S u b a d i
Bismillah, postingan
tulisan teman-teman hari ini telah menginspirasi saya menemukan ide menulis
hari ini. Hari ini terasa bingung mau menulis tentang apa. Beberapa topik memang
terlintas di kepala, akan tetapi rasanya buntu untuk saya kembangkan. Sehingga hanya
menjadi gambaran sempit di dalam angan-angan saja.
Sungguh saya sadari, semua itu dikarenakan sempitnya
wawasan. Meskipun demikian, saya tetap mensyukurinya, sebab ini menjadi petanda
bahwa saya harus lebih giat lagi untuk belajar dan belajar. Bagi saya ini
bagian dari hikmah.
Beberapa tulisan yang membincang tentang siswa hari ini telah
mengingatkan saya tatkala memberi ulasan kepada peserta didik perihal
pentingnya menjaga akhlak mulia. Sebagai pendidik tentu sudah seharusnya
selalu menanamkan pemahaman akhlak mulia kepada peserta didik di
madrasah. Akhlak mulia tidak cukup dipahami sebatas konsep, akan tetapi
benar-benar diinternalisasikan dalam diri peserta didik dan diwujudkan
dalam tindakan konkrit setiap hari.
Al-din al-amalu, agama adalah sebuah
praktek. Ajaran agama tidak cukup sebatas menjadi pengetahuan seorang muslim. Karena
sejatinya agama adalah pengetahuan tentang syari’at yang wajib diwujudkan
dalam bentuk tindakan [al-amalu]. Tegasnya, setiap muslim akan menjadi muslim
yang sesungguhnya jika mau mengamalkan ajaran agamanya. Ibarat ilmu,
jika tidak diamalkan akan menjadi sia-sia belaka. Ilmu akan bermakna
jika diamalkan. Dan amal adalah buahnya ilmu.
Seperti halnya pengetahuan tentang akhlak mulia,
jika ia hanya sebatas menjadi pengetahuan, maka tidaklah dinamakan akhlak mulia. Ia hanya
akan menjadi pengetahuan tentang akhlak mulia saja, tidak lebih. Tegasnya, pengetahuan
akhlak mulia akan menjadi bermakna jika seseorang telah mengamalkan dalam
praktek kehidupan sehari-hari. Mengapa demikian ? sebab akhlak mulia merupakan bagian dari syari’at agama itu sendiri.
Takkala saya membincang tentang akhlak mulia dengan peserta didik, selalu saya sitir hadist
Nabi yang sudah familiar itu, “innama bu’itstu liutammima makarima al-akhlak”
yang kurang lebih artinya demikian “sesungguhnya aku diutus hanya untuk
menyempurnakan akhlak mulia”. [HR. Bukhari]. Hampir dapat dipastikan, semua
orang tahu atau pernah mendengarkan hadits tersebut, sangking familiarnya.
Satu kalimat -hadits- itu, bagi saya ada hal yang
sangat menarik untuk didalami. Yaitu penggunakan kata “innama”. Jika kita tinjau dari segi
bahasa, kata itu merupakan “adat al-hasr” sebagaimana kata “illa”. Kedua kata itu mempunyai
fungsi meringkas, dalam pengertian meniadakan segala sesuatu dan hanya menyisakan
suatu hal yang menjadi topik pembicaraan setelahnya. Sehingga menjadi tidak
aneh jika dimaknai “hanya”. Bukan yang lain.
Bagi saya ini adalah petanda bahwa syari’at islam sangat
memperhatikan tentang ajaran akhlak mulia. Ia mempunyai ruang yang sangat
luas di dalam agama islam. Seorang muslim dalam menjalankan syari’at agamanya
sebenarnya tidak bisa lepas dengan akhlak mulai itu sendiri. Tegasnya, akhlak
mulia senantiasa melekat pada seluruh praktek ibadah kepada Allah, hablun
mina allah, dan semua rangkaian
aktivitas sehari-hari, hablun mina al-nas.
Bagi saya, akhlak mulia ini, juga bisa dimaknai
dengan “adab sopan santun”. Ketika saya menjelasakan kepada para siswa, akhlak
mulia itu, saya bagi menjadi tiga bagian, yakni akhlak mulia bersama
Allah, akhlak mulia bersama Rasul, dan akhlak mulia bersama sama
makluk. Bersama sama makluk berarti meliputi adab sopan santun terhadap
diri sendiri, orang lain, hewan, tumbuhan, dan alam sekitar.
Bagi saya, memberikan pemahaman tentang akhlak mulai
secara komprehensif kepada peserta didik harus dimulai sejak dini. Akhlak
mulia yang kebermaknaannya sebab dipraktekkan dalam kehidupan, sudah
seharusnya jika ia musti dibiasakan setiap hari dalam praktek ibadah dan
menghiasi seluruh aktivitas peserta didik. Dari kebiasaan-kebiasaan mulia itu
yang selanjudnya diharapakan dapat membentuk
karakter luhur peserta didik.
Akhlak mulia
kepada Allah, berarti kita harus menjaga muamalah denganNya, artinya senantiasa
menjalankan apa yang diperintahkan dengan penuh ketundukan, selalu menjaga hati
agar tidak sampai berpaling kepada selainNya, dan senantiasa menjaga kehendak
serta keinginan diri, sehingga kita tidak sampai bergantung kepada sesuatu yang
dibenci Allah.
Sebagai contoh, saya sering melontarkan pertanyaan kepada para siswa. Mengapa
saat kita akan mengerjakan sholat selalu berwudhu ? jika badan kita ada najis mengapa
harus dibersihkan dulu? Mengapa kita harus memastikan pakaian dan tempat sholat
kita suci ? bahkan kenapa lebih memilih memakai pakaian yang bagus, rapi, dan
wangi ? kenapa musti menutup aurat ? mengapa kita musti menundukkan kepala saat
shalat? dan lain sebagainya.
Berdiri dalam keadaan suci merupakan akhlak mulia [adab
kesopanan] kepadaNya, menutup aurat juga termasuk adab, dan Semua kita kerjakan,
semata-mata menjaga adab/akhlak mulia. Karena kita sejatinya sedang
berdiri menghadap Allah SWT. Sebagaimana Nabi tatkala diangkat menjadi kekasih
Allah dan menerima wahyu, dikarenakan akhlaknya yang baik dan adabnya yang
sempurna.
Begitu juga dengan sesama, perkataan dan tindakan harus
sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat serta selaras dengan
ajaran agama, saling menghormati, mengasihi, dan menjaga
hak-hak mereka. Begitu juga dengan alam sekitar, merawat, menjaga, melestarikan,
dan mengambil manfaat secukupnya. Itu semua adalah bagian dari bentuk akhlak
mulia. Dan sebagainya.
Mudah-mudahan pada kesempatan yang lain, saya masih
diberi kemampuan oleh Allah untuk mengembangkan topik ini. Amin.
Wallahu a’lam bisshowab.
Punjul, 16 Juni 2020.

No comments:
Post a Comment
Terimaksih telah berkenan membaca tulisan ini, komentar anda sangat saya hargai. Semoga ada manfaatnya. amin..