google-site-verification=a29cQDLicXmx_KpxGtFuPjFzKNqoMZ3FEdNxkyQfTTk Kang Badi': BERAMAL, JANGAN LUPAKAN NIAT [ Niat Kunci Keberkahan dan Sumber Pahala ]

BERAMAL, JANGAN LUPAKAN NIAT [ Niat Kunci Keberkahan dan Sumber Pahala ]


Innamal a'malu binniyat


S U B A D I

Kita sebagai orang muslim, sangat tidak asing dengan kata thalabul ilmi [ menuntut ilmu ]. Kita juga menyadari bahwa thalabul ilmi merupakan bagian dari kewajiban bagi setiap orang muslim, laki-laki maupun perempuan. Bahkan jika kita cermati pada hadits yang menyatakan kewajiban thalabul ilmi itu, wajib diwakili oleh kata "faridhatun", yang menghadirkan pesan bahwa wajibnya thalbul ilmi itu adalah "sangat". Sebab dengan ilmu seseorang tidak hanya akan terhindar dari sifat kebodohan. Tetapi juga akan semakin mempertegas bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna di antara makhluk-makhluk Allah yang lain. Dengan ilmu manusia akan mengenali dirinya dan juga Tuhannya.

Manusia diciptakan oleh Allah di muka bumi ini, semata-mata hanya untuk mengabdi dan menyembah kepadaNya. Cara manusia mengabdi kepada Allah tentu bentuknya beraneka ragam, mulai mendirikan shalat, puasa, haji, zakat, berdo’a, dan lain sebagainya. Secara fikih semua bentuk ibadah itu akan sempurna jika disertai dengan niat yang benar, bahkan niat menjadi kunci keabsahan suatu ibadah. Seperti ibadah shalat, niat adalah rukun yang wajib dihadirkan.

Dengan demikian, thalabul ilmi menjadi bagian dari hidup kita yang sangat penting, kususnya ilmu agama, karena kita akan menimba ilmu pengetahuan tentang tata cara beribadah yang benar sesuai hukum dan tatanan syariat. Dengan cara itu, ibadah yang kita kerjakan akan sesuai dengan tuntunan yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan para shahabatnya. Tegasnya, kita tidak akan bisa melihat langsung cara Nabi beribadah, satu-satunya jalan adalah mengetahui dengan ilmu.  

Dalam hal ini, saya mengajak kepada diri saya sendiri dan generasi muslim, untuk semakin giat dalam thalabul ilmi. Jangan hanya puas dengan pengetahuan umum saja, pengetahuan agama juga tidak kalah pentingnya untuk kita dapatkan, semata-mata sebagai ihtiyar  untuk menyempurnakan cara kita mengabdi dan menyembah kepada Allah Ta’ala.

Niat dalam konteks ibadah merupakan hal yang paling pokok, keberadaannya menjadi rukun setiap ibadah. Rukun berarti suatu pekerjaan yang harus dihadirkan dalam ibadah, jika ia ditinggalkan maka ibadah yang sedang kita dirikan menjadi cacat dari kesempurnaan, bahkan tidak terbilang ibadah atau ibadah yang tidak sah.

Di sini, secara spesifik, saya tidak akan membincang tentang niat yang bagian dari rukun suatu ibadah. Seperti shalat, puasa, haji, dan ibadah lainnya. Sebab, secara umum niat dalam ibadah tersebut telah kita sadari bahwa menghadirkannya adalah bagian dari rukun ibadah. Di samping juga telah banyak dibincang dalam fan fikih. Akan tetapi dalam kesempatan ini, secara kusus saya akan sedikit membincang pentingnya menghadirkan niat di setiap aktivitas kita sehari-hari, yang wujud amaliayahnya seakan terlihat bukan bagian dari bentuk ibadah. Hanya sebatas amal atau aktivitas yang nampak baik dan saleh saja.

Ada satu dasar hadits yang sudah populer di antara kita, yang artinya “ Dari Amirul Mukminin, Abi Hafs, Umar bin al-Khattab r.a, dia berkata : saya mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya setiap perbuatan bergantung niatnya. Barangsiap hijrah [ingin mendapatkan keridaan] Allah dan RasulNya, maka hijrahnya kepada [keridaan] Allah dan RasulNya. Adapun siapa yang hijrah karena dunia yang dikehendakinya atau wanita yang ingin dia nikahinya, maka hijrahnya [akan bernilai] sebagaimana yang dia niatkan”.

Hadits di atas adalah salah satu dalil  yang banyak digunakan oleh para ulama’ dan imam mujtahid untuk mendasari sebuah amal ibadah. Suatu amal ibadah akan dianggap sah jika pelakunya dalam prakteknya selalu menghadirkan niat. Bahkan, Imam syafi’i telah memasukkan hadits tersebut ke dalam 70 bab pembahasan fikihnya. Ini bagi saya sebagai penanda bahwa niat merupakan hal yang sangat urgen untuk setiap amal kita.  Secara terperinci bisa dilihat di kitab Ashbah Wan Nadhair, karya al-Imam Jalaluddin as-Suyuthi, hal 11.

Hadits tersebut, menjelaskan bahwa sahnya beberapa perkara atau amal selalu tergantung pada niat pelakunya. Bila niatnya karena Allah dan Rasulnya, maka bisa mendapat keberkahan atau pahala. Begitu juga, jika niatnya karena wanita atau urusan dunia maka yang didapatkan adalah sesuai apa yang diniatkan. Tegasnya,  tidak mendapat keberkahan apalagi pahala. Niat selalu didasari iman dan Semata-mata karena Allah semata.

Jika amal itu bentuknya berupa ibadah, menghadirkan niat seakan sudah menjadi maklum bagi kita. Tegasnya, dalam setiap ibadah yang kita laksanakan senantiasa selalu kita sertai dengan niat, seperti whudu, shalat, puasa, zakat, dan lain-lain. Tetapi, sering tidak kita sadari bahwa perbuatan-perbuatan atau aktivitas yang dhahirnya bukan ibadah, sering kita kerjakan tanpa menghadirkan niat di dalamnya. Padahal jika kita berniat karena Allah di dalam setiap pekerjaan kita, tentu selain pekerjaan menjadi semakin berkah, insyaallah kita juga akan mendapat pahala dari Allah Ta’ala, atas apa yang kita kerjakan itu, selagi yang kita kerjakan adalah amal atau aktivitas yang baik.

Misalanya, mencuci, mengepel, makan, mandi, sekolah, silaturrahim, belajar, menjenguk orang sakit, dan lain sebagainya. Semua itu, jika diawali dengan ikhlas karena Allah, maka insyaallah akan mendapat keberkahan dunia dan akhirat. Jadi sebenarnya pahala itu mudah dicari. Tinggal bagaimana kita pandai-pandai menumbuhkan niat ikhlas di dalam hati. Niat dalam hal ini menjadi kunci diperolehnya pahala dari setiap aktivitas yang kita kerjakan.

Beberapa contoh cara niat di dalam aktivitas sehari-hari ;

1.     Makan ; Niat ingsun makan supaya lebih tegar dan semangat dalam menjalankan shalat lillahi ta’ala. Atau niat ingsun makan lillahi ta’ala, dan lain-lain. Insyaallah setiap kita menelan makanan akan bernilai pahala.
2.    Mencuci atau mengepel ; Niat ingsun mencuci pakaian dan mengepel demi meringankan beban orang tua lillahi ta’ala. Atau niat ingsun  mencuci pakaian supaya bersih saat melaksanakan shalat lillahi ta’ala, dan lain-lain. Dan insyaallah setiap gerakan mencuci atau mengepel akan dihitung atau bernilai pahala.
3.   Sekolah atau belajar ; Niat ingsun thalabul ilmi lillahi ta’ala. Insyaallah apa yang kita pelajari akan lebih mudah diterima, dan apa yang kita lakukan akan bernilai pahala.
4.   Menjenguk orang sakit ; Niat ingsung menjenguk orang sakit agar mempererat tali silaturrahim lillahi ta’ala. Insyaallah datang kita kepada saudara kita yang sakit juga akan bernilai ibadah.
5.    Menulis/ membaca ; Niat ingsun menggunakan waktu supaya lebih bermanfaat lillahi ta’ala. Atau Niat ingsun thalabul ilmi dengan cara literasi lillahi ta’ala. Atau Niat ingsun menulis untuk berbagi dengan sesama lillahi ta'ala. Insyaallah setiap apa yang kita kerjakan akan bernilai pahala.
6.   Dan lain-lain sesuai dengan niat dan keinginan anda.

Walhasil; Sebagai manusia kita hanya bisa berihtiyar. Dan Niat itu adalah sesuatu yang mudah diucapkan yang bisa menjadikan amal atau aktifitas kita tidak hanya berkah tetapi juga bernilai pahala. Wallahu a’lam bisshowab.

Punjul, Jum’at, 12 Juni 2020.

No comments:

Post a Comment

Terimaksih telah berkenan membaca tulisan ini, komentar anda sangat saya hargai. Semoga ada manfaatnya. amin..

𝗥𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻

𝘒𝘦𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘰𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪...