S u b a d i
Salah satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan
ini adalah waktu. Pada satu keadaan, sebagian waktu yang kita miliki begitu
terasa berguna, pada saat yang lain, sebagian waktu yang kita miliki terasa
sia-sia, tanpa makna.
Jika sebagian waktu kita terbuang sia-sia, secara
percuma, maka dapat dipastikan hilang pulalah usia kita. Menyia-nyiakan waktu yang
kita miliki, bisa jadi lebih berbahaya dari pada sebuah kematian, karena
terputus hubungan dengan Dzat Penguasa waktu, yaitu Allah Ta’ala.
Allah Berfirman dalam surat al-Ashr, yang artinya “ Demi
masa [1]. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian [2]. Kecuali
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati
supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran [3].
Bagi saya surat yang sangat pendek tersebut, mengingatkan
kepada kita soal pentingnya menyadari berharganya waktu yang kita miliki. Waktu
akan menjadi sangat bermakna jika didasari dengan iman yang kokoh. Kemudian
ditindaklanjuti dengan aneka macam amal saleh, serta diperindah dengan saling
nasihat-menasihati tentang kebenaran dan kesabaran.
Mengapa waktu begitu berharga bagi kita
? sebab, kenyataannya waktu tidak dapat diputar
kembali, waktu akan terus berputar hingga selama-lamanya. Maka, dengan demikian
memanfaatkan waktu demi kebaikan dan menghasilkan manfaat bagi kehidupan,
menurut saya adalah pilihan yang sangat tepat. Waktu menjadi berguna dan
bermakna.
Sekarang ini, banyak cara seseorang bisa belajar dan
mendapatkan pengetahuan, salah satunya adalah melalui pengajian dan kajian ilmu
agama yang tayang di televisi dan internet.
Ulama’ favorit yang sering saya dengarkan salah satunya adalah Kyai H. Agoes Ali
Mashuri, atau yang akrab kita kenal dengan nama Gus Ali, pengasuh Pesantren Bumi
Shalawat, Tulangan , Sidoharjo. Jujur, bagi saya, pengajian-pengajian beliau itu
santai dan mudah dipahami. Akan tetapi, sarat akan makna dan ilmu yang dalam.
Gus Ali memaparkan makna yang dikandung oleh Surat al-Ashr,
setidaknya ada 4 hal yang dapat saya tangkap. Dan 4 hal tersebut menurut Gus
Ali bisa menjadi pencegah kerugian hidup seorang muslim.
Iman yang benar. Menurut Gus Ali, Iman yang benar menjadi faktor utama, untuk bisa mewujudkan kehidupan
yang lebih baik. Dalam point pertama ini, Gus Ali menyandarkan pendapatnya kepada
Q.S. An-Nahl ayat 97.
Dalam paparan Beliau, ayat 97 surat An-Nahl ini
mengandung pelajaran, sebenarnya kebahagiaan tidak perlu dipelajari sampai
keliling dunia, dengan menghabiskan waktu, biaya, dan energi yang banyak. Tetapi
penting kita yakini bahwa kebahagiaan adalah produk dari hidup yang baik. Menurutnya
hidup akan menjadi baik, bermakna, dan berkah manakala kita mengikuti petunjuk
Allah dan Rasulullah SAW. Keimanan menjadi sangat penting, karena iman posisinya
melebihi ilmu pengetahuan, tandas Gus Ali.
Dari sini dapat dipahami, bahwa setiap amal saleh yang
didasari oleh iman, sebagaimana yang telah ditegaskan pada surat al-Ashr
tersebut bisa mencegah manusia dari kerugian. Dan bahkan di akhirat bisa
menjadi bekal berjumpa dengan Allah SWT.
Amal Saleh, keimanan
yang benar akan berubah menjadi amal saleh. Seseorang akan merugi dan celaka
sampai ia membuktikan keimanannya dengan amal saleh. Amal saleh menurut Gus Ali
adalah menunaikan kewajiban, meninggalkan larangan, dan mengerjakan kebajikan.
Bahkan, amal saleh mencakup seluruh perkataan dan perbuatan
yang mendekatkan kepada Allah, yang dilakukan dengan niat ikhlas dan mengikuti
sunnah Nabi Muhammad SAW.
Dari sini, dapat dipahami bahwa amalan dapat disebut sebagai amal saleh
jika niatnya suci [ ikhlas ] dan caranya benar [ sesuai contoh, petunjuk Nabi
Muhammad SAW ]. Dengan demikian kita dapat beramal saleh secara benar dengan
cara mengkuti tuntunan Syar’i. Sebab, dapat dipastikan kita tidak pernah tahu
bagaimana Nabi Muhammad shalat dan wudhu tanpa ilmu, juga amal-amal yang lain. Maka,
disinilah rahasianya mengapa menuntut ilmu dalam Islam hukumnya wajib.
Saling menasihati dalam kebenaran. Dalam penjelasannya, Gus Ali menuturkan bahwa manusia
dilengkapi oleh Allah dengan insting dan perasaan. Oleh karena
itu, manusia akan mudah dipengaruhi oleh segala sesuatu yang terjadi di
sekitarnya.
Menyimak pernyataan Gus Ali tersebut, dapat saya
simpulkan bahwa seseorang mempunyai kecenderungan bereaksi terhadap sesuatu
yang dia lihat dan dengar. Sehingga tidak mengherankan jika manusia sering lupa
untuk tetap berada di jalan kebenaran. Maka saling menasehati antar sesama
mempunyai peran yang sangat penting, agar seseorang tetap dalam jalan kebenaran
dan kesalehan.
Saling menasihati dalam kesabaran. Tak bisa
dipungkiri, setiap manusia dalam menjalani kehidupan selalu berhadapan dengan
godaan dan tantangan. Sehingga manusia dalam menjalani kehidupan ini, dibutuhkan
kesabaran, agar tidak mengalami kerugian dalam hidupnya.
Sebagaimana yang telah mafhum bahwa seseorang
musti mempunyai kesabaran dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, sabar dalam
menerima musibah, dan sabar dalam menjauhi larangan Allah SWT. Wallahu a’lam
bisshowab.
Punjul, 10 Juni 2020

Siiip....lanjut.
ReplyDeleteSiap....
DeleteTulisan yang berat.. ilmu semua
ReplyDeleteMilo too buk....
Delete