S u b a d i
Sebab corona;
Bismillah. Sudah sekitar
tiga bulan anak-anak berada di rumah, mereka mengisi hari-harinya dengan
belajar jarak jauh. Begitu juga para guru, mengajar dari rumah, dengan segala
keterbatasan tak menyurutkan semangat untuk terus mengabdi di jalan pendidikan,
mengajar, memberi tugas, memantau, dan mengevaluasi proses belajar para siswa.
Pemerintah mengharuskan
para siswa berada dan belajar di rumah sejak pandemi ditetapkan, musti dipahami
semata-mata bentuk ihtiyar menjaga hak primer warga negara, hak anak bangsa. Yakni
hak hidup dan keamaan jiwa. Dengan demikian, sikap tenang dan sabar menjadi
pilihan bijak bagi seluruh bangsa. Dengan terus berupaya mengedukasi pentingnya
menjaga kesehatan dengan mematuhi seperangkat cara agar bisa terhindar dari
corona.
Berada di
rumah bukan berarti tanpa usaha untuk bisa terus bekerja dan belajar. Berbagai macam
cara yang memungkinkan dapat diakses peserta didik dan orang tua dalam rangka
memenuhi hak pendidikan anak terus diupayakan sedemikian rupa. Meskipun pada kenyataannya
belum berjalan maksimal. Sebab jaringan internet yang sulit, kesiapan siswa dan
wali, kesiapan guru, dan sederet alasan yang lain.
Lama berada
di rumah, jadi teringat kegiatan rutin setiap senin pagi, yakni upacara bendera
di madrasah. Kegiatan yang diikuti seluruh siswa, kelas satu hingga kelas enam,
serta melibatkan semua pendidik yang ada. Berseragam rapi, atribut lengkap, berbaris disiplin, dan sikap kidmad menjadi
pemandangan yang tidak asing tatkala upacara bendera berlangsung. Idealnya.
Potret Upacara kita ;
Idealnya seharusnya
demikian, akan tetapi kenyataannya tidak seluruh peserta upacara mampu mengikuti
dengan kidmad. Jika kondisi ini terjadi pada anak-anak sekolah, utamanya
tingkat dasar, bagi saya tidak terlalu fatal dan masih wajar, sebab mereka dalam
tarap belajar. Memberikan pemahaman secara terus menerus adalah sebuah
keharusan bagi setiap pendidik, sehingga pada akhirnya nanti, mereka dapat memahami
makna di balik kegiatan upacara bendera dan timbul kesadaran dalam diri .
Ada kondisi
yang bagi saya sangat ironis. Setiap tahun para guru terlibat dengan kegiatan
upacara bendera, dalam rangka memeringati HUT Repubik Indonesia. Yang dikumpulkan
di satu tempat, lapangan misalnya. Ternyata, kondisinya tidak jauh berbeda
dengan upacara bendera siswa tingkat
dasar, bahkan lebih parah. Mereka yang sudah menjadi pendidik pun tidak sedikit yang enggan mengikuti
rangkaian upacara bendera dengan baik dan tertib. Pemandangan ini, sejauh saya
mengikuti selalu terjadi tiap tahunnya. Sungguh pemandangan yang memprihatinkan.
Sejatinya,
waktu yang diperlukan untuk upacara bendera selalu relatif pendek, sekitar
20-30 meit saja. Meskipun demikian pada
kenyataannya masih saja ada [cukup banyak]
peserta yang nota bene pendidik itu tidak mengikutinya dengan ketulusan dan
kekidmatan. Duduk-duduk di lapangan belakang, ngobrol dengan sesama peserta,
menikmati rokok, berteduh di bawah pohon, dan mengenakan pakaian yang tidak
seharusnya, selalu mewarnai upacara bendera tahunan itu.
Saya sadari
sepenuhnya, kondisi kurang terpuji itu tidak berarti menjadi gambaran umum karakter
seluruh pendidik kita, sebab pada kenyataannya mereka yang masih mau berdiri
tegak dan teguh berkidmad jumlahnya lebih banyak. Bagi saya, meskipun hanya
sedikit bukan berarti bisa dianggap sepele, berapa pun jumlah pendidik yang sikapnya
kurang terpuji saat upacara pendera dilaksanakan, sama sekali tidak boleh
terjadi. Sebab pendidik adalah model terbaik. Jika saat upacara saja, sikap yang
dipertontonkan kurang terpuji, bagaimana nanti menjadi teladan mulia bagi anak
didiknya.
Nilai di balik
Upacara;
Sudah menjadi
maklum bahwa upacara bendera bukanlah hal yang asing bagi para pelajar
di indonesia. Bisa dipastikan seluruh sekolah di semua jenjang selalu menggelar
kegiatan Upacara Bendera setiap hari senin. Kususnya tingkat dasar hingga
menengah. Banyak ujian yang musti dilalui sebelum dan saat melaksanakan
upacara.
Menyiapakan segala
atribut upacara, latihan, dan berdiri di bawah terik matahari menjadi hal yang
lekat dengan pacara bendera. Yang demikian ini perlu dimaknai dengan
sesungguhnya, sehingga setiap kali mengikuti upacara bendera tidak merasa terbebani
dengan kepahitan yang dirasakan.
Dalam
upacara bendera kita sejatinya sedang berlatih dan membiasakan kedisiplinan.
Disiplin merupakan suatu sikap bertata tertib serta menghormati aturan yang
berlaku. Sehingga dengan disiplin akan terbangun karakter mulia. Yang akan
bermanfaat kelak di kemudian hari, hidup di masyarakat dan saat bekerja.
Selain melatih kedisiplinan, upacara bendera juga dapat menumbuhkan jiwa
nasionalisme. Sudah seharusnya peserta didik mulai sejak dini ditanamkan
sikap cinta tanah air. Cinta tanah air akan tumbuh dengan baik pada diri
peserta didik jika sering dan terbiasa mengikuti kegiatan kenegaraan. Salah satu
bentuknya adalah kegaiatan upacara bendera.
Sebagai
makluk sosial setiap orang pasti akan terlibat dalam kegiatan dengan orang banyak.
Upacara bendera juga termasuk bagian ihtiyar memupuk kekompakan dalam
kebersamaan sosial. Ini sangat nampak pada sikap sempurna saat siswa baris-berbaris
di tengah lapangan. Memperhatikan dan mengikuti setiap instruksi dari komandan
upacara, sehingga terbangun keselarasan bersama, juga dengan pimpinannya.
“Ajining
raga saka busana” adalah ungkapan
yang tepat untuk menggambarkan penampilan pakaian peserta upacara. Mereka selalu
rapi, bersih, dan tidak berantakan saat mengenakan pakaian. Ini sebagai wujud pembiasaan
menghargai diri pribadi. Dengan selalu rapi dalam penampilan sebagai petanda penghargaan terhadap diri pribadi. Termasuk bentuk bersyukur.
Pelajaran gotong
royong dan kebersamaan sangat nampak pada acara inti, yakni saat pengibaran
bendera merah putih. Terlihat dari bagaimana posisi badan, ayunan
tangan, serta hentakan kaki para petugas pengibar harus bergerak dalam harmoni. Butuh rasa
kekompkan yang tinggi sehingga pengibaran bendera bisa sukses. Selain itu, petugas pengibar bendera juga
membutuhkan kesiapan fisik dan mental untuk bisa menjalankan tugasnya dengan maksimal.
Mengheningkan
cipta, ditujukan agar peserta didik mampu meneladani jiwa patriotisme para pejuang,
yang nantinya akan berdampak pada tumbuhnya kecintaan terhadap bangsa dan
negara. Sikap ini sangat penting bagi setiap
warga negara, termasuk pelajar. Kita yang hari ini menikmati kemerdekaan, musti
menyadari sepenuhnya, kemerdekaan ini bukanlah warisan penjajah. Akan tetapi,
hasil dari buah perjuangan para pahlawan mempertahankan tanah air. Jiwa, raga,
dan harta mereka abdikan demi negara dan bangsa.
Itulah, sekelumit hikmah pentingnya upacara bendera setiap hari Senin yang selama ini
seringkali dilupakan. Pasti, masih banyak lagi nilai-nilai luhur yang dapat digali darinya. Sikap malas-malasan dan kabur-kaburan setiap
mengikuti kegiatan upacara musti kita hindari. Tegasnya, pembentukan karakter
mulia salah satunya melalui upacara, untuk menjadi penerus bangsa yang unggul
dan berkarakter mulia. Wallahu a’lamu bisshowab.
Punjul, 17
Juni 2020
No comments:
Post a Comment
Terimaksih telah berkenan membaca tulisan ini, komentar anda sangat saya hargai. Semoga ada manfaatnya. amin..