| Innamal a'malu binniyat |
S U B A D
I
Kita sebagai orang muslim, sangat tidak asing dengan kata thalabul ilmi [ menuntut ilmu ]. Kita juga menyadari bahwa thalabul ilmi merupakan bagian
dari kewajiban bagi setiap orang muslim, laki-laki maupun perempuan. Bahkan jika kita cermati pada hadits yang menyatakan kewajiban thalabul ilmi itu, wajib diwakili oleh kata "faridhatun", yang menghadirkan pesan bahwa wajibnya thalbul ilmi itu adalah "sangat". Sebab dengan
ilmu seseorang tidak hanya akan terhindar dari sifat kebodohan. Tetapi juga
akan semakin mempertegas bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna di antara
makhluk-makhluk Allah yang lain. Dengan ilmu manusia akan mengenali dirinya dan juga Tuhannya.
Manusia
diciptakan oleh Allah di muka bumi ini, semata-mata hanya untuk mengabdi dan
menyembah kepadaNya. Cara manusia mengabdi kepada Allah tentu bentuknya
beraneka ragam, mulai mendirikan shalat, puasa, haji, zakat, berdo’a, dan lain
sebagainya. Secara fikih semua bentuk ibadah itu akan sempurna jika
disertai dengan niat yang benar, bahkan niat menjadi kunci keabsahan suatu
ibadah. Seperti ibadah shalat, niat adalah rukun yang wajib dihadirkan.
Dengan
demikian, thalabul ilmi menjadi bagian dari hidup kita yang sangat penting,
kususnya ilmu agama, karena kita akan menimba ilmu pengetahuan tentang tata
cara beribadah yang benar sesuai hukum dan tatanan syariat. Dengan cara
itu, ibadah yang kita kerjakan akan sesuai dengan tuntunan yang telah dicontohkan
oleh Nabi Muhammad dan para shahabatnya. Tegasnya, kita tidak akan bisa melihat
langsung cara Nabi beribadah, satu-satunya jalan adalah mengetahui dengan ilmu.
Dalam
hal ini, saya mengajak kepada diri saya sendiri dan generasi muslim, untuk
semakin giat dalam thalabul ilmi. Jangan hanya puas dengan pengetahuan
umum saja, pengetahuan agama juga tidak kalah pentingnya untuk kita dapatkan,
semata-mata sebagai ihtiyar untuk
menyempurnakan cara kita mengabdi dan menyembah kepada Allah Ta’ala.
Niat
dalam konteks ibadah merupakan hal yang paling pokok, keberadaannya
menjadi rukun setiap ibadah. Rukun berarti suatu pekerjaan yang
harus dihadirkan dalam ibadah, jika ia ditinggalkan maka ibadah yang sedang kita
dirikan menjadi cacat dari kesempurnaan, bahkan tidak terbilang ibadah atau
ibadah yang tidak sah.
Di
sini, secara spesifik, saya tidak akan membincang tentang niat yang
bagian dari rukun suatu ibadah. Seperti shalat, puasa, haji, dan ibadah
lainnya. Sebab, secara umum niat dalam ibadah tersebut telah kita sadari bahwa
menghadirkannya adalah bagian dari rukun ibadah. Di samping juga telah banyak
dibincang dalam fan fikih. Akan tetapi dalam kesempatan ini, secara
kusus saya akan sedikit membincang pentingnya menghadirkan niat di setiap
aktivitas kita sehari-hari, yang wujud amaliayahnya seakan terlihat
bukan bagian dari bentuk ibadah. Hanya sebatas amal atau aktivitas yang nampak baik
dan saleh saja.
Ada
satu dasar hadits yang sudah populer di antara kita, yang artinya “ Dari
Amirul Mukminin, Abi Hafs, Umar bin al-Khattab r.a, dia berkata : saya
mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya setiap perbuatan bergantung
niatnya. Barangsiap hijrah [ingin mendapatkan keridaan] Allah dan RasulNya,
maka hijrahnya kepada [keridaan] Allah dan RasulNya. Adapun siapa yang hijrah
karena dunia yang dikehendakinya atau wanita yang ingin dia nikahinya, maka
hijrahnya [akan bernilai] sebagaimana yang dia niatkan”.
Hadits
di atas adalah salah satu dalil yang banyak digunakan oleh para ulama’ dan imam
mujtahid untuk mendasari sebuah amal ibadah. Suatu amal ibadah akan
dianggap sah jika pelakunya dalam prakteknya selalu menghadirkan niat. Bahkan, Imam
syafi’i telah memasukkan hadits tersebut ke dalam 70 bab pembahasan fikihnya.
Ini bagi saya sebagai penanda bahwa niat merupakan hal yang sangat urgen
untuk setiap amal kita. Secara terperinci
bisa dilihat di kitab Ashbah Wan Nadhair, karya al-Imam Jalaluddin
as-Suyuthi, hal 11.
Hadits
tersebut, menjelaskan bahwa sahnya beberapa perkara atau amal selalu tergantung
pada niat pelakunya. Bila niatnya karena Allah dan Rasulnya, maka bisa mendapat
keberkahan atau pahala. Begitu juga, jika niatnya karena wanita atau urusan
dunia maka yang didapatkan adalah sesuai apa yang diniatkan. Tegasnya, tidak mendapat keberkahan apalagi pahala. Niat
selalu didasari iman dan Semata-mata karena Allah semata.
Jika
amal itu bentuknya berupa ibadah, menghadirkan niat seakan sudah menjadi maklum bagi kita. Tegasnya, dalam setiap ibadah yang kita laksanakan senantiasa selalu kita
sertai dengan niat, seperti whudu, shalat, puasa, zakat, dan lain-lain. Tetapi,
sering tidak kita sadari bahwa perbuatan-perbuatan atau aktivitas yang dhahirnya bukan
ibadah, sering kita kerjakan tanpa menghadirkan niat di dalamnya. Padahal
jika kita berniat karena Allah di dalam setiap pekerjaan kita, tentu selain
pekerjaan menjadi semakin berkah, insyaallah kita juga akan mendapat pahala
dari Allah Ta’ala, atas apa yang kita kerjakan itu, selagi yang kita kerjakan
adalah amal atau aktivitas yang baik.
Misalanya,
mencuci, mengepel, makan, mandi, sekolah, silaturrahim, belajar, menjenguk
orang sakit, dan lain sebagainya. Semua itu, jika diawali dengan ikhlas karena
Allah, maka insyaallah akan mendapat keberkahan dunia dan akhirat. Jadi sebenarnya
pahala itu mudah dicari. Tinggal bagaimana kita pandai-pandai menumbuhkan niat
ikhlas di dalam hati. Niat dalam hal ini menjadi kunci diperolehnya pahala dari
setiap aktivitas yang kita kerjakan.
Beberapa
contoh cara niat di dalam aktivitas sehari-hari ;
1.
Makan ; Niat
ingsun makan supaya lebih tegar dan semangat dalam menjalankan shalat lillahi
ta’ala. Atau niat ingsun makan lillahi ta’ala, dan lain-lain.
Insyaallah setiap kita menelan makanan akan bernilai pahala.
2.
Mencuci atau
mengepel ; Niat ingsun mencuci
pakaian dan mengepel demi meringankan beban orang tua lillahi ta’ala. Atau
niat ingsun mencuci pakaian
supaya bersih saat melaksanakan shalat lillahi ta’ala, dan lain-lain. Dan
insyaallah setiap gerakan mencuci atau mengepel akan dihitung atau bernilai
pahala.
3.
Sekolah atau belajar ; Niat ingsun thalabul ilmi lillahi ta’ala. Insyaallah
apa yang kita pelajari akan lebih mudah diterima, dan apa yang kita lakukan
akan bernilai pahala.
4.
Menjenguk orang sakit ; Niat ingsung menjenguk orang sakit agar
mempererat tali silaturrahim lillahi ta’ala. Insyaallah datang kita
kepada saudara kita yang sakit juga akan bernilai ibadah.
5.
Menulis/ membaca ; Niat ingsun menggunakan waktu supaya lebih
bermanfaat lillahi ta’ala. Atau Niat ingsun thalabul ilmi dengan
cara literasi lillahi ta’ala. Atau Niat ingsun menulis untuk berbagi dengan sesama lillahi ta'ala. Insyaallah setiap apa yang kita kerjakan
akan bernilai pahala.
6.
Dan lain-lain sesuai dengan niat dan keinginan anda.
Walhasil;
Sebagai manusia kita hanya bisa berihtiyar. Dan Niat itu adalah sesuatu
yang mudah diucapkan yang bisa menjadikan amal atau aktifitas kita tidak hanya
berkah tetapi juga bernilai pahala. Wallahu a’lam bisshowab.
Punjul,
Jum’at, 12 Juni 2020.
No comments:
Post a Comment
Terimaksih telah berkenan membaca tulisan ini, komentar anda sangat saya hargai. Semoga ada manfaatnya. amin..