google-site-verification=a29cQDLicXmx_KpxGtFuPjFzKNqoMZ3FEdNxkyQfTTk Kang Badi': MANANAMKAN AKHLAK MULIA

MANANAMKAN AKHLAK MULIA




S u b a d i

Bismillah, postingan tulisan teman-teman hari ini telah menginspirasi saya menemukan ide menulis hari ini. Hari ini terasa bingung mau menulis tentang apa. Beberapa topik memang terlintas di kepala, akan tetapi rasanya buntu untuk saya kembangkan. Sehingga hanya menjadi gambaran sempit di dalam angan-angan saja.

Sungguh saya sadari, semua itu dikarenakan sempitnya wawasan. Meskipun demikian, saya tetap mensyukurinya, sebab ini menjadi petanda bahwa saya harus lebih giat lagi untuk belajar dan belajar. Bagi saya ini bagian dari hikmah. 

Beberapa tulisan yang membincang tentang siswa hari ini telah mengingatkan saya tatkala memberi ulasan kepada peserta didik perihal pentingnya menjaga akhlak mulia. Sebagai pendidik tentu sudah seharusnya selalu menanamkan pemahaman akhlak mulia kepada peserta didik di madrasah. Akhlak mulia tidak cukup dipahami sebatas konsep, akan tetapi benar-benar diinternalisasikan dalam diri peserta didik dan diwujudkan dalam tindakan konkrit setiap hari. 

 Al-din al-amalu, agama adalah sebuah praktek. Ajaran agama tidak cukup sebatas menjadi pengetahuan seorang muslim. Karena sejatinya agama adalah pengetahuan tentang syari’at yang wajib diwujudkan dalam bentuk tindakan [al-amalu]. Tegasnya, setiap muslim akan menjadi muslim yang sesungguhnya jika mau mengamalkan ajaran agamanya. Ibarat ilmu, jika tidak diamalkan akan menjadi sia-sia belaka. Ilmu akan bermakna jika diamalkan. Dan amal adalah buahnya ilmu. 

Seperti halnya pengetahuan tentang akhlak mulia, jika ia hanya sebatas menjadi pengetahuan, maka  tidaklah dinamakan akhlak mulia. Ia hanya akan menjadi pengetahuan tentang  akhlak mulia saja, tidak lebih. Tegasnya, pengetahuan akhlak mulia akan menjadi bermakna jika seseorang telah mengamalkan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Mengapa demikian ? sebab akhlak mulia merupakan bagian dari syari’at agama itu sendiri.

Takkala saya membincang tentang  akhlak mulia  dengan peserta didik, selalu saya sitir hadist Nabi yang sudah familiar itu, “innama bu’itstu liutammima makarima al-akhlak” yang kurang lebih artinya demikian “sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia”. [HR. Bukhari]. Hampir dapat dipastikan, semua orang tahu atau pernah mendengarkan hadits tersebut, sangking familiarnya.

Satu kalimat -hadits- itu, bagi saya ada hal yang sangat menarik untuk didalami. Yaitu penggunakan kata  innama”. Jika kita tinjau dari segi bahasa, kata itu merupakan “adat al-hasr” sebagaimana  kata “illa”. Kedua kata itu mempunyai fungsi meringkas, dalam pengertian meniadakan segala sesuatu dan hanya menyisakan suatu hal yang menjadi topik pembicaraan setelahnya. Sehingga menjadi tidak aneh jika dimaknai “hanya”. Bukan yang lain.

Bagi saya ini adalah petanda bahwa syari’at islam sangat memperhatikan tentang ajaran akhlak mulia. Ia mempunyai ruang yang sangat luas di dalam agama islam. Seorang muslim dalam menjalankan syari’at agamanya sebenarnya tidak bisa lepas dengan akhlak mulai itu sendiri. Tegasnya, akhlak mulia senantiasa melekat pada seluruh praktek ibadah kepada Allah, hablun mina allah,  dan semua rangkaian aktivitas sehari-hari, hablun mina al-nas.

Bagi saya, akhlak mulia ini, juga bisa dimaknai dengan “adab sopan santun”. Ketika saya menjelasakan kepada para siswa, akhlak mulia itu, saya bagi menjadi tiga bagian, yakni akhlak mulia bersama Allah, akhlak mulia bersama Rasul, dan akhlak mulia bersama sama makluk. Bersama sama makluk berarti meliputi adab sopan santun terhadap diri sendiri, orang lain, hewan, tumbuhan, dan alam sekitar.

Bagi saya, memberikan pemahaman tentang akhlak mulai secara komprehensif kepada peserta didik harus dimulai sejak dini. Akhlak mulia yang kebermaknaannya sebab dipraktekkan dalam kehidupan, sudah seharusnya jika ia musti dibiasakan setiap hari dalam praktek ibadah dan menghiasi seluruh aktivitas peserta didik. Dari kebiasaan-kebiasaan mulia itu yang selanjudnya diharapakan dapat  membentuk karakter luhur peserta didik.

Akhlak mulia kepada Allah, berarti kita harus menjaga muamalah denganNya, artinya senantiasa menjalankan apa yang diperintahkan dengan penuh ketundukan, selalu menjaga hati agar tidak sampai berpaling kepada selainNya, dan senantiasa menjaga kehendak serta keinginan diri, sehingga kita tidak sampai bergantung kepada sesuatu yang dibenci Allah.  

Sebagai contoh,  saya sering melontarkan pertanyaan kepada para siswa. Mengapa saat kita akan mengerjakan sholat selalu berwudhu ? jika badan kita ada najis mengapa harus dibersihkan dulu? Mengapa kita harus memastikan pakaian dan tempat sholat kita suci ? bahkan kenapa lebih memilih memakai pakaian yang bagus, rapi, dan wangi ? kenapa musti menutup aurat ? mengapa kita musti menundukkan kepala saat shalat? dan lain sebagainya. 

Berdiri dalam keadaan suci merupakan akhlak mulia [adab kesopanan] kepadaNya, menutup aurat juga termasuk adab,  dan Semua kita kerjakan, semata-mata menjaga adab/akhlak mulia. Karena kita sejatinya sedang berdiri menghadap Allah SWT. Sebagaimana Nabi tatkala diangkat menjadi kekasih Allah dan menerima wahyu, dikarenakan akhlaknya yang baik dan adabnya yang sempurna. 

Begitu juga dengan sesama, perkataan dan tindakan harus sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat serta selaras dengan ajaran agama, saling menghormati, mengasihi, dan menjaga hak-hak mereka. Begitu juga dengan alam sekitar, merawat, menjaga, melestarikan, dan mengambil manfaat secukupnya. Itu semua adalah bagian dari bentuk akhlak mulia. Dan sebagainya. 

Mudah-mudahan pada kesempatan yang lain, saya masih diberi kemampuan oleh Allah untuk mengembangkan topik ini. Amin.

Wallahu a’lam bisshowab.

Punjul, 16 Juni 2020.

  

No comments:

Post a Comment

Terimaksih telah berkenan membaca tulisan ini, komentar anda sangat saya hargai. Semoga ada manfaatnya. amin..

𝗥𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻

𝘒𝘦𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘰𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪...