google-site-verification=a29cQDLicXmx_KpxGtFuPjFzKNqoMZ3FEdNxkyQfTTk Kang Badi': TIPS MENCEGAH KERUGIAN HIDUP [Pelajaran dari Gus Ali, Refleksi Surat al-Ashr]

TIPS MENCEGAH KERUGIAN HIDUP [Pelajaran dari Gus Ali, Refleksi Surat al-Ashr]


 
 [ Kyai H. Agoes Ali Mashuri ]

S u b a d i

Salah satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan ini adalah waktu. Pada satu keadaan, sebagian waktu yang kita miliki begitu terasa berguna, pada saat yang lain, sebagian waktu yang kita miliki terasa sia-sia, tanpa makna. 

Jika sebagian waktu kita terbuang sia-sia, secara percuma, maka dapat dipastikan hilang pulalah usia kita. Menyia-nyiakan waktu yang kita miliki, bisa jadi lebih berbahaya dari pada sebuah kematian, karena terputus hubungan dengan Dzat Penguasa waktu, yaitu Allah Ta’ala. 

Allah Berfirman dalam surat al-Ashr, yang artinya “ Demi masa [1]. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian [2]. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran [3]. 

Bagi saya surat yang sangat pendek tersebut, mengingatkan kepada kita soal pentingnya menyadari berharganya waktu yang kita miliki. Waktu akan menjadi sangat bermakna jika didasari dengan iman yang kokoh. Kemudian ditindaklanjuti dengan aneka macam amal saleh, serta diperindah dengan saling nasihat-menasihati tentang kebenaran dan kesabaran.

Mengapa waktu begitu berharga bagi kita ?  sebab, kenyataannya waktu tidak dapat diputar kembali, waktu akan terus berputar hingga selama-lamanya. Maka, dengan demikian memanfaatkan waktu demi kebaikan dan menghasilkan manfaat bagi kehidupan, menurut saya adalah pilihan yang sangat tepat. Waktu menjadi berguna dan bermakna.

Sekarang ini, banyak cara seseorang bisa belajar dan mendapatkan pengetahuan, salah satunya adalah melalui pengajian dan kajian ilmu agama yang tayang di televisi dan internet. Ulama’ favorit yang sering saya dengarkan salah satunya adalah Kyai H. Agoes Ali Mashuri, atau yang akrab kita kenal dengan nama Gus Ali, pengasuh Pesantren Bumi Shalawat, Tulangan , Sidoharjo. Jujur, bagi saya, pengajian-pengajian beliau itu santai dan mudah dipahami. Akan tetapi,  sarat akan makna dan ilmu yang dalam. 

Gus Ali memaparkan makna yang dikandung oleh Surat al-Ashr, setidaknya ada 4 hal yang dapat saya tangkap. Dan 4 hal tersebut menurut Gus Ali bisa menjadi pencegah kerugian hidup seorang muslim. 

Iman yang benar. Menurut Gus Ali, Iman yang benar menjadi faktor utama, untuk bisa mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Dalam point pertama ini, Gus Ali menyandarkan pendapatnya kepada Q.S. An-Nahl ayat 97. 

Dalam paparan Beliau, ayat 97 surat An-Nahl ini mengandung pelajaran, sebenarnya kebahagiaan tidak perlu dipelajari sampai keliling dunia, dengan menghabiskan waktu, biaya, dan energi yang banyak. Tetapi penting kita yakini bahwa kebahagiaan adalah produk dari hidup yang baik. Menurutnya hidup akan menjadi baik, bermakna, dan berkah manakala kita mengikuti petunjuk Allah dan Rasulullah SAW. Keimanan menjadi sangat penting,  karena iman posisinya melebihi ilmu pengetahuan, tandas Gus Ali.

Dari sini dapat dipahami, bahwa setiap amal saleh yang didasari oleh iman, sebagaimana yang telah ditegaskan pada surat al-Ashr tersebut bisa mencegah manusia dari kerugian. Dan bahkan di akhirat bisa menjadi bekal berjumpa dengan Allah SWT.

Amal Saleh, keimanan yang benar akan berubah menjadi amal saleh. Seseorang akan merugi dan celaka sampai ia membuktikan keimanannya dengan amal saleh. Amal saleh menurut Gus Ali adalah menunaikan kewajiban, meninggalkan larangan, dan mengerjakan kebajikan. 

Bahkan, amal saleh mencakup seluruh perkataan dan perbuatan yang mendekatkan kepada Allah, yang dilakukan dengan niat ikhlas dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW.

Dari sini, dapat dipahami  bahwa amalan dapat disebut sebagai amal saleh jika niatnya suci [ ikhlas ] dan caranya benar [ sesuai contoh, petunjuk Nabi Muhammad SAW ]. Dengan demikian kita dapat beramal saleh secara benar dengan cara mengkuti tuntunan Syar’i. Sebab, dapat dipastikan kita tidak pernah tahu bagaimana Nabi Muhammad shalat dan wudhu tanpa ilmu, juga amal-amal yang lain. Maka, disinilah rahasianya mengapa menuntut ilmu dalam Islam hukumnya wajib. 

Saling menasihati dalam kebenaran.  Dalam penjelasannya, Gus Ali menuturkan bahwa manusia dilengkapi oleh Allah dengan insting dan perasaan. Oleh karena itu, manusia akan mudah dipengaruhi oleh segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. 

Menyimak pernyataan Gus Ali tersebut, dapat saya simpulkan bahwa seseorang mempunyai kecenderungan bereaksi terhadap sesuatu yang dia lihat dan dengar. Sehingga tidak mengherankan jika manusia sering lupa untuk tetap berada di jalan kebenaran. Maka saling menasehati antar sesama mempunyai peran yang sangat penting, agar seseorang tetap dalam jalan kebenaran dan kesalehan. 

Saling menasihati dalam kesabaran. Tak bisa dipungkiri, setiap manusia dalam menjalani kehidupan selalu berhadapan dengan godaan dan tantangan. Sehingga manusia dalam menjalani kehidupan ini, dibutuhkan kesabaran, agar tidak mengalami kerugian dalam hidupnya. 

Sebagaimana yang telah mafhum bahwa seseorang musti mempunyai kesabaran dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, sabar dalam menerima musibah, dan sabar dalam menjauhi larangan Allah SWT. Wallahu a’lam bisshowab.
 
Punjul, 10 Juni 2020


4 comments:

Terimaksih telah berkenan membaca tulisan ini, komentar anda sangat saya hargai. Semoga ada manfaatnya. amin..

𝗥𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻

𝘒𝘦𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘰𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪...