google-site-verification=a29cQDLicXmx_KpxGtFuPjFzKNqoMZ3FEdNxkyQfTTk Kang Badi': “BERBUAT KEBAIKAN” Jangan Diremehkan !

“BERBUAT KEBAIKAN” Jangan Diremehkan !


 [TULISAN INI ADALAH SELF MUHASSABAH SI PENULIS]

S u b a d i


Amar ma’ruf nahi munkar;

Bismillah. Saya sangat bersyukur, sudah ditakdirkan bisa berjumpa dengan para guru mulia dari kecil hingga detik ini, selain mendapat fadhilah berkumpul dengan orang-orang yang saleh, terlebih bisa menimba ilmu, meskipun hanya setetes yang mampu saya serap. Dari yang setetes itu, besar harapan dapat menambah kebaikan diri pribadi, jika dikehendaki juga bagi sesama. 

Mengingat-ingat kembali pitutur dan petunjuk guru saat belajar dulu, bagi saya ada keasyikan tersendiri. Yang kadang teringat, kadang juga lupa, malah ketika diingat-ingat, pitutur yang terlupakan seakan tak bertepi, sebab sangking banyaknya yang tidak mampu dihadirkan kembali, hari ini.

Salah dan lupa, seakan tidak bisa terhindarkan dari setiap manusia, tak lain karena keterbatasan manusia itu sendiri. Manusia memang sering lupa dan berbuat kesalahan, disengaja maupun tidak. Menyadarinya, dengan mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang sudah terjadi, yakinlah, dapat mengantarkan pada pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Ketika lupa segera kembali dan ketika salah segera memperbaiki diri.

Saat ini baru menyadari, ternyata aktivitas catat-mencatat itu tidak sekedar penting, tetapi juga sangat dibutuhkan, terlebih tentang petunjuk dan pitutur yang bisa mendorong untuk selalu berbuat kebaikan dan kemaslahatan bagi sesama. 

Seandainya saja sudah menyadarinya [catat-mencatat] sedari dulu, sangat mungkin sekarang banyak hal yang bisa untuk bahan refleksi, dan ceritanya tentu akan berbeda. Tetapi, semua sudah terjadi, terus menyesalinya barangkali bukanlah pilihan yang bijak. Saya masih sangat ingat, bahwa petanda kasih dan rahmat Allah itu tetap terbuka, selagi kita masih dimampukan untuk bernafas setiap detiknya, tiada kata terlambat bagi setiap manusia untuk terus memperbaiki dirinya.

Oleh karena itu, memulai lagi untuk membuka kembali buku-buku itu seakan menjadi kebutuhan, barangkali ini bagian dari hikmah di balik lupa dan hikmah dari aktivitas menulis. Jika demikian yang terjadi, kiranya hanya bersyukurlah yang paling indah untuk diucapkan. Dari sini jelas menulis di samping sebagai bentuk belajar, ia juga menjadi pendorong untuk berbuat sesuatu yang lebih bermanfaat. 

Ada satu kalimat yang masih tertulis rapi di pojok buku, “Jangan sampai kita meremehkan kebaikan sekecil apapun”. Kalimat ini keluar tatkala membincang tentang kewajiban amar ma’ruf nahi munkar bagi setiap muslim. Sangat tegas, setiap muslim hendaknya menyadari akan tugas mulia itu, mengajak kepada kebajikan dan mengingatkan untuk meninggalkan perkara yang dilarang oleh Syara’.

Muslim yang mempunyai pengetahuan tentang hukum dan norma agama, pantas atau saru, halal atau haram, baik atau buruk, sunnah atau wajib. Dalam kondisi bagaimapun ia tetap diperintah untuk mengingatkan jika mendapati saudaranya yang berada dalam kebatilan.

Pada saat itu dicontohkan oleh seorang guru, “ Seorang muslim yang minum-minuman keras bersama teman-temannya yang seagama, sedang ia mempunyai pengetahuan bahwa haram hukumnya minum minuman keras, pada saat itu pula [meskipun ia sendiri sedang mabuk] ia juga berkewajiban mengingatkan kepada temannya, bahwa perbuatan itu perkara yang dilarang ”.

Permisalan itu, kelihatannya aneh dan tidak mungkin untuk dilaksanakan. Jika kita renungkan, ini sebagai penanda bahwa sungguh amar ma’ruf nahi munkar itu benar-benar diperintahkan untuk dilaksanakan. Pada saat itu, jika ia tidak mengingatkan, maka ia akan mendapatkan dua dosa [ dosa murakkab], yaitu satu dosa minum khamr dan dosa yang lainnya adalah dosa meninggalkan amal ma’ruf nahi munkar, tentu sebuah kerugian yang amat sangat.


Kebaikan; dicintai dan diamalkan

Mencintai kebaikan dan mengamalkannya adalah perkara yang dikehendaki Allah. Terlebih jika kita mau menyebarkannya, didakwahkan. Pasti Allah akan menggerakkan tangan-tangan mulia yang akan menyiramkan kebaikan pada taman kehidupan kita. Tegasnya, pertolongan Allah akan selalu menyertai orang-orang yang berbuat kebajikan.

Sekecil apapun bentuk kebaikan itu, janganlah kita sampai meremehkannya. Jika kita merindukan cinta kepada orang lain, jangan pula pernah meremehkan amal yang dapat kita sumbangkan kepada orang lain. Menjadi bagian dari kelompok manusia terbaik, tidak harus kita musti menunggu kemampuan lebih untuk bisa bermanfaat bagi sesama, sekalipun kecil, jika itu kebaikan tetaplah kebaikan.

Bahkah, satu ucapan kata yang sejuk dan indah bisa menjadi obat bagi sesama. Sikap lemah lembut bisa mejadi pereda amarah, memupus dahaga, dan bisa mengikis kedengkian. Dua ribu rupiah bisa membuat bahagia orang yang meninta-minta. Sebuah kalimat motivasi bisa mengubah pesimisme menjadi optimisme, bahkan bisa mengubah hidup seseorang dari keterpurkan kepada kesuksesan. Sungguh sayang jika kita sampai meremehkan berbuat kebaikan, meskipun itu hanya sedikit, dan terlihat remeh-temeh. Tentu jika dapat lebih banyak, pasti akan sangat luar biasa.

 [“Jangan pernah meremehkan kebajikan sedikit pun walau berupa engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri ] H.R Muslim. Barangkali hadits ini sudah sangat familiar di telinga kita, sampai memberi senyuman kepada sesama pun dinilai sebagai sedekah,  attabassum shadaqah.

Jika boleh memaknai, bahwa nasihat Nabi tersebut tak lain adalah mendorong kita untuk mengerahkan segala kebajikan dengan warna-warni dan ragam tingkatannya, mulai dari yang paling mudah, sedang, dan besar. Tiada batas, semampu yang kita bisa.

Permisalan yang sangat sederhana itu juga sebagai penanda bahwa hendaknya dalam 24 jam waktu yang kita miliki jangan sampai kita terlewat untuk berbuat kebajikan kepada sesama, sekecil apapun itu. Berbuat kebajikan niscaya dilakukan secara terus menerus, apapun bentuk dan derajatnya. Tiada hari tanpa kebajikan.

Banyak orang yang hidupnya kian teratur, kita bisa belajar dari mereka, banyak permisalan yang tersajikan di dunia ini, orang dekat, para tokoh, dan lain sebagainnya. Pasti mereka punya agenda harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Sebuah agenda yang menjadi panduan dan aktivitas yang dilakukan untuk diri, keluarga, serta berkontribusi untuk kaum muslimin. Coba sejenak kita heningkan pikir dan hati kita, insyaallah kita akan menemukan jawabannya, sangat dekat.

Sungguh penting kita sadari bahwa selain makhluk individu, kita adalah makhluk sosial. Jika kita tidak mampu untuk memuji sesama, setidaknya jangan sampai kita mencelanya, jika kita tak sanggup membahagiakannya jangan sampai kita menyusahkannya, begitu dan seterusnya. Akan tetapi, Jika kita bisa berbuat kebaikan untuk sesama, mengapa kita musti menghindarinya, tatkala lapang maupun dalam kesempitan.

Walhasil ; satu sikap mendasar yang harus diperjuangkan dan ditempuh seorang muslim adalah menebar kebaikan, manfaat, kesetiakawanan, dan berjuang sekeras-kerasnya untuk menjemput Sa’idun fiddunya wa sa’idun fil akhirah. Wallahu a’alam bisshowab.

Punjul, 11 Juni 2020.












No comments:

Post a Comment

Terimaksih telah berkenan membaca tulisan ini, komentar anda sangat saya hargai. Semoga ada manfaatnya. amin..

𝗥𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻

𝘒𝘦𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘰𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪...