google-site-verification=a29cQDLicXmx_KpxGtFuPjFzKNqoMZ3FEdNxkyQfTTk Kang Badi': Belajar dari "Sangu" [ Uang Saku]

Belajar dari "Sangu" [ Uang Saku]


Subadi

Jaman sekarang rasanya tidak ada anak sekolah yang tanpa sangu saat pergi ke sekolah. Seandainya ada, bisa dipastikan hanya sedikit sekali, kalau dihitung kayaknya tak sebanding dengan jumlah yang membawa sangu. Pasti yang besangu akan jauh lebih banyak. Sangu untuk sekedar membeli jajanan ringan, semisal permen, gorengan, es lilis, atau yang lainnya.  Kendatipun ada yang tak membawa sangu biasanya dari rumah oleh ibuk atau ayahnya sudah disiapkan jajan atau makanan ringan yang dimasukkan ke dalam tasnya, sembari berpesan "Nak nanti tak usah njajan ya di sekolah, ini bekal jajan sudah ada di tas kamu, nanti bisa dinikmati saat istirahat, bisa juga berbagi sama teman sebangkumu ! ". Pesan Ibu kepada anaknya. Itu, yang dibekali dari rumah, biasanya hanya terjadi di sekolah yang melarang siswanya membawa sangu. Dilarang karena beberapa pertimbangan, seperti sekolah yang berada di pinggir jalan raya atau sekolah yang memang tidak ada fasilitas kantin yang berjualan jajanan ringan, atau mungkin beberapa pertimbangan keamanan kesehatan. Intinya siswa tidak diperkenankan membawa sangu karena alasan yang lebih masuk akal. Pertimbangan kesehatan dan keamanan siswa. Atau mungkin juga alasan yang lain, seperti melatih hidup hemat dan alasan-alasan yang lain.

Tetapi sejauh yang saya amati rata-rata anak sekolah, mulai tingkat TK, SD hingga Perguruan Tinggi pun, yang namanya aktivitas njajan tetap saja ada. Pokoknya, siswa saat di sekolah makan jajan. Entah itu beli saat istirahat di sekolah atau makan jajan bekal dari rumah. Yah, asiknya njajan itu memang terasa, bagi yang pernah sekolah kayaknya pasti tak asing yang namanya njajan. Bayangkan saja jika saat istirahat, teman-teman yang lain lagi makan jajan, terus kamu tidak ? tentu pikiran ini akan sedikit terganggu, ada keinginan untuk bisa seperti teman-teman yang lain, makan jajan. Bahkan tak jarang juga anak-anak yang tidak bisa menikmati makan jajan layaknya teman-teman yang lain, ia dari kejauhan hanya bisa menyaksikan temannya yang sambil canda gurau ditemani sebungkus jajan yang renyah, terkadang lidah bisa bergoyang sendiri, air liur bercucuran sendiri, bahkan air mata pun tak jarang juga bisa menetes "brebes mili". Mau mendekat saja butuh mikir, apalagi kalau teman yang makan jajan itu tak punya jiwa dermawan, tak mau berbagi, lebih nyesek lagi. he he he.

Bicara soal sangu, memang ada kesan tersendiri. Jaman sekarang setiap orang tua kayaknya gak tega kalau anaknya pergi sekolah tidak dibekali uang jajan, sangu. Bagi anak sekolah njajan saat istirahat kayaknya sudah menjadi keharusan, kebutuhan yang musti terpenuhi, rutinitas saat istirahat tiba. Tak jarang, sama teman yang lain saling lihat dan tanya "ehh... jajanmu apa? bekalmu apa?,  yang kayak gini biasanya terjadi pada anak-anak usia dini, TK dan SD. Tetapi kalo anak-anak SMP, SMA dan Kuliahan kayaknya gak sampek segitunya. Kalo terpakasa ada, ya bisa jadi ada saraf yang tidak pada posisinya, alias anak dewasa yang hatinya masih lembut kayak anak TK. Tapi ini sangat jarang sekali, nyaris tak ada.

Setiap orang tua, pasti memikirkan soal anaknya di sekolah, saat jam istirahat tiba. Waktu dimana satu sama lain saling bersosialisasi, berkumpul-kumpul, bermain bersama-sama. Kayaknya waktu istirahat adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh kebanyakan anak sekolah, bisa bersantai, bisa bermain-main besama teman, dan tentunya waktu njajan di penjual pinggir jalan atau di kantin sekolah, jika disediakan. Orang tua yang punya perhatian lebih akan berfikir tentang hal itu, terutama soal  Seandainya anaknya tidak dibelaki jajan atau sangu, apa yang akan terjadi kepada anaknya ? rata-rata orang tua akan sangat kasihan, tak tega sampai anaknya tak makan jajan,  dan lain sebagainya. Maka memberi sangu bagi orang tua seperti kewajiban tersendiri untuk anak, yang musti dipenuhi, meskipun jumlahnya tidak banyak Setidaknya bisa untuk "tombo melek" bagi anaknya saat teman-temanya juga njajan. Sehingga sangu ini bisa menjadi tambahan spirit percaya diri bagi anak saat di sekolah. Sedikit tak apa, setidaknya sudah bisa untuk sama-sama menikmati jajan layaknya teman-teman yang lain. 

Itu, gambaran anak sekarang...

Setiap dari kita pasti punya pengalamannya masing-masing, selaras dengan keadaan sosial orang tua masing-masing. Soal Sangu ini biasanya tak lepas dari keadaan kemampuan orang tua, kalo orang tua termasuk kaya, biasanya sangunya juga lumayan, kalau keadaannya biasa-biasa saja yang seadanya, kadang juga bisa luput dari sangu. Kalau keadaan orang tua yang kurang mampu, malah jarang dibelaki sangu, uang SPP saja nunggak-nunggak apalagi sampai nyangoni. Sangu memang tidak menentu. Tetapi jaman sekarang kayaknya tak ada anak sekolah sampai tak sangu, sekali lagi kecuali hanya sedikit sekali. Anak-anak sekarang musti banyak bersyukurnya karena tiapa kali berangkat sekolah hampir tak lekang dari sangu ini. Selalu ada, tinggal kode orang tua, cairlah sangu itu. Bahkan tanpa kode pun, ayah atau ibu nya sudah siaga untuk memberikan. Ini nak sangu nya. Jajan yang baik-baik ya!,  pesan begitu sembari memberikan sangu.

Bicaa soal kemampuan orang tua, sebenarnya orang tua saya tak susah-susah amat, hari-hari kerjanya kalo gak ke sawah ya ke ladang. Kalau gak ke ladang ya ke bukit - alas- . Kalo gak ke bukit ya ke laut, karena memang selain petani kecil-kecilan juga seorang pelaut. Jadi saya ini selain anak seorang petani juga anak seorang pelaut juga. Yang hampir tiap hari dulu bapak pergi ke laut, untuk mengail ikan. Alhmdulillah... selain hasil bumi dari bercocok tanam yang di dapat, juga hasil laut layaknya ikan dan sejnisnya. Bukan pelaut besar sih, hanya mengail ikan pakai perahu kecil yang hanya cukup dinaiki sendirian. Jangan berfikir yang lebih, hanya digerakkan pakai dayung panjang, yang disebut dengan "welah". Welah ini terbuat dari pohon aren, "luyung", sangat kuat, berat, dan tahan lama. Jadi sebenarnya hasilnya dari bertani dan melaut ini, cukup untuk biaya dapur harian, modah buwuh "mbecek" dan tentunya untuk biaya sekolah anak-anaknya, termasuk saya ini.

Bapak saya ini, sosok yang sangat tekun bekerja, disiplin dalam beribadah, keras dalam pengajaran hidup, itu yang saya rasakan. Ya,  bisa dibilang punya spirit untuk memajukan anak-anaknya.  Watak bapak saya ini keras, terutama pada anak-anaknya, terkadang juga keblalasan, tak wajar. ah.... jadi ngelantur...  intinya pasti bapak punya harapan yang baik untuk anaknya, meskipun caranya yang kadang kurang tepat untuk usia naka kecil. Yang terlampau berat.

Kembali ke topik !
Kakak saya ada dua orang, yang keduanya selain sekolah tugas utamanya adalah ngurus kambing dan sapi. Itu saja yang saya ingat, yang jelas saya sadar dan tahu tuagasnya amat berat, untuk ini saya dak punya ruang untuk berkomentar terlalu lebih, ... intinya, jempol lah untuk kedua kakak saya ini, berarknya minta ampun. he he

Sebenarnya saya anak yang ke empat, cuma karena kakak yang ke tiga tidak mau berlama-lama di dunia, jadi saya menempati posisinya, ke tiga itu. Saya gak seperti kedua kakak saya, saya lumayan untung, dalam hal ini tidak dibebani mendidik/ngurus kambing atau sapi. Meskipun demikian, bukan berarti saya anak yang santai saja di rumah, bebas bermain, sama sekali tidak. Kegaitan membantu orang tua sama saja, hari-hari mulai MI sampai MTsN kayaknya tak ada hari tanpa bekerja, dimana ada orang tua bekerja di situ dapat dipastikan ada anak, saya. Berkerja bersama, di sawah, di ladang, di bukit dan lain sebagainya. Sering juga menjadi pengganti bapak kerja bakti lingkungan, seperti  membuat bendungan dan lain-lain. Pokoknya dimana ada bapak di situ ada anak, saya. 

Kok tambah jauh dari topik ini bagaimana ?
Soal sangu, maksud saya meskipun orang tua dulu tidak susah-susah amat, dan saya juga yakin sebenarnya kalo hanya memberi sangu saja pasti bisa/mampu. Ya tak selamanya tak bersangu dari orang tua sebenarnya, beberapa kali juga dapat jatah sangu. 50 Rupiah saja dulu sebenarnya sudah lebih dari cukup, setidaknya sudah dapat jajan serabi dua, atau jajan yang lain, permen misalnya.  Soal sangu ini dulu memang gila, kenapa tidak ? jika ingin punya sangu, kita musti melakukan ritual, ya ritual. Kenapa kok saya bilang ritual? Karena jika ingin sangu, musti memenuhi prasarat yang diajukan bapak kepada saya. Kalo pingin sangu, kamu ikut bapak ke bukit/ladang, ayo... Ngunduh /manen tela pohon. Bukit " alas kidul" itu jaraknya  gak tanggung-tangung, dari rumah saja kisaran 3 kilo bahkan lebih... yang ditempuh jalan kaki. Saya musti unduh tela pohon itu, berulang sampai tiga kali. yang hasilnya murni ke orang tua. jika mau sangu, boleh kembali ambil lagi untuk saya jual dan uangnya saya mikiki, jadi uang sangu. Dulu kayak gitu senangnya minta ampun, demi sekolah layaknya teman yang lain, bisa sangu bisa njajan. Sangu yang super nikmat, sangu yang musti diperjuangkan, lelah, letih, punggung lecet kena kayu "pikulan" adalah hal yang sangat biasa bagi saya anak kampung. 

Dari sini sebenarnya orang tua ingin mengajari anaknya, arti sebuah perjuangan. Keinginan yang terbesit dibenak kita, baik itu cita-cita atau harapan yang lain, musti diperjuangkan. tidak boleh hanya mengandalkan uluran orang lain. Juga sebenarnya sedang mengajari cara berkreativitas pada anaknya, tidak boleh hanya berpangku tangan. yang lebi dashsyat lagi sebenarnya sedang mengajari anaknya cara menikmati bersyukur tinggat tinggi, nikmatnya minta ampun, menikmati hasil dari kerja keras itu. Cuma, memang caranya yang kadang bikin ngilu, bukan hanya ngilu punggung saja, sekujur tubuh juga ikut ngilu ...

Sungguh pengalaman yang tak terlupakan hingga kini, kayaknya hanya pernah dirasakan oleh beberapa orang saja, pengalaman yang langka. jarang terjadi.

Punjul, 15 Mei 2020





 

2 comments:

  1. Setiap pagi saya sebagai ibupun menyiapkan bekal untuk ke dua anak yang jam 6.30 harus sampe sekolah. Setelah itu bersiap berangkat sekolah juga.
    Anak2 juga TDK saya bekali uang kecuali sangu bekal di kotak makan mereka

    ReplyDelete

Terimaksih telah berkenan membaca tulisan ini, komentar anda sangat saya hargai. Semoga ada manfaatnya. amin..

𝗥𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻

𝘒𝘦𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘰𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪...