Subadi
Pagi ini udara terasa dingin, kesejukannya tak seperti hari-hari sebelumnya. Apakah memang karena pengaruh cuaca, yang hampir semalam langit menurunkan hujan, meskipun tidak deras. Pagi-pagi saat waktu shubuh tiba pun hujan rintik-rintik masih terus menyirami bumi sekitaran rumah, kayaknya satu kampung sama-sama tersiram hujan rahmat ini. Apapun yang telah Allah turunkan kepada umatnya berprasangka baik atas kehendakNya adalah suatu keniscayaan. Karena hanya Dia lah sebenarnya sebaik-baik penentu keputusan.
Di saat seperti ini, tiada kata yang lebih indah dan tepat terucap dari seorang hamba kepada Sang Pencipta selain untaian kata "Alhamdulillah" - segala puji bagi Allah- sebagai wujud syukur kepadaNya. Meskipun demikian sebagai hamba yang baik, melantunkan syukur kepadanya tidak harus menunggu keadaan lapang dan bahagia. Syukur musti terus kita persembahkan di saat dan dalam keadaaan bagaimanapun, mau lapang, mau sempit, mau susah, jangan sampai luput dari syukur. Syukur adalah wujud kesadaran kita akan anugerah yang telah diberikan olehNya, yang tak terkira itu, kesehatan dan keimanan.
Hari ini rasanya pikiran kering akan ide, ingin nulis tentang apa. Tak kunjung muncul ide yang sesuai dengan hati nurani. Memang ada beberapa gugusan ide untuk saya tulis, tetapi tidak begitu klik di hati. Sehabis subuh seperti biasanya waktu istimewa itu saya gunakan untuk membaca al-Qur'an beberapa ayat, tak pasti, kadang 1 lembar, kadang juga lebih. Yang terpenting sesalu saya sempatkan. Saya selalu meyakini bahwa membaca al-Qur'an adalah bagian dari ibadah, entah tahu akan maknanya atau tidak, selain pahala yang didapat, pembacanya akan menemukan hikmah dan manfaat yang luar biasa. Apalagi jika dikerjakan secara istiqamah. Laisal karomah illa bil istiqamah [al-Ghazali]. Tiada kemuliaan tanpa sebab istiqamah. Kegembiraan, kemudahan, dan kemuliaan.
Alhamdulillah, di saat-saat membaca al-Qur'an menemukan ayat "wa'bud rabbaka hatta ya'tiyakal yakin" surat al-Hijr ayar 99. Yang kurang lebih artinya; dan sembahlah Rabmu sampai datang kepadamu apa yang diyakini [ajal]. Ayat ini mendorong hati untuk menulis tentangnya. Ayat yang secara langsung berisi perintah untuk beribadah kepada Tuhan, yaitu Allah SWT. Sepanjang hidupnya seorang hamba hendaknya senantiasa beribadah kepada Allah SWT, tanpa putus-putus.
Ayat tersebut mengisyaratkan bahwa perjalanan menuju Allah SWT tidak mengenal batas akhir. Saat di dunia, sudah dapat di pastikan secara empirik setiap manusia yang beriman selalu beribadah kepadaNya dalam bentuk yang bermacam-macam, seperti shalat, puasa, berdoa, haji, bersujud dan bentuk persembahan lainnya.
Bentuk ibadah manusia kepada Allah, pada kenyataannya tidaklah berhenti saat hidup di dunia saja, karena di setiap persinggahan -etape- dalam rangka meniti jalan menuju tempat keabadian -akhirat- itu manusia sesalu bersinggungan dengan ibadah kepada Allah. Kenyataan ini musti dipahami oleh seorang hamba tatkala masih hidup di dunia. Sehingga ia sesalu berusaha mempersiapkan diri dengan mengumpulkan bekal berupa amal ibadah demi sukses meniti jalan menuju Rabnya.
Saat berada di alam Barszakh, manusia mempunyai bentuk ibadah tersendiri, yaitu tatkala Malaikat bertanya kepadanya; Siapakah yang engkau sembah dan apa yang engkau katakan kepada Rasulullah Muhammad ? ini adalah bentuk ibadah yang jawabannya ditunggu oleh Malaikat.
Bahkan, pada hari kiamat pun, manusia masih melakukan ibadah, yaitu saat-saat di mana Allah SWT menyeru kepada semua makhluk untuk bersujud. Maka beruntunglah bagi setiap manusia yang saat hidup di dunia selalu membiasakan diri dengan terus beribadah kepada Allah, membiasakan diri bersujud kepadaNya. Karena ketika mendengar seruan Allah di akhirat itu, mereka yang beriman kepadaNya akan bersujud dengan penuh ketaatan. Berbeda dengan mereka yang tatkala di dunia enggan bersujud -beribadah- sudah dapat dipastikan mereka akan mengabaikan perintah Allah itu, sungguh celaka.
Ketika manusia berada di surga atau di neraka, maka tidak ada lagi kewajiban selain hanya bertasbih yang dilakukan bagi penghuni surga.
Beribadah kepada Allah tidak boleh terputus, apalagi merasa sudah telah sempurna dalam menempuh perjalanan hidup dan ibadahnya. Semua orang tahu bahwa menjalankan perintah Allah tidaklah mudah. Menjalankannya, pasti membutuhkan niat yang kokoh dan komitmen yang kuat. Tanpa itu mustahil akan bisa menjalankan ibadah dengan istiqamah. Hanya orang-orang yang berserah dirilah yang akan selalu mendapatkan bimbingan dan pertolongan Allah, sehingga ia mampu menggerakkan tubuhnya dalam rangka beribadah kepadaNya.
Oleh karena itu, kita musti menyadari akan posisi kita di hadapanNya, kita adalah hamba dan Dia adalah Sang Khaliq, yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini, kita sebagai hamba sudah selayaknya patuh dan tunduk kepadaNya. Toh, semua itu, sebenarnya demi kebaikan hidup kita di dunia dan di akhirat. Ibadah adalah kebutuhan kita sebagai makhluk. Jika, kesadaran ini yang tumbuh maka seberat apapun bentuk ibadah itu, kita akan berusaha dengan sekuat tenaga menjalankannya. Tanpa rasa mengeluh apalagi menyesalinya.
Semoga kita semua, termasuk orang-orang yang diberi kemudahan dalam meniti jalan menuju Allah SWT. Amin.
Punjul-Karangrejo, 20 Mei 2020

Siip.. lanjut dan tetap smangat...
ReplyDeleteSiap... Semangat...
DeleteMantap sang murobiah ini
ReplyDeleteMateri kultum besuk... Kwkkw
DeleteSiapa yang engkau sembah tidakkah tanda tanya dulu mas?
ReplyDeleteSuwun sampun kerso moco pak... Dan terimakasih masukannya...
DeleteDamel renungan terus artikelnya tadz...👍
ReplyDeleteNjih pak... Siap....
DeleteMantabb kang
ReplyDeletesiap pak,.... lanjut
DeleteThis comment has been removed by the author.
ReplyDeleteJenengan juga semakin mantap gus... Mari mantap berjamaah gus.. Siap....
Deleteمنتاف......
ReplyDeleteSuwun pak Dos, pun kerso mampir... Monggo mantep bareng2....
DeleteBarokalloh..mantab
ReplyDeletesuwun Pak sampun kerso mampir... hehe
Delete