Subadi
Sejak kemunculan wabah virus Corona -Covid 19- dari Wuhan, Tiongkok, Desember 2019 lalu, yang sampai sekarang masih eksis hingga masuk di gang-gang perkampungan. Dunia terguncang, manusia gagap, negara gagap. Padahal bukan pertama kali dunia mengalami wabah maupun bencana. Tapi ini rasanya begitu menyengat hingga masuk ke sendi-sendi kehidupan, mengoyak dan melumpuhkan.
Pandemi ini bisa jadi cara bumi meminta perhatian kita, seolah bumi menjerit "Tolong berhentilah sebentar saja dari caramu berbuat kerusakan atasku !! ", berhentilah se-jam saja, berikan aku waktu untuk sedikit bernafas dan kesempatan bagiku untuk memulihkan sakit ku yang begitu dalam ini !! ", teriak bumi, keras sekali, hingga tak luput setiap telingan manusia mendengarkanya. Buktinya, saat ini semua sadar bahwa bumi sedang tidak dalam keadaan normal dan sehat. Semua merasakan, bahkan manusia yang lurus dan selalu bersahabat dengan bumi pun merasakan.
Kita sering lupa, akan peran kita sebagai Khalifah fi al-Ardh di muka bumi ini, kita punya peran dan tugas merawat dan menjaga bumi. Iya, tahu kita diperintahkan oleh Allah untuk makan dan minum di muka bumi ini. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah kita " dilarang" bertindak berlebihan, sehingga terjadi kerusakan dan ketidak seimbangan dan keselarasan di bumi ini. Sungguh berlebihan itu bukanlah fitrah kita sebagai manusia.
Santer, pemberitaan di TV dan juga Youtube, bahwa virus ini berasal dari kelelawar, yang saat itu ahli satwa pun ikut berkomentar, "jangan merusak ekosistem asli satwa, apalagi mengkonsumsinya, karena kita belum tahu apa yang mereka bawa" begitu kira-kira menanggapi berita yang beredar.
Memang benar, kata ahli -simak saja di youtube- bahwa kelelawar menjadi inang setidaknya ada 60 macam jenis virus - termasuk coronavirus-. Habitat asli kelelawar seperti yang biasa kita ketahui adalah di goa-goa. Sebagian manusia telah merusak habitatnya, memburu satwa liar itu, kemudian memakannya berarti sama saja dengan membuka peluang runtuhnya benteng ketahanan manusia. Karena setiap dari virus itu butuh inang, dan inang yang layak dan tepat hanyalah satwa liar, sama sekali bukan manusia.
Kita membalak pohon dengan liar, merusak hutan, membidik satwa apapun jenisnya adalah bentuk keserakahan yang musti ditinggalkan. Ternyata tidak berhenti sampai di sini sahabat, Coba tengok -ngeri- baik di youtube dan beberapa tayang di TV, ada pasar kusus yang memperjual belikan hewan-hewan liar [tikus, ular, anjing, babi, kelelawar, kalajengking, kucing, biawak dkk], saya melihatnya bisa merinding, tak habis pikir, begitu kejamnya, belum cara mereka membunuh sebelum di masak, sungguh keji. Tapi saya sadar, itulah kehidupan, sungguh lengkap. Mereka tak sebatas cukup mengoyak habitatnya saja, tetapi satwa-satwa malang itu ternyata diperjualbelikan untuk menjadi makanan yang katanya sangat lezat dan penuh tantangan. Sungguh gila.
Itulah kiranya, menjadi sebab virus kehilangan rumah alamiahnya. Mereka -virus itu- mencari rumah -inang- baru, dengan cepat bertransmisi ke tubuh manusia. Kayaknya, di sini virus itu lebih nyaman untuk berkembang biak sekaligus menunjukkan eksistensinya. Mereka tak hanya cukup meminjam tubuh manusia sebagai inangnya, tapi juga merenggut ribuan nyawa, entah sampai berapa yang akan gugur diserangnya. Mungkin hanya dengan itu cara mereka untuk "penyadaran" akan keserakahan manusia. Allah yang lebih tahu.
Fenomena ini kenyataannya sudah terlanjur, dan hanya menyisakan ruang untuk berfikir dan bertindak, bagaimana cara mengendalikan dan memutus serangan virus itu. Semua kekuatan telah dikerahkan dan tak tanggung-tanggung. Yang terpenting hanya keselamatan jiwa manusia. Segala aktivitas berhenti, pun berjalan dengan cara yang berbeda tak seperti biasanya.
Barangkali pesan yang dapat kita sepakati bersama adalah kita harus berdamai dan memperbaiki hubungan dengan alam. Sudah saatnya kita harus banyak memohon ampun kepada Sang Pemilik Alam [Allah al-Khaliq] dan memperbaiki cara hidup di bumi ini. Tidak hanya untuk mencegah virus corona namun juga untuk mencegah dan meminimalkan bencana lainnya seperti kebakaran, banjir, longsor, abrasi, dan lain sebagainya.
Punjul, Karangrejo, 20 Mei 2020

"Andai ada Tuhan selain Allah maka pasti rusak".
ReplyDeleteRusak. Rusaknya sistem semesta. Hilang keseimbangan. Jadi, setiap kerusakan pastilah berawal dari merajalelanya inkonsistensi aqidah. Bisa dalam bentuk kufur, syirik, atawa fasik. Maka pageblug covid-19 harusnya membuat kita 'dunung', bahwa tak ada kejumawaan apapun yang patut kita busungkan. Hanya oleh makhluk renik sudah cukup membuat hidup tercekik. Inilah momentum yang seharusnya bisa memaksa diri untuk rendah hati. Rendah hati yang mengantarkan kita kepada pemahaman akan kemutlakan realitas tertinggi, dan menuntun kita untuk memperkokoh solidaritas sesama penghuni bimi. Distancing, memberikan kesempatan kita untuk jeda. Tentu saja hanya yang 'menteslah' yang akan membuat kita 'mentas'. Mentas dari keterpenjaraan ragawi.
Wallahu a'lamu bi al-shawab
Njih Bopo... Suwun tambahaning wajang... Kulo taslim....
DeleteAda selaku hikmah di balik musibah
ReplyDeleteNjih Mbak...
DeleteHubungan dengan alam menentukan kehidupan manusia. Jika sekarang alam 'marah', seharusnya manusia mengevaluasi diri.
ReplyDeleteNjih Pak... Hikmah yang dapat dipetik itu...
DeleteBerfikir tanpa berdzikir. Ibarat berjalan tanpa rambu rambu. Rambu rambu selalu bicara boleh dan di larang. Jika rambu2 itu produk Tuhan, tentu melanggarnya akan membuat alam murka.
ReplyDeleteLanjuutkan...
Kudu selaras... Siap Ndan....
DeleteItu sudah 1 patagraf, tinggal 4 lagi...
Delete