![]() |
| [TULISAN INI ADALAH SELF MUHASSABAH SI PENULIS] |
S u b a d i
Amar ma’ruf nahi munkar;
Bismillah. Saya sangat bersyukur, sudah ditakdirkan bisa berjumpa
dengan para guru mulia dari kecil hingga detik ini, selain mendapat fadhilah
berkumpul dengan orang-orang yang saleh, terlebih bisa menimba ilmu,
meskipun hanya setetes yang mampu saya serap. Dari yang setetes
itu, besar harapan dapat menambah kebaikan diri pribadi, jika dikehendaki juga
bagi sesama.
Mengingat-ingat kembali pitutur dan petunjuk guru
saat belajar dulu, bagi saya ada keasyikan tersendiri. Yang kadang teringat,
kadang juga lupa, malah ketika diingat-ingat, pitutur yang terlupakan
seakan tak bertepi, sebab sangking banyaknya yang tidak mampu dihadirkan
kembali, hari ini.
Salah dan lupa, seakan tidak bisa terhindarkan dari
setiap manusia, tak lain karena keterbatasan manusia itu sendiri. Manusia
memang sering lupa dan berbuat kesalahan, disengaja maupun tidak. Menyadarinya,
dengan mengambil hikmah dari setiap peristiwa yang sudah terjadi, yakinlah, dapat
mengantarkan pada pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Ketika lupa segera
kembali dan ketika salah segera memperbaiki diri.
Saat ini baru menyadari, ternyata aktivitas catat-mencatat itu tidak
sekedar penting, tetapi juga sangat dibutuhkan, terlebih tentang petunjuk dan pitutur
yang bisa mendorong untuk selalu berbuat kebaikan dan kemaslahatan bagi
sesama.
Seandainya saja sudah menyadarinya [catat-mencatat]
sedari dulu, sangat mungkin sekarang banyak hal yang bisa untuk bahan refleksi,
dan ceritanya tentu akan berbeda. Tetapi, semua sudah terjadi, terus
menyesalinya barangkali bukanlah pilihan yang bijak. Saya masih sangat ingat,
bahwa petanda kasih dan rahmat Allah itu tetap terbuka, selagi kita masih
dimampukan untuk bernafas setiap detiknya, tiada kata terlambat bagi setiap manusia
untuk terus memperbaiki dirinya.
Oleh karena itu, memulai lagi untuk membuka kembali
buku-buku itu seakan menjadi kebutuhan, barangkali ini bagian dari hikmah di
balik lupa dan hikmah dari aktivitas menulis. Jika demikian yang
terjadi, kiranya hanya bersyukurlah yang paling indah untuk diucapkan. Dari
sini jelas menulis di samping sebagai bentuk belajar, ia juga menjadi pendorong
untuk berbuat sesuatu yang lebih bermanfaat.
Ada satu kalimat yang masih tertulis rapi di pojok buku,
“Jangan sampai kita meremehkan kebaikan sekecil apapun”. Kalimat ini keluar
tatkala membincang tentang kewajiban amar ma’ruf nahi munkar bagi setiap
muslim. Sangat tegas, setiap muslim hendaknya menyadari akan tugas mulia itu,
mengajak kepada kebajikan dan mengingatkan untuk meninggalkan perkara yang
dilarang oleh Syara’.
Muslim yang mempunyai pengetahuan tentang hukum dan norma
agama, pantas atau saru, halal atau haram, baik atau buruk, sunnah atau
wajib. Dalam kondisi bagaimapun ia tetap diperintah untuk mengingatkan jika mendapati
saudaranya yang berada dalam kebatilan.
Pada saat itu dicontohkan oleh seorang guru, “ Seorang
muslim yang minum-minuman keras bersama teman-temannya yang seagama, sedang ia mempunyai
pengetahuan bahwa haram hukumnya minum minuman keras, pada saat itu pula
[meskipun ia sendiri sedang mabuk] ia juga berkewajiban mengingatkan kepada
temannya, bahwa perbuatan itu perkara yang dilarang ”.
Permisalan itu, kelihatannya aneh dan tidak mungkin untuk
dilaksanakan. Jika kita renungkan, ini sebagai penanda bahwa sungguh amar
ma’ruf nahi munkar itu benar-benar diperintahkan untuk dilaksanakan. Pada saat
itu, jika ia tidak mengingatkan, maka ia akan mendapatkan dua dosa [ dosa
murakkab], yaitu satu dosa minum khamr dan dosa yang lainnya adalah
dosa meninggalkan amal ma’ruf nahi munkar, tentu sebuah kerugian yang amat
sangat.
Kebaikan; dicintai dan diamalkan
Mencintai kebaikan dan mengamalkannya adalah perkara yang
dikehendaki Allah. Terlebih jika kita mau menyebarkannya, didakwahkan. Pasti Allah
akan menggerakkan tangan-tangan mulia yang akan menyiramkan kebaikan pada taman
kehidupan kita. Tegasnya, pertolongan Allah akan selalu menyertai orang-orang
yang berbuat kebajikan.
Sekecil apapun bentuk kebaikan itu, janganlah kita sampai
meremehkannya. Jika kita merindukan cinta kepada orang lain, jangan pula pernah
meremehkan amal yang dapat kita sumbangkan kepada orang lain. Menjadi bagian dari
kelompok manusia terbaik, tidak harus kita musti menunggu kemampuan lebih untuk
bisa bermanfaat bagi sesama, sekalipun kecil, jika itu kebaikan tetaplah
kebaikan.
Bahkah, satu ucapan kata yang sejuk dan indah bisa
menjadi obat bagi sesama. Sikap lemah lembut bisa mejadi pereda amarah, memupus
dahaga, dan bisa mengikis kedengkian. Dua ribu rupiah bisa membuat bahagia
orang yang meninta-minta. Sebuah kalimat motivasi bisa mengubah pesimisme
menjadi optimisme, bahkan bisa mengubah hidup seseorang dari keterpurkan
kepada kesuksesan. Sungguh sayang jika kita sampai meremehkan berbuat kebaikan,
meskipun itu hanya sedikit, dan terlihat remeh-temeh. Tentu jika dapat lebih
banyak, pasti akan sangat luar biasa.
[“Jangan pernah meremehkan kebajikan sedikit pun
walau berupa engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri ] H.R
Muslim. Barangkali hadits ini
sudah sangat familiar di telinga kita, sampai memberi senyuman kepada
sesama pun dinilai sebagai sedekah, attabassum shadaqah.
Jika boleh memaknai, bahwa nasihat Nabi tersebut tak lain
adalah mendorong kita untuk mengerahkan segala kebajikan dengan warna-warni dan
ragam tingkatannya, mulai dari yang paling mudah, sedang, dan besar. Tiada batas,
semampu yang kita bisa.
Permisalan yang sangat sederhana itu juga sebagai penanda
bahwa hendaknya dalam 24 jam waktu yang kita miliki jangan sampai kita terlewat
untuk berbuat kebajikan kepada sesama, sekecil apapun itu. Berbuat kebajikan
niscaya dilakukan secara terus menerus, apapun bentuk dan derajatnya. Tiada hari
tanpa kebajikan.
Banyak orang yang hidupnya kian teratur, kita bisa belajar
dari mereka, banyak permisalan yang tersajikan di dunia ini, orang dekat, para
tokoh, dan lain sebagainnya. Pasti mereka punya agenda harian, mingguan,
bulanan, bahkan tahunan. Sebuah agenda yang menjadi panduan dan aktivitas
yang dilakukan untuk diri, keluarga, serta berkontribusi untuk kaum muslimin. Coba
sejenak kita heningkan pikir dan hati kita, insyaallah kita akan menemukan
jawabannya, sangat dekat.
Sungguh penting kita sadari bahwa selain makhluk
individu, kita adalah makhluk sosial. Jika kita tidak mampu untuk memuji
sesama, setidaknya jangan sampai kita mencelanya, jika kita tak sanggup
membahagiakannya jangan sampai kita menyusahkannya, begitu dan seterusnya. Akan
tetapi, Jika kita bisa berbuat kebaikan untuk sesama, mengapa kita musti menghindarinya,
tatkala lapang maupun dalam kesempitan.
Walhasil ; satu
sikap mendasar yang harus diperjuangkan dan ditempuh seorang muslim adalah
menebar kebaikan, manfaat, kesetiakawanan, dan berjuang sekeras-kerasnya untuk
menjemput Sa’idun fiddunya wa sa’idun fil akhirah. Wallahu a’alam
bisshowab.
Punjul, 11 Juni 2020.

No comments:
Post a Comment
Terimaksih telah berkenan membaca tulisan ini, komentar anda sangat saya hargai. Semoga ada manfaatnya. amin..