google-site-verification=a29cQDLicXmx_KpxGtFuPjFzKNqoMZ3FEdNxkyQfTTk Kang Badi': Dunia Pesantren [Menggali Nilai Luhur]

Dunia Pesantren [Menggali Nilai Luhur]




Subadi

Bagi siapa saja yang pernah menyisihkan sebagian waktu dan usianya hidup di Pesantren akan tahu macam rasa-rasa kehidupan. Pahit, manis, dan asamnya hidup di Pesantren. Kehidupan di Pesantren merupakan miniatur dari kehidupan yang lebih besar dan luas, yaitu masyarakat. Terutama Pesantren salafi, yang masih konsisten menjaga tradisi kuno yang dimilikinya. Tradisi yang diwariskan secara turun temurun mulai dari awal Pesantren muncul di bumi nusantara.

Pesantren adalah pusat studi pengetahuan agama islam yang komplek, hampir semua cabang ilmu agama diajarkan di pesantren. Mulai ilmu al-Quran, al-Hadits, Fikih, Tarikh islam, Perbandingan Madzhab, Usul fikih, Ilmu Alat [Nahwu, Sharaf, Balaghah], Mantik/Logika, Ilmu Falak, dan fan -fan ilmu lainya. 

Kyai
Di Pesantren ada sosok pengasuh sentral yang disebut Kyai. Kyai ini adalah sosok yang menjadi panutan utama di Pesantren yang kedalaman ilmu agamanya sangat memadai. Seoarang Kyai biasanya tidak hanya dijadikan panutan oleh para muridnya saja, tetapi juga menjadi panutan dan rujukan masyarakat secara luas. Seorang Kyai selain orang yang alim dalam bidang agama, biasanya juga mempunyai pengarus sosial yang luas di tengah-tengah masyarakat. Perilaku keseharianya menjadi model bagi murid-muridnya. Ia adalah sosok yang sangat dihormati, disegani, dan berwibawa. Titel Kyai ini biasanya tidak atas sematan pribadi tetapi sematan kehormatan yang diberikan oleh masyarakat. Karena perjuangannya yang besar dalam berdakwah dan perhatiannya terhadap pendidikan agama Islam. Kyai mempunyai jiwa berjuang yang kokoh, harta dan hidupnya secara optimal diperuntukkan demi berdakwah. Seperti membangun Pondok pesantren, Sebagai pusat ilmu dan belajar. Rata-rata Kyai itu mempunyai murid yang tinggal/mukim di Pesanren. Tetapi, biasanya juga ada -banyak- murid yang berasal sari masyarakat sekitar, yang tidak harus mukim di lingkungan pondok. Kesimpuannya, yang termasuk murid di sini adalah semua orang yang menimba ilmu agama kepada Kyai.

santri dan Ustadz
Penyebutan soal murid, yang sudah lazim dan umum bagi orang yang menimba ilmu kepada Kyai di pesantren adalah Santri, baik mukim di Pesantren maupun tidak, semuanya adalah Santri. Santri dalam kesehariannya mempunyai tugas utama, yaitu ngaji. Baik ngaji itu langsung kepada Kyai atau kepada guru ngaji, yang disebut dengan Ustadz. Ustadz ini biasanya berasal dari keluarga Kyai, putra-putinya, kerabatnya, orang alim dari luar pondok, dan sebagian juga dari santri senior yang sudah cukup pengetahuan ilmu agamanya. Biasanya santri yang menjadi ustadz ini atas tunjukan Kyai atau pilihan hasil muasyawarah pengasuh pondok, Ustadz senior dan para putra Kyai. Sebuah keistimewaan tersendiri bagi santri yang ditujuk untuk menjadi Ustadz ini, di Pesantren tidak hanya belajar tetapi juga belajar mengamalkan ilmunya, tentu modal yang baik untuk bekal ketika sudah boyong/ pulang ke kapung halaman.

Karisma Kyai, dan Teladannya
Sosok Kyai ini sangat disegani, karena ilmu dan pengaruhnya yang besar terhadap kehidupan masyarakat, sehingga tidak heran jika sosok ini sangat disegani. Dalam hal penghormatan yang diberikan ini tidak berhenti pada Kyai saja, akan tetapi juga merambah kepada keluarganya, seperti istri Kyai yang dipanggil dengan sebutan Ibu Nyai, yang juga dihormati layaknya Kyai dan anak-anaknya yang disebut Gus dan Ning, juga disegani dan dihormati. Ini adalah sematan penghormatan. Mereka semuanya dihormati terutama oleh para santri yang menimba ilmu di Pesantren.  Penghormatan ini bukan tanpa alasan, tetapi karena termasuk prasyarat bagi santri yang ingin mendapatkan ilmu yang barokah dan lebih bermanfaat. Pemahaman ini juga termasuk bagian penting dalam kerangka thalabul ilmi/menuntut ilmu. Bagi santri menghormati Kyai dan keluarganya adalah sikap dan tindakan yang musti dikedepankan, juga kepada para Ustadz di pesantren. Terkait dengan etika Santri kepada Kyai ini banyak diterangkan di kitab yang biasanya selalu dikaji bagi siapa saja yang pernah Nyantri. Kitab itu adalah Ta'limu al-Muta'alaim, karya Azzarnuji, dan juga kitab Adabu al-Alim wa al-Mutaalim, karya Hasyim Asy'ari dan kitab-kitab adab/etika belajar lainnya. 

Kyai adalah sosok yang tidak diragukan lagi soal konsistensinya dalam mengajar ilmu agama kepada santrinya. Sebagian besar waktu yang dimiliki dicurahkan untuk menggelar pengetahuan agama. Pagi, siang dan malam waktunya kebanyakan hanya untuk  mengajar dan berdakwah. Spirit yang dimiliki Kyai untuk berdakwah begitu besar. Ke-isitiqamahan-nya dalam mengajar patut diteladani, jarang meninggalkan waktu mengajar yang sudah terjadwalkan, kecuali ada hal yang menghalangi, seperti sakit, atau ada urusan yang tidak bisa diwakilkan. Konsistensi ini, bukan hanya soal mengajar saja, tetapi juga dalam urusan ibadah, baik itu shalat wajib, maupun ibadah sunnah. Terutama selalu dikerjakan secara berjamaah, yang kita sebenarnya sudah tahu akan keutamaan shalat berjamaah ini, meskipun demikian melaksanakannya tidak semudah yang kita bayangkan, butuh komitmen yang kuat. Kyai juga termasuk orang yang ahli tirakat, seperti puasa sunnah, menyedikitkan tidur, memperbanyak munajat dan zikir. Kyai lekat dengan sifat-sifat mulia, seperti wara', sabar, jujur, amanah, istiqamah, dan sifat-sifat mulia lainnya. sehingga dari sini banyak nilai-nilai yang bisa kita contoh untuk kehidupan sehari-hari. Kita tidak boleh hanya melihat sisi keberhasilannya saja, yang musti kita lihat adalah proses yang telah dijalani hingga mengantarkannya menjadi orang yang alim dan bentuk keberhasilan yang lain.

Etika dan ahklak yang terpancar dari prilaku hidupnya patut dicontoh. Banyak hal yang bisa dijadikan teladan dari cara berbicaranya, bertindaknya dan cara bergaulnya. Semua sikap yang ditampakkan itu, hemat saya semata-mata pancaran dari ilmu yang dimilikinya. Apapun yang dikerjakan semua berlandaskan pada ilmu, sesuai tatanan nilai agama dan masyarakat. Kyai tidak banyak bicara, jika berbicara selalu jernih jauh dari menggunjing sesama. Hanya mengatakan yang penting-penting saja, bicara seperlunya. Meskipun demikian bukan berarti kyai tidak mampu berbicara dengan baik, rata-rata Kyai adalah orang yang kaya akan kemampuan berbahasa dan bertutur kata, setiap kyai mempunyai ke-khasan-nya sendiri-sendiri dalam berbahasa, Kyai mahir dalam menyampaikan pengajian panjang dan juga mempunyai jiwa humoris. Murah senyum dan berwibawa. 

Jarang sekali -bahkan tidak pernah- kita jumpai Kyai yang dalam berpakaian mengumbar aurat. Ia selalu memakai pakain yang bersih, wangi dan enak untuk dipandang. ini adalah contoh yang musti diteladani. Ya, berpakaian rapi, bersih dan menutup aurat. Cara berpakian yang baik sesuai norma ini merupakan bentuk syukur kita kepada Allah. Menyukuri nikmat badan yang sehat, dan juga sebagai cara kita menjaga kehormatan diri. Berpaian yang baik ini, musti kita tanamkan kepada anak-anak kita mulai sejak dini, terutama lagi bagi anak perempuan. Banyak kejahatan seksual yang terjadi terhadap wanita karena cara berpakaian yang tidak sopan dan senonoh. Berpakain yang yang melihatkan likuk-likut bentuk tubuh bisa mendorong timbulnya kejahatan seksual. Oleh karena itu, kita bisa melihat dunia pesantren dalam hal praktik berpakaian, baik itu cara berpakaian yang dicontohkan oleh Kyai, keluarganya, dan para santri. Semuanya menampilkan cara berpakaian yang rapi, bersih dan menutup aurat secara baik dan benar. Sesuai tata norma dan tuntunan agama.  Berpakain yang baik juga juga termasuk bagian dari cara menjaga kehormatan diri.

Kebiasaan lain dari Kyai yang musti kita renungkan adalah cara Ia makan. Jarang sekali kita ketemukan sosok Kyai yang porsi makannya banyak apalagi berlebihan. Kyai menggunakan makan sebagai bentuk syukur atas jasad yang telah diberikan oleh Allah. Makan secukupnya merupakan cara mensyukuri nikmat tubuh yang sempurna. Dengan makan yang cukup akan menghasilkan energi bagi tuhuh, energi yang musti dipergunkan untuk ibadah. Bukan untuk maksiat dan hal-hal menyimpang lainnya. Makan di sini adalah makan untuk hidup, bukan sebaliknya. Makan demi menghimpun tenaga untuk ibadah. Makan yang berlebihan juga akan berakibat buruk terhadap kesehatan, karena rata-rata penyakit yang timbul berangkat dari pola makan yang berlebihan. Dan sifat berlebihan itu tentu bukan fitrah manusia, berlebihan adalah sifat yang akrab dengan prilaku setan. Contoh akibat makan yang berlebihan bisa menimbulkan kolesterol, diabet, dan sebagianya. Oleh karena itu, demi menjaga kesehatan tubuh, makanlah secukupnya, barengi dengan niat dan doa yang benar. Cari ini layak kita teladani demi menjaga kesehatan dan ketenangan dalam beribadah.  

Model Belajar Santri
Sistem belajar yang bersifat klasik ini, masih bertahan hingga kini, ngaji madrasah diniyah, sorogan, bandongan, ngaji pasan, hafalan, dan Syawir. Waktu yang ada diprioritaskan dengan kegiatan mengaji/belajar. Setiap selesai shalat lima waktu selalu ada kegiatan belajar, yang dibimbing oleh seorang Ustadz/Guru. Dalam proses bembelajarannya metode yang digunakan adalah "semaan dan maknani", ialah seorang ustadz membacakan kitab yang dikaji dengan membacakan teks kitab sembari memberikan makna perkata dan dicatat oleh santri. Dengan sesekali Ustadz menjelaskan point-point pembahasan dan maksud dari materi kitab yang diajarkan. Proses belajar seperti ini, membutuhkan kejelian, kecerdasan akan ilmu yang menyetainya, ialah ilmu alat - nahwu dan shor0f-, tanpa penguasaan ilmu ini mustahil seorang ustadz akan mampu menyampaikan pengajarannya dengan baik. Karena kitab-kitab yang diajarkan rata-rata -bahkan semuanya- berbahasa arab. Tanpa menguasai nahwu-sharaf kayaknya mustahil akan bisa mengajar dengan baik.

Sekolah santri salaf adalah madrasah, tingkatan madrasah ini di mulai dari bangku Ibtida' 6 tahun, Tsanawi 3 tahun, dan Ulya 3 tahun. Waktu untuk belajar di madrasah biasanya setelah shalat magrib hingga masuk waktu isya', atau lebih sedikit. Waktu sekolah di madrasah tidaklah baku, tergantung setiap Pesantren mengaturnya. Pun demikian dengan kurikulumnya, setiap pesantren tentu tidak akan sama, menyesuaikan dengan tingkat kebutuhan santri dan karakteristik  pesantren pesantren itu sendiri.

Menuntut ilmu agama di Pesantren jika dilandasi dengan kegigihan dan ketekunan, dapat dimungkinkan mencapai hasil yang maksimal. Karena kajian ilmu agama yang digelar tidak hanya sebatas ngaji di madrasah saja. Tetapi banyak waktu yang bisa diikuti oleh setiap santiri. Umpamanya, setelah subuh mengaji kitab tafsir al-Quran, kemuadian disusul dengan kegiatan sorogan al-Quran. Pada waktu Dhuha biasanya masih ada kegiatan mengaji kitab yang lain. Setelah Dhuhur pasti juga ada kegiatan ngaji lagi, baik yang membacakan kitab langsung oleh Kyai atau ustadz yang lain. Masuk waktu Asar, setelah sholat mengaji lagi, bisa bermacam-macam jenis kitab yang diajarkan, bisa fan fikih, aklak, dan lain-lain. Kemudian setelah sholat Isya pasti selalu ada kegiatan mengaji lagi dengan kitab yang berbeda dengan sebelumnya. Kemuadian ada sebagian waktu yang disisihkan untuk kegiatan hafalan, lalaran, syawir/mushawarah ilmu, dan lain-lain. Sungguh kesempatan yang luar biasa bermanfaat jika mampu mengikuti dengan ketekunan dan disiplin. Masa-masa yang istimewa, kiranya hanya akan dijumpai di pesantren saja.

Sungguh, jika kesempatan yang dimiliki oleh santri itu digunakan dengan sebaik-baiknya pasti akan banyak memberi manfaat. Bisa mengantarkan menjadi orang yang alim akan ilmu-ilmu agama. Nah. kebiasaan yang seperti itu, jika sudah pulang kampung, seharusnya tidak ditinggalkan begitu saja, meskipun sudah pulang kampung musti tetap membiasakan belajar sesuai kapasitas waktu dan kesempatan yang dimiliki. Sukur-sukur bisa mengajarkan ilmunya kepada sesama. Sebagai wujud ilmu yang bermanfaat.

Senin, 18 Mei 2020

4 comments:

  1. Replies
    1. pokoke nuls dulu, sinau, nanti sambil kita barengi aktivitas membaca buku yang relevan, agar tulisan bisa tambah hidup, perlu disisipi argomentasi para pakar/ahli dibadangnya... sepertinya begitu pakde... bumbingannya terus diharapkan.

      Delete
  2. Replies
    1. sungguh kulo njih,,, di komunias menulis ini banyak manfaat untuk refleksi diri... manfaat berkumpul dengan orag-orang saleh... suwun Pak, motivasinya selalu saya harapkan...

      Delete

Terimaksih telah berkenan membaca tulisan ini, komentar anda sangat saya hargai. Semoga ada manfaatnya. amin..

𝗥𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻

𝘒𝘦𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘰𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪...