google-site-verification=a29cQDLicXmx_KpxGtFuPjFzKNqoMZ3FEdNxkyQfTTk Kang Badi': Nama Dusunku Yang Bikin "Ngeres" Kepala Orang Kota

Nama Dusunku Yang Bikin "Ngeres" Kepala Orang Kota


Bersama Bapak dan Mas Nurhadi di Makam Kyai Imam Syafari
Subadi 
Salah satu wilayah yang termasuk bagian dari Kabupaten Trenggalek adalah kecamatan Munjungan, tempat dimana aku dilahirkan dan tumbuh hingga menginjak usia remaja. Sebelum hijrah ke kota Tulungagung dalam rangka ngudi kaweruh.

Masa-masa kecil itu berlangsung damai, tepatnya di desa Tawing dusun Gunung Kembar, yang juga diakrab dengan sebutan dusun Gemiring. Satu dusun yang sekaligus mempunyai dua nama,  unik. 

Penyebutan wilayah ini tentu punya latar belakang dan makna yang khas sebagaimana wilayah- wilayah yang lain. 

Kecamatan Munjungan, jika dilihat pada peta kabupaten Trenggalek termasuk kecamatan yang wilayahnya masuk katagori paling luas.  Dulu saat kecil banyak yang bercerita tentang asal-muasal nama Munjungan ini. 

Wilayah ini diberi nama Munjungan karena dilatarbelakangi oleh keadaan tanahnya yang subur,  baik ladang, kebun,  hamparan sawah  yang membentang luas, dan bukit-bukit menancap di sepanjang tepi pantai. 

Kesuburan tanah yang dimiliki itu, terbukti sampai sekarang,  memang begitu adanya,  subur sekali. Oleh karena kesuburan bumi yang dimiliki itulah,  sepertinya apapun yang ditanam akan tumbuh subur serta dapat memberikan hasil yang melimpah ruah. Palawija,  padi, jagung, kelapa, kedelai, cengkeh,  dan durian menjadi bagian penghasilan penduduk Munjungan. 

Munjungan, selain wilayah ini berupa dataran rendah dan perbukitan, juga termasuk wilayah pesisir.  Ya,  pesisir pantai selatan. Pantai indah yang dikenal dengan sebutan pantai Blado, penduduk setempat pun  biasa menyebutnya denga "Pantai Sumbreng".

Oleh karena itu, Munjungan selain terkenal dengan hasil pertaniannya yang melimpah, hasil laut pun demikian adanya,  cukup melimpah. Segala jenis ikan,  kerang,  siput,  rumput laut, udang, kepiting, dan sejenisnya, bisa dengan mudah dijumpai. 

Sebab hasil bumi dan laut yang melimpah ruah itulah,  Sehingga Nenek Moyang dulu mengatakan tentang tempat ini "munjung-munjung okeh panganan" [ada makanan yang melimpah]. Atas dasar itu, kayaknya  Nenek moyang terinspirasi untuk menentukan nama yang pas dan cocok bagi wilayah ini. 

Atas dasar itulah sehingga jadi nama "Munjungan". Aku serta penduduk munjungan patut untuk selalu bersyukur tentang nama ini.  Karena sebuah nama bukan hanya sekedar tanda bagi sesuatu yang ditandai secara asal-asalan, melainkan juga terkandung makna do’a di dalamnya. 

Bagiku, sudah selayaknya untuk selalu bersyukur bisa terlahir dan dibesarkan di tempat yang istimewa ini, alhmdulillah. Semoga Munjungan selalu menjadi tempat nan subur dan diliputi keberkahan dengan hasil bumi dan laut yang melimpah, sebagai penopang kehidupan masyarakatnya. Aamin.

Wilayahnya didominasi hamparan sawah yang luas, ladang-ladang penuh dengan pohon kelapa yang menjulang tinggi, bukit-bukit yang rindang akan tanaman hijau, betebaran pohon-pohon cengkeh yang tumbuh segar, dengan dusun yang lain dibatasi oleh sungai yang jernih dan bersih, dan ragam mata pencaharian penduduknya adalah petani, pedagang dan nelayan, ramah-ramah dan santun.  Itulah protret dusun Gunung Kembar, dimana aku lahir,  tumbuh dan berkembang hingga masuk usia remaja.

Sedikit cerita tentang asal usul nama “ Gunung Kembar “. Tepatnya di sebelah utara rumah Bapak,  kira-kira 200 meter, terdapat satu bukit yang tidak terlalu tinggi.  Dan bukit itu mempunyai saudara kembar di sebelah baratnya yang kira-kira hanya berjarak 400 meteran. Inilah cikal bakal nama Gunung Kembar itu. 

Dataran rendah yang tidak terlalu luas, persis di tengah-tengahnya ada 2 bukit kembar,  menjadi penambah keistimewaan tersendiri bagi wilayah ini.  Kedua bukit itu,  konon katanya bukan tempat yang biasa layaknya tempat yang lain.  Boleh dikata suatu tempat yang cukup seram dan berbau mistis.

Sebab, banyak beredar cerita dari orang-orang yang pernah mengalami dan melihat kejadian yang ada di bukit itu. Penampakan makluk halus, genderuwo, ganas pati,  pocong, dkk,  adalah hal mistis yang sering dijumpai penduduk setempat. sehingga bukit ini dipilih sebagai tempat pemakaman umum, utamanya bukit yang sebelah barat. 

Entah sudah berapa lama bukit itu menjadi pemakaman umum,  kusus kampung setempat.  Berbeda dengan bukit yang satunya,  bukit sebelah timur,  yang lebih dekat dengan rumah Bapak itu.

Tepat di atas bukit, hanya terdapat 2 makam.  Satu berupa makam orang pemiik bukit tersebut, dan tepat di sampingnya berupa makam kuda,  konon katanya itu kuda piaraan orang tersebut.

Dulu saat masih duduk di bangku sekolah dasar,  aku dan teman-temanku sering bermain di sekitaran bukit ini.  Kami sering mencari tonggeng di lubang-lubang bawah batu dan gampeng /tanah yang miring, dan "luru" buah cengkeh yang berjatuhan saat sedang musim, utamanya saat musim hujan.  

Namanya juga masih anak-anak,  saat itu kami tidak pernah merasa terhantui oleh rasa takut, horor dan sebagainya. Sehingga aku tahu persis letak dan posisi kedua makam tersebut, makam orang dan makam kuda. 

Nah...  Karena,  sebab di tengah-tengah wilayah ini terdapat dua bukit yang istimewa itulah, kayaknya  Nenek Moyang mulai terinspirasi untuk memberi nama tempat ini dengan sebutan "Gunung Kembar".  Itulah kira-kira asal muasalnya. 

Ada cerita yang cukup menggelitik, dulu saat awal-awal di Tulungagung,  banyak guru dan juga teman yang kaget dan kayak tidak percaya saat saya mulai menulis atau saat perkenalan di depan kelas.  Mengenai dari mana saya berasal. Mulai dari rt/rw sampai pada menyebut dusun... Sontak anak2 kota tertawa... Ha ha ha....  Wahhhh ada yang gak beres nihh....  Usut punya usut...  Ohhh,  Ternyata pada NGERESSS kepalanya....  Hehehe.... pikirin sendiri !

Nama "Gemiring" pun tak mau ketinggalan, juga minta peran. Kalau kebanyakan dusun biasanya hanya punya satu nama,  semisal dusun Mijen,  dusun Karang Turi,  dan lain-lain.  Uniknya kusus dusun saya ini “ Gunung Kembar “ bisa disebut juga dusun Gemiring.

Kenapa bisa demikian ? tentu punya alasan yang logis pula, sebab karena dusun ini posisinya tepat paling selatan dan dikelilingi  oleh bukit yang memanjang sepanjang pesisir pantai Selatan. Sehingga sudah barang tentu mempunyai postur bumi yang miring. Sampailah pada munculnya nama Gemiring. Yang berasal dari kata "Gemah Miring".

Dan pada akhirnya, di hampir setiap kesempatan aku berkenalan, dari pada memberi peluang berfikir ngeres kepala orang kota,  aku sering memakai nama dusun yang satu ini. Ya, dusun Gemiring. Hehe. Itulah kira-kira latar dimana aku dibesarkan. 

 *cah ndeso.... 
PUNJUL,  KARANGREJO,  22 MEI 2020

6 comments:

Terimaksih telah berkenan membaca tulisan ini, komentar anda sangat saya hargai. Semoga ada manfaatnya. amin..

𝗥𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻

𝘒𝘦𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘰𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪...