat Al-'alaq itu -setidaknya ayat 1 sampai ayat 5- dapat diurai  ke dalam ranah belajar. Karena, belajar itu sendiri mempunyai ragam bentuk aktivitas seperti membaca, menulis,  menghitung,  meneliti,  memikirkan, menalar,  dan sebagainya.
Aktivitas belajar tidak bisa dilepaskan dari obyek belajar,  yang selanjutnya disebut dengan materi belajar,  apapun itu bentuknya.  Materi belajar bisa berasal dari buku, kitab, kejadian atau peristiwa, fenomena, alam sekitar, makluk hidup dan lain sebagainya. Kesemuanya itu bisa dijadikan obyek belajar. 
Bagi saya, dalam kontek belajar, setidaknya ada beberapa pesan yang hendak disampaikan oleh ayat 1-5 surat Al-Alaq. Jika pesan ini dapat ditangkap oleh orang yang sedang melakukan aktivitas belajar, sungguh dapat dimungkinkan proses dan hasil belajarnya akan menjadi lebih bermakna dan bisa mengantarkannya ke dalam ruang berkahnya belajar itu sendiri. Pesan-pesan itu ialah ;
Pertama,  Mengingatkan bahwa semua ilmu adalah milik sang Pencipta, yaitu Allah SWT. Ketika orang akan memulai aktivitas belajar seyogyanya mengawalinya dengan berdoa,  minimal membaca Basmalah, supaya aktifitas belajar itu senantiasa mendapat curahan hidayah Allah SWT. Disamping itu juga sebagai pembuka pintu berkahnya belajar. Selain di awali dengan membaca doa sudah sepatutnya diakhiri dengan membaca Hamdalah  atau doa penutup, di akhir belajar.  
Kedua,  Orang yang belajar harus menyadari dengan sepenuhnya bahwa dirinya sedang menapaki jalan mencari Ilmu / Tholibul IlmiKesadaran ini bisa dituangkan pada niat belajar yang benar, belajar menghilangkan kebodohan, belajar karena menjalankan perintah Allah, belajar karena mensyukuri nikmat Allah, dan belajar karena mengharap ridha Allah.
Selain itu ia juga harus menyadari bahwa semua ilmu hakikatnya hanya milik Alloh Al-Khaliq. Dengan demikian aktivitas belajar atau menuntut ilmu termasuk bagian dari ibadah, sabagai cara menghamba kepada Sang Khaliq. Belajar pada hakikatnya adalah bagian dari perintah agama, sehingga menapaki proses belajar itu adalah ibadah. Sehingga orang yang belajar akan selalu bersinggungan dengan nilai-nilai luhur yang mengiringi belajar, yang pada gilirannya nilai-nilai mulia itu harus diinternalisasikan dalam diri orang yang sedang belajar.
 Nilai-nilai luhur itu diantaranya adalah sifat sabar,  qona'ah,  bersyukur,  tawadhu'/ tidak sombong dan berserah diri kepada Sang Kholiq. Tidak lain, ini semua sebagai landasan spiritualitas belajar. Belajar bagian dari usaha mengabdi dan berkidmat kepada Allah, sehingga motivasi belajar itu bermuara pada spirit melestarikan alam semesta dan untuk menggapai ridho Allah semata.  
Ketiga,  Orang yang belajar harus meyakini bahwa Ilmu yang sedang dituju mempunyai derajat yang tinggi dan mulia. Bukan sesuatu yang rendah dan murahan. Dengan menyadari akan kemuliaan yang dimiliki Ilmu itu lah, maka  orang yang mencari ilmu sudah selayaknya ia akan memuliakan semua aspek yang berkaitan dengan ilmu dan sesuatu yang bersinggungan dengan proses belajar, di antaranya adalah buku,  media,  alat belajar, serta guru.
Menyadari akan kemuliaan ilmu, juga dapat menumbuhkan rasa haus yang sangat akan ilmu, sehingga spirit balajar yang kokoh akan tumbuh dalam dirinya. Spirit itu, akan mendorongnya untuk lebih giat dalam proses menuntut ilmu, belajar dengan sungguh-sungguh, sampai rasa haus akan ilmu itu bisa terobati.
Ilmu itu menarik,  ilmu itu mejadikan pemiliknya mulia,  ilmu itu mendatangkan kehormatan,  ilmu itu mendatangkan keberkahan, ilmu itu menjadi sebab manusia akan dikehendakai baik –khair- oleh Sang Khaliq dan Ilmu itu sebagai bekal hidup bahagia di dunia dan akhirat, Semua akan menjadi baik dan mulia karena ilmu. Subhanalloh.
Keempat, Belajar dengan cara diulang-ulang. Pesan ini, ditegaskan oleh kata “iqra” yang diulang penyebutannya oleh Allah.  Memelajari materi, baik materi yang sama maupun materi yang berbeda. Teknik ini dalam belajar disebut dengan hukum repetisi/pengulangan. Dekat dengan hukum ini adalah belajar dengan istiqomah/ajek. Ada hal yang cukup menarik jika dikaji lebih jauh lagi.
Misalnya saja, dengan meminjam pandangan Al-Ghozali yang berbunyi "Laisal Karomah illa Bil Istiqomah", maqolah ini bisa dipahami, tidak akan dijumpai suatu kemuliaan/hasil istimewa dari suatu pekerjaan, termasuk aktivitas belajar, jika tidak dilandasi dan dikerjakan dengan istiqomah/ajek. Istiqamah sendiri berarti mengerjakan sesuatu dengan disiplin dan terus-menerus dalam intensitas waktu dan jumlah yang tidak terbatas. Sesuatu yang istiqamahi tiap individu tentu tidak sama jumlahnya, sangat tergantung tingkat kemampuannya. Yang perlu ditekankan dalam belajar Istiqamah adalah belajar yang terprogram dengan baik. Belajar setiap waktu, tiada hari tanpa belajar. Suatu aktivitas jika dikerjakan dengan istiqomah pasti akan mendatangkan karomah/hasil istimewa.
Walhasil, dengan kata Iqra' yang diulang-ulang penyebutanya dalam surat tersebut, sedang memberi petunjuk bahwa belajar yang baik tidak cukup dikerjakan dengan cara yang  biasa-biasa saja, tidak cukup dengan sekali tengok saja. Tetapi Jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal, belajar seyogyanya dikerjakan dengan istiqomah dan diulang-ulang. Cara dan teknik ini tentu punya maksud dan tujuan, yang selanjutnya menjadi titip point pada pesan yang ke lima. Teruslah membaca.
Kelima,  Orang yang sedang belajar musti mengimani dengan sepenuhnya bahwa Alloh adalah Al-Akram. Kata ini – al-Akram-  posisinya tepat setelah kata iqra' yang ke dua. Dalam kontek belajar secara repetisi, ini merupakan salah satu bagian terpenting yang patut direnungkan korelasinya dengan  kata iqra' dengan repetisi.
Bagi saya, kata al-Akram itu merupakan perhatian Allah terhadap orang yang suka mengulang-ulang perbuatan baik, termasuk belajar. Ia merupakan jaminan dan bonus yang Allah hendak berikan kepada orang yang selalu mengulang aktivitas baik. Orang yang sedang belajar perlu keyakinan yang kokoh untuk mengimani hal ini.
Ada satu fadhilah/keistimewaan belajar dengan cara diulang-ulang -sekalipun materi yang sama-, atas sifat Kumuliaan dan Kemurahan Allah itulah,  orang yang belajar akan mendapat kefahaman berlipat, pemahaman baru, dan bahkan akan menghasilkan teori serta temuan-temuan baru yang tidak disangka-sangka sebelumnya.  Apalagi,  jika belajar dengan istiqamah itu dengan obyek dan materi yang berbeda-beda,  sangat mungkin akan menghasilkan ilmu, pengetahuan dan penemuan yang lebih dahsyat lagi. Hadza min fadli Robbi.
Keenam,  Ini bagian yang terakhir. Karena alam dan segala bentuk prilakunya secara dimanis terus berkembang. Dari perkembangan itu kian banyak menghasilkan produk-produk yang dapat menunjang dan membantu manusia guna memenuhi seluruh hajat hidupnya. Dalam kontek belajar, pada zaman yang serba modern dan serba canggih ini,  tentu dalam proses belajar juga memerlukan sejumlah perangkat,  media, teknik, mothode, dan lain-lain.  Semua itu semata-mata sebagai sarana menyempurnakan proses belajar, agar lebih efektis,  efisien,  praktis dan maksimal. Agar tercapainya tujuan-tujuan belajar itu sendiri.  

Genengan-Punjul, 22 April 2020


5 comments:

Terimaksih telah berkenan membaca tulisan ini, komentar anda sangat saya hargai. Semoga ada manfaatnya. amin..

𝗥𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻

𝘒𝘦𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘰𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪...