S u b a d i
Kemarin, tepatnya hari jum'at, 12 Juni 2020, anak saya yang ke dua Muhammad Furqon Nawafi' genap usia 3 tahun. Pada moment seperti itu, kebanyakan orang tua tentu ingin memberikan rasa bahagia kepada buah hatinya layaknya anak-anak yang lain.
Pada kesempatan itu, saya bersama istri tercinta berencana mengadakan syukuran kecil-kecilan, berkeinginan mengundang anak-anak kecil sekitaran rumah, teman bermain si Furqon. Mulai hari kamis istri sudah membeli jajan ringan di toko grosir yang tak jauh dari rumah dan kemudian kita bungkus jajan itu dengan rapih.
Jum'at pagi, istri mulai belanja ayam yang kemudian dimasak sedemikian rupa untuk kita bagikan kepada anak-anak yang hadir dalam acara syukuran sore harinya, sebab acara baru akan dimulai tepat jam 15.00 WIB. Ada banyak hadiah yang diterima Furqon, semuanya bagus-bagus dan pasti membuatnya riang gembira. Ada satu hadiah yang mendorong mata saya tertuju kepadanya, karena bagi saya cukup menarik, yaitu berupa spiker murattal al-Qur'an. Ya, ini barangnya.
Barang itu saya cek, saya coba nyalakan, dan saya lihat-lihat beserta buku kecil sebagai panduannya. Barang bagus itu berisi banyak bacaan murattal al-Qur'an, do'a harian, lagu-lagu islami, belajar tajwid, dan berisi cukup banyak ceramah agama dan motivasi dari beberapa tokoh yang sudah familiar di televisi, ada Ustadz Yusuf Mansur, Prof. M. Quraish Shihab, Ustadz Abdul Shomad, Lc, Ustadz Adi Hidayat Lc, Ustadzah Okky Septiana, dan masih banyak lagi.
Satah satu kajian yang sudah saya putar adalah paparan Prof. M.Quraish Shihab tentang sifat Allah ini, ar-Rahman & ar-Rahim. Saya secara pribadi mempunyai sedikit pengetahuan tentang makna sifat Allah itu. Tegasnya, tulisan ini adalah kolaborasi pengetahuan saya dengan pelajaran yang dapat saya tangkap dari paparan Beliau, Prof. M.Quraish Shihab. Tidak banyak yang bisa saya tangkap, setidaknya cukup untuk saya jadikan modal untuk menulis, saya kemas sedemikian rupa hingga menjadi satu tulisan ini. Semoga bermanfaat.
Dari sekian deret fitrah
yang dimiliki manusia salah satunya adalah fitrah kasih sayang. Kita bisa
mengetahui tentang fitrah hanya melalui jalan wahyu yang telah Allah
turunkan kepada kita, tersurat di dalam al-Qur’an. Satu-satu jalan yang bisa
kita tempuh untuk sampai pada pengetahuan fitrah adalah jalan thalabul
ilmi.
Allah telah
menempatkan kasih sayang ke dalam jiwa manusia ”Dan Dia jadikan diantara
kamu percintaan dan kasih sayang”, Arrum, 21. Dan kemudian Allah pun
memerintahkan kepada manusia supaya saling berpesan dengan kasih sayang, “Dan
mereka saling berpesan dengan kasih sayang”, Albalad, 17.
Dalam tulisan
sederhana ini, saya ingin membincang tentang sifat Allah, yaitu ar-Rahman
dan ar-Rahim. Kedua sifat ini sejatinya terambil dari akar kata yang sama
yaitu Rahmat. Sifat Allah ini
merupakan sifat yang amat dominan dan bahkan sifat inilah yang diperkenalkan Allah pada awal alqur’an, mushaf
al-Qur’an yang tertuang di dalam lafadz Bismillahirrahmanirrahim.
Rahmat bagi manusia berarti keperihan hati melihat kepedihan
dan ketidakberdayaan pihak lain, sehingga hati terdorong untuk mengurangi sebagian
keprihatinan dan keperihan yang menimpa pihak lain tersersebut. Tegasnya, tanpa
keprihatinan dan kepedihan tidak akan ada rahmat. Bahkan tanpa berusaha
mengurangi atau menanggulangi sebagian kepedihan pihak lain, secara tegas belumlah
dikatakan rahmat.
Rahmat bagi Allah secara tegas sangat berbeda dengan rahmat yang
dimiliki manusia. karena rahmat bagi Allah mempunyai pengertian bantuan
dan kasih sayangNya yang dilimpahkan kepada seluruh makhluk ciptaanNya. Seluruh
makluk tidak akan menemukan keperihan dan keprihatinan dalam hidupnya tatkala
mendapat curahan rahmatNya.
Ada yang mengatakan
bahwa Rohman adalah sifat perbuatan Allah, dalam arti bahwa dengan sifat
rahman ini Allah menganugerahkan rahmatnya kepada seluruh makhluk
ciptaanNya. Sedangkan Rahim adalah sifat Dzat Allah, sehingga Dia Maha
Pengasih yang senantiasa menganugeragkan kasihNya Kepada seluruh makhluk di
jagad raya ini.
Sebagian ulama’ ada
yang memaknai rahman dan rahim dengan pengertian yang lain. Pada titik
ini, sebuah pengetian yang penulis sering jumpai tatkala setiap mengawali
mengaji kitab kuning, juga saat memberi makna lafadz basmalah. Dan agaknya
pengertian inilah yang lebih familiar di kebanyakan orang.
Rahman adalah kasih sayang Allah yang dicurahkan kepada seluruh
makhluk yang ada di muka bumi ini, mulai manusia, hewan, tumbuhan, dan lain
sebagainya. Semuanya mendapat curahan kasih sayangNya. Tak ada yang terlewat
sedikikitpun, sekalipun bagi orang yang tidak beriman kepada Allah SWT.
Sedangkan Rahim adalah
kasih sayang Allah yang hanya akan diberikan kepada orang-orang yang beriman
kepadaNya kelak di akhirat. Sifat rahim Allah ini murni bagi meraka yang
beriman dan beramal saleh kepada Allah semata. Semata-mata sebagai wujud balasan
Allah untuk setiap manusia yang benar-benar beriman kepadaNya.
Semua manusia kelak
akan kembali kepada Allah. Kata kembali mempunyai pengertian kembali
kepada tempat yang dikendaki Allah. Jika saat di dunia manusia mampu berladang
dengan amal yang saleh, berlandaskan ikhlas dan penuh ketundukan niscaya
kembalinya adalah ke tempat yang diridhai Allah, sebaik-baik tempat singgah [etape
terkahir] yaitu surga.
Dan juga sebaliknya, jika
saat di dunia manusia memilih berladang dengan menanan benih keburukan dan
kemaksiatan, tentu tempat kembalinya adalah tempat kesengsaraan sejati, yaitu
neraka Allah. Sebagai manusia yang telah dianugerahi akal sempurna, sudah selayaknya kita memilih
berproses dan berladang menabur benih kebaikan dan kebajikan. Sehingga kelak di
akhirat menjadi orang yang Dia kehendaki mendapat curahan sifat rahimNya.
Sebagai muslim yang
taat kepada ketentuanNya, selayaknya kita juga meneladani sifat rahman yang
Allah miliki ini. Cara kita meneladaninya adalah dengan senantiasa berusaha
sekuat tenaga untuk menebar kasih sayang kepada sesama makluk Allah SWT.
Manusia di samping dia
sebagai makluk individu, ia juga berstatus sebagai makluk sosial. Dengan demikian
manusia tidak mampu hidup sendiri, pasti dalam menjalani hidupnya selalu membutuhkan
pihak lain [manusia lain, hewan, dan tumbuhan]. Sehingga saling menghormati,
menghargai, menjaga, melestarikan, dan memberi kasih-sayang kepada mereka
adalah sebuah keniscayaan. Yang dalam hal ini tak lain sebagai wujud kita
meneladani sifat Allah ar-Rahman itu sendiri. Wallahu a’lam
bisshowab.
Punjul, 23 Juni 2020. Pas
jaga malam minggu ke 2.

Sungguh menarik dan menginspirasi.., joss
ReplyDeleteTerima kasih Mr....
DeleteBarokalloh..teruslah berkarya suadaraku..mantap
ReplyDeleteSiap Bang_one.... Belajaran....
Delete