google-site-verification=a29cQDLicXmx_KpxGtFuPjFzKNqoMZ3FEdNxkyQfTTk Kang Badi'

Mereka Mengenaliku Sebagai Guru


S u b a d i

Aku tahu dan sadar, di pundakku ada tanggung jawab yang tidak ringan, meski demikian selalu aku yakini bahwa di situ tersimpan cahaya kemuliaan. 

Aku sadar sepenuhnya, aku ini juga manusia biasa, sesekali waktu merasa lapar, haus, jenuh, kenyang, dan bosan. Kini aku harus mengajar dan mendidik sesamaku, yaitu anak-anak manusia generasi harapan bangsa. 

Aku harus ingat, hari ini aku menjadi guru bagi generasi abad 21, tantangan mengajar dan mendidik kian semakin berat, sangat berbeda dengan guru zaman dahulu. Namun, bukan berarti aku boleh berkelus kesah apalagi menyerah. 

Aku juga tahu, Anak-anak didikku bagian dari generasi  milenial, mereka sangat percaya diri, aware teknologi, dan bercita-cita tinggi. 

Aku sebagai guru mesti cepat menyadarinya dan bergegas untuk segera menyesuaikan diri dengan generasi milenial itu. Jika tidak, bisa jadi lambat laun aku akan tergantikan dengan beragam aplikasi yang kian deras bermunculan di dunia maya. 

Aku sebagai guru, bahkan kini aku telah menyandang predikat "guru profesional" yang lengkap ditandai dengan sertifikat pendidik harus terus belajar di manapun, kapanpun, dan kepada siapapun. 

Meskipun aku adalah guru, tak jarang ku temui anak didikku lebih awal menemukan sesuatu yang baru ketimbang aku. Jujur aku sadari itu. 

Salah jika aku yang dikenal sebagai guru profesional ini merasa cukup dan puas dengan ilmu dan keahlian yang aku miliki saat ini. Aku musti haus Ilmu, informasi, serta pengetahuan baru. 

Aku juga tahu, seiring pejalanan waktu tidak ada kata berhenti bagi ilmu pengetahuan, ia secara dinamis terus mengalami perkembangan, aku sebagai guru harus mempunyai sensivitas tentang hal itu. 

Aku tahu, mengajar, mendidik, dan belajar adalah pekerjaan yang tidak ringan. Namun bukan berarti aku boleh menganggap dan menjalani profesiku itu menjadi beban apalagi menyiksa hidupku. Aku harus menjalaninya dengan riang dan gembira. 

Aku berpesan kepada teman seprofesi sepertiku, ya para guru. Percayalah bahwa guru tidak akan tergantikan untuk selamanya. Jangan takut dengan munculnya aplikasi-aplikasi yang menjamur di dunia maya itu. 

Percayalah, betul seaindanya generasi ini hanya sebatas membutuhkan informasi, mengetahui dan memahami pengetahun saja, pasti yang diberikan oleh aplikasi canggih itu sudah sangatlah cukup. 

Namun, yakinlah mereka tidak hanya cukup butuh hanya sampai disitu, mereka butuh sosok teladan yang bisa menjadi model bagi mereka, demi membentuk karakter mulia di dalam diri dan laku kesehariannya. Maka hadirnya sosok utuh seorang guru sungguh dibutuhkan. Selamanya. 

Aku sebagai guru musti yakin, bahwa empati, kasih sayang, kepedulian, dan sikap-sikap mulia lainya sampai kapan pun tak kan tergantikan oleh apapun. Semua karakter mulai itu bisa menjadi sempurna sebab hadirnya sosok guru di antara para siswa. 

Aku yakin, profesi guru tidak akan pernah tergantikan oleh perkembangan zaman, oleh sebab itu, sekali lagi aku harus segera menyesuaikan diri dan masuk ke dalam dunia siswaku. 

Sungguh tidak ringan, tantangan zaman mengharuskanku menjadi orang yang memiliki multitalenta. Aku sudah seharusnya menjadi teladan, ilmuan, pendakwah, sekaligus juga pahlawan walau tanpa tanda jasa. 

Walhasil: Agar aku yang kadung menjadi guru ini harus dapat menjawab tantangan zaman, maka sudah semestinya aku rajin membaca buku, koran, maupun jurnal baik media cetak maupun elektronik. Agar aku terbebas dari kegelapan informasi terbaru yang berkembang dalam ilmu pengetahuan.

SELAMAT HARI GURU NASIONAL 2020
punjul, 24 November 2020








Sungguh "Bunga" Sedang Memberi Pelajaran Hidup Kapada Kita


S u b a d i

Bismillah, selama pandemi covid-19 ini banyak orang dibatasi bekerja dan beraktivitas di luar rumah. Yang biasanya bekerja di kantor sehari penuh, tugas dan tanggungjawabnya bisa dikerjakan dari rumah. Guru yang sehari-hari waktunya habis untuk mengajar di sekolah kini mereka diharuskan mengajar dari rumah. Intinya, saat musim pandemi mayoritas orang banyak mengerjakan tugas dan berkegiatan di rumah, dengan maksud membatasi terjadinya keruman banyak orang untuk memutus mata rantai penularan corona, supaya pandemi segera berlalu. 
______________
Membincang soal kegiatan orang di rumah saat musim pandemi covid-19, salah satunya adalah bercocok tanam di sekitar rumah. Yang sampai hari ini masih ramai adalah menanam bunga. Aktivitas ini sebenarnya bukan tanpa alasan,  bisa jadi demi menghilangkan kepenatan karena sudah jenuh terlalu lama di rumah atau memang karena menyalurkan hobi bagi penggemar tanaman bunga. Dan bahkan untuk ladang mengais rejeki dari hobi yang ia tekuni. 

Banyak media mewartakan bahwa tidak sedikit tanaman bunga yang harganya sangat fantastis, seperti yang sempat viral harga bunga janda bolong, dan bahkan di kediri beberapa waktu lalu juga sempat viral dengan berita seorang laki-laki yang membeli 4 jenis tanaman bunga dengan sebuh mobil avanza seharga 105 juta rupiah. Intinya, banyak bermunculan jenis tanaman bunga yang dulunya diabaikan kini diburu orang. Dianggap unik, langka, dan sebagianya. Karena kadung suka dan cinta, soal harga meskipun mahalnya minta ampun, tetap saja dibeli untuk diboyong pulang. 
____________
Terlepas pro-kontra terhadap fenomena ini, yang jelas segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di muka bumi ini pasti ada manfaat dan memiliki pembelajaran hidup, misalnya saja bunga. Ya, kita bisa belajar dari tanaman bunga. 
Belajar dari tanaman bunga, tentu kita bisa mencontoh betapa bunga memberikan manfaat bagi banyak makhluk Tuhan. Bunga membantu lebah, kumbang, dan kupu-kupu untuk bertahan hidup. Tidak hanya itu, bunga juga memberikan manfaat untuk menyegarkan mata dan pikiran setiap orang yang melihatnya. Bahkan bagi sebagian orang tanaman bunga bisa mengembalikan memori di masa lalu. Hehe. 

Dalam hal ini, manusia bisa mencontoh dengan senantiasa berbuat gemar berlbagi. Tidak usah pandang bulu kebaikan kita untuk siapa. Tetaplah berbuat baik, tidak peduli siapa yang akan merasakan kebaikan kita karena kebaikan yang kita tebarkan, itu pula yang nantinya akan kita tunai. InsyaAllah

Setiap orang yang diberikan bunga tentu akan merasakan bahagia. Tidak peduli berapa jumlah bunga yang diberikan, mendapatkan bunga tentu sesuatu pengalaman yang menyenangkan. Bunga yang diberikan bisa berasal dari beragam jenis bunga, tetapi perasaan yang dimunculkan tetap sama yaitu perasaan bahagia.

Dengan belajar dari bunga, kita bisa melakukan hal-hal sederhana untuk membuat orang lain merasa bahagia dengan kehadiran kita. Tidak perlu sesuatu yang mahal atau berlebihan, asalkan perilaku kita baik, tentu sekitar kita bisa menerima dengan baik pula. Sebagai bonus, kehadiran kita bisa menjadi salah satu sumber kebahagiaan bagi sekitar.


Mandi minimal dua kali sehari bisa membuat tubuh kita bersih dan tentunya lebih sehat. Dengan mandi rutin, tentu tubuh kita akan segar, bugar, dan memiliki aroma yang enak seperti halnya bunga. Apabila kita memilih untuk tidak mandi sementara tubuh memproduksi keringat, tentu akan menyebabkan bau badan. Bau tidak sedap ini tentu mengganggu sekitar.

Lewat bunga, kita bisa belajar lebih menghormati hak orang lain untuk bernapas. Jangan sampai aroma tubuh kita yang tidak sedap membuat orang lain yang sulit berkonsentrasi bahkan terganggu pernapasannya. Jadi, apabila belum rajin mandi, mulai sekarang pastikan untuk mandi rutin minimal dua kali sehari ya! Hehe. 

Terkadang kita salah dalam memaknai keindahan. Bunga yang indahnya luar biasa, suatu hari nanti akan layu dan tidak bermakna apa-apa lagi. Bunga yang tadinya merah merekah, wangi semerbak, dipuja, nantinya pasti hanya akan mengering dan hilang. Sama halnya dengan manusia, kita ini hidup sementara, tidak kekal, kecantikan dan keindahan fisik semata tidak akan memberikan manfaat apa-apa apabila tidak diimbangi kecantikan hati.

Apabila bunga bisa dikenang karena keindahannya ketika bunga itu sudah layu, maka kita sebagai manusia bisa dikenang melalui perbuatan positif kita selama hidup di dunia ini. Jadi, hari-hari yang kita miliki, jangan sampai luput dari kebaikan yang kita tebarkan. 

Siapa yang tidak tahu kalau bunga di dunia ini ada beragam? Coraknya beragam, bentuknya beragam, aromanya beragam, semuanya beragam. Dari berbagai macam keragaman yang dimiliki bunga, satu hal yang pasti adalah apapun bunganya, dia cantik sesuai dengan bunga apa dia.

Sama halnya dengan kita sebagai manusia. Tidak perlu iri dengan keindahan atau kecantikan orang lain. Tuhan sudah menciptakan kita sebagai bentuk paling sempurna untuk diri kita sendiri. Sebaiknya, apapun pemberian Tuhan bisa diterima dengan sebaik-baiknya dan dipenuhi rasa syukur agar hidup ini berjalan dengan tenang dan berkah.

Tidak penting membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain. Kita tidak pernah tahu jenis batu terjal seperti apa yang dialami seseorang dalam hidupnya. Jika kita bertukar posisi, belum tentu kita mampu hidup seperti orang lain. Oleh sebab itu, kiranya hanya bersyukurlah yang lebih pantas kita utamakan dalam menjalani hidup yang kita miliki. 

Seseorang yang kreatif tentu memberikan nilai lebih bagi diri orang tersebut. Sama halnya dengan bunga yang apabila semakin kreatif seseorang dalam mengemasnya, akan meningkatkan nilai jual dan nilai keindahan bunga itu sendiri.

Kita sebagai manusia bisa belajar untuk tidak pernah berhenti mengasah kreativitas. Semakin kita terasah untuk kreatif tentu saja akan lebih mudah dalam menjalani hari-hari ini dengan lebih berwarna.

Walhasil; Jangan pernah menyepelekan hal-hal kecil di sekitar kita. Bahkan dari tumbuhan bunga saja kita bisa belajar makna hidup. Memang tidak disangka-sangka, hal-hal sederhana selalu mengandung pembelajaran. Segala sesuatu pasti ada nilainya, asalkan kita mau lebih menghargai hal-hal kecil di sekitar kita, salah satunya dengan sedikit memberikan waktu untuk lebih memaknai tumbuhan bunga itu sendiri. Semoga catatan sederhana ini dapat menghibur Anda. Amin. 

Punjul, 24 November 2020

Lembut Hati Muliakan Diri


S u b a d i

Bismillah, pernahkan Anda melihat orang yang budinya halus, sopan dalam berucap, dan santun dalam bertindak? Saya yakin, tidak hanya pernah, namun bisa jadi malah sering. Atau jangan-jangan Anda juga bagian dari orang yang berciri demikian. Maka bersyukurlah, sebab yang demikian itu lebih diridhai oleh Allah SWT. 

Halusnya budi, baiknya hati, sopan saat berucap dan santun dalam bertindak, merupakan bagian dari ciri-ciri akhlak terpuji, yang harus dipegang kuat-kuat oleh setiap manusia. Sebab, sikap berhati lembut dapat membawa kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Orang yang berhati lembut biasanya tidak pernah menggunakan bahasa atau kata-kata yang kurang terpuji dan nada bicaranya jauh dari nuansa kasar. Mereka selalu baik dalam bertutur kata, tidak merendahkan orang lain dalam bersikap dan bertindak. Dengan semua orang sikapnya selalu baik dan jauh dari sikap merendahkan, apalagi sampai menghina. 

Mereka yang berhati lembut tidak suka menyakiti hati dan perasaan orang lain. Mereka sangat hati-hati dalam perbuatannya, karena mereka takut kalau sampai menyakiti orang lain. Orang yang berhati lembut senantiasa menghargai kehadiran orang lain dan tidak suka mencemoohkan kekurangan dan kesalahan orang lain. 

Seandainya Anda melihat orang yang hati dan sikapnya kasar, maka berucaplah dalam hati "ya Allah jauhkan aku dari sikap yang demikian itu, dan berilah petunjuk hambaMu ini ke jalan yang benar". Amiin... 

Punjul, 24 November 2020

Disipilin Diri, Kenapa Tidak? [ Refleksi Sebagai Pesan Diri]


S u b a d i

Bismillah. Disiplin diri itu seperti otot. Semakin rajin kita melatihnya, semakin kuat kita. Sebaliknya, semakin kita enggan atau tidak melatihnya, semakin lemah kita. Kira-kira begitulah cara mudah membuat analog dalam rangka memahami kata disiplin. Manusia dibekali akal sehat, satu diantara gunanya memang untuk berfikir, dan sangat benar jika kita mau memikirkan ayat-ayat Allah sekalipun tidak tersurat dalam kitab suci Al-Quran. 

Barangkali tidak ada orang yang tercipta sama persis di dunia ini, meskipun sejatinya jika Allah ingin membuat sama tentu bukan perkara yang rumit bagiNya. Setiap orang pasti mempunyai kekuatan otot yang berbeda, begitu juga setiap orang memiliki tingkat disiplin yang berbeda-beda. Jika kita mampu menahan napas selama beberapa detik saja, itu sebenarnya bukti bahwa kita sejatinya memiliki disiplin diri. Namun begitu, tidak semua dari kita mau mengembangkan disiplin yang kita miliki pada tingkat yang sama.

Sederhana, sekali lagi. Diperlukan otot untuk membangun otot. Maka dari itu, untuk membangun disiplin diri, kita memerlukan disiplin diri. Apakah bisa, saya yakin kita bisa, pasti bisa. Modalnya sepertinya hanya niat yang benar dan segera bertindak. Itu saja. 

Pasti kita pernah menyaksikan para binaragawan, baik di TV maupun di sekitaran kita. Rata-rata mereka mempunyai otot yang kuat dan badanya sangat bugar. Tentu untuk bisa mencapai kondisi tubuh yang ideal seperti itu tidak cukup berlatih satu atau dua hari saja. Pasti butuh berlatih dengan disiplin dan pola makan yang teratur juga. 

Kira-kira cara untuk membangun disiplin diri analoginya sama dengan melakukan angkat beban untuk membangun otot. Ini berarti mengangkat beban sampai mendekati batas kemampuan kita. Perhatikan ketika kita mengangkat beban, kita mengangkat beban yang mampu kita angkat. Kita memaksa otot-otot sampai kita tidak kuat lagi dan kemudian beristirahat.

Dari situ, mungkin cara dasar untuk membangun disiplin diri adalah dengan menjalani tantangan yang mampu kita selesaikan, tapi untuk menyelesaikannya kita harus bersusah payah dan mengerahkan segenap kekuatan yang kita miliki. Ingat ya, ini bukan berarti mencoba melakukan sesuatu dan gagal melakukannya setiap hari. Ini juga bukan berarti kita harus melakukan sesuatu yang dapat dengan mudah  dilakukan. Kita tidak akan mendapatkan kekuatan dengan mengangkat beban yang tidak mampu kita angkat dan juga tidak akan mendapatkan kekuatan dengan mengangkat beban yang terlalu ringan.

Lalu, kalau begitu kita harus bagaimana? Kita harus memulai dengan beban atau tantangan yang dapat kita jalani, namun untuk melakukan hal itu, kita harus bersusah payah sampai mendekati batas kekuatan yang kita miliki. 

Ada istilah begini "Latihan Progresif" Yang kurang lebih maknanya demikian "sekali kita sukses, kita menaikkan tingkat tantangannya setingkat lebih tinggi". Artinya, jika kita tetap mengangkat beban dengan berat yang sama setiap waktu, pasti tidak akan bertambah kuat. Demikian halnya, jika gagal menantang diri sendiri dalam kehidupan, kita tidak akan mampu untuk berdisiplin diri.

Bukan sesuatu yang benar jika kita memaksa diri kita terlalu keras saat membangun disiplin diri. Jika ada murid kita mencoba menyelesaikan seluruh pelajaran dalam semalam untuk menghadapi ujian dan keesokan harinya ia berharap bisa menyelesaikan seluruh soal ujian dengan baik dan bisa mencapai tujuan pembelajaran secara konsisten, hampir pasti dia akan mengalami kegagalan. Hal itu sama seperti kita yang pergi ke tempat fitnes untuk pertama kalinya dan mencoba mengangkat beban 300 kilogram. Kita kayaknya hanya akan terlihat bodoh, dan bahkan akan menjadi bahan tertawaan. Hehe

Namun, Jika siswa kita hanya mampu menyelesaikan 1 lembar bacaan dalam sehari dan kita hanya bisa mengangkat sepuluh kilogram beban. Bukan sesuatu yang memalukan jika siswa kita dan tentu juga kita memulai dari apa yang bisa dilakukan. Dengan latihan secara bertahap dan istiqamah, dia akan semakin pandai, dan otot-otot kita akan menjadi semakin kuat.

Sama halnya jika sekarang kita sangat tidak disiplin, sebenarnya kita masih dapat menggunakan sedikit disiplin yang kita miliki untuk dilatih sehingga dapat menjadi semakin disiplin. Semakin kita disiplin, hidup kita tentu semakin mudah untuk dijalani. Tantangan yang pada mulanya terlihat mustahil bagi kita untuk dijalani, akhirnya akan tampak lebih ringan dan mudah. Saat kita semakin kuat, yakinlah berat beban yang sama akan terasa semakin ringan.

Yang terakhir, akan menjadi lebih cerdas dan bijak, jika kita tidak bandingkan diri kita atau siapa saja dengan orang lain. Sebab, itu sama sekali tidak akan menolong. Kata bijak mengatakan, "Jika Anda berpikir bahwa Anda lemah, orang lain akan tampak lebih kuat. Sebaliknya, jika Anda berpikir bahwa Anda kuat, orang lain akan tampak lebih lemah". 

Walhasil, mari kita lihat kemampuan kita sendiri dan bercita-citalah bahwa kita akan semakin kuat saat melatih diri. Terus semangat untuk berlatih dan istiqomah. Salam sukses. Amin. 

Punjul, 24 November 2020

Ormas Islam Sebagai Perekat Bangsa


S u b a d i 

Bismillah, salah satu tugas mulia yang diemban oleh ormas-ormas Islam di bumi pertiwi ini adalah ikut serta dalam mewujudkan tatanan masyarakat muslim yang cerdas, santun, dan moderat. Sehingga keberadaannya sebagai mitra pemerintah akan lebih bermakna dan bermartabat, bukan malah sebaliknya. 

Agama sebagai salah satu perekat kehidupan berbangsa dan bernegara bagi saya merupakan suatu keniscayaan. Disadari atau tidak, fakta menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius, di dalamnya terdiri dari berbagai umat beragama. Oleh sebab itu, menurut hemat saya Ormas keislaman juga memiliki tanggung jawab untuk ikut andil mencerahkan umatnya terkait kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Banyaknya faham keislaman yang dianut umat islam, sekaligus banyaknya varian madzhab merupakan tantangan Ormas Islam sekarang. Meskipun sejatinya keragaman madzhab ini tidak perlu lagi dikhawatirkan karena telah terbukti berjalan beratus tahun yang membuat Islam di Indonesia selalu dinamis. 

Namun, Lagi-lagi yang perlu menjadi perhatian adalah faham keislaman yang mempunyai kecenderungan menegaskan kelompok lain yang berbeda. Kelompok yang memiliki faham seperti ini, dalam literatur sejarah Islam dikenal dengan khawarij, ia memiliki pengaruh, apalagi di masa kini sebarannya lebih efektif, sebab banyak menggunakan medsos sebagai basis kegiatannya. 

Banyaknya kanal-kanal medsos dan mudahnya orang menyampaikan ceramah keislaman tanpa generasi keilmuan keislaman yang memadahi musti disadari oleh Ormas Islam bahwa itu adalah bagian dari tantangan. Sebab jika tidak ada gerakan masif untuk merevitalisasi bahan-bahan dakwah bisa jadi masyarakat akan sangat mudah terbawa oleh faham keislaman ekstrem yang justru jauh dari teladan Rasulullah, para sahabat, dan ulama' saleh. 

Dalam sejarah peradaban islam, terbukti adanya kelompok yang mengaku dirinya muslim, namun memiliki pandangan keras dan ekstrem, apalagi di era sekarang ini, bisa jadi lebih banyak dan masif. Jika tidak diwaspadai tentu memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap masyarakat muslim, berfaham namun ekstrem, yang dapat memecah belah umat dan bangsa. Pastinya tidak diharapkan. 

Oleh sebab itu, untuk memperkuat sekaligus memperbanyak pengikut faham keislaman yang moderat, yang selaras dengan jati diri bangsa Indonesia rasanya juga perlu cara, motode serta strategi penyampaian dakwah yang relevan dan peka zaman. 

Kita tahu bahwa para ulama saleh telah banyak memberikan contoh tradisi tulis/literasi yang sangat produktif. Tradisi lisan, seperti pidato, ceramah, tabligh dan lainnya juga penting. Namun, di era sekarang ini jangan sampai meninggalkan tradisi tulis. Dakwah secara lisan dan tertulis sangat perlu digalakkan bersama-sama oleh Ormas-ormas Islam, terutama yang menjunjung tinggi sikap tawassuth dan menghargai perbedaan. Kuncinya dengan mengedepankan sumber keislaman yang bisa dipertanggungjawabkan. 

Era sekarang serba digital. Kanal-kanal medsos sudah semestinya dipenuhi dengan materi-materi keislaman yang menyejukkan dan mencerahkan. Sehingga besar harapan masyarkat umum lebih mudah mendapatkan sajian materi keislaman yang menyejukkan melalui medsos tersebut. 

Oleh karena itu, seiring dengan menjamurnya faham keislaman yang ekstrem sudah waktunya Ormas Islam melakukan terobosan untuk berjuang demi hadirnya konten ajaran Islam yang moderat, modern, sejuk, sekaligus mencerahkan. Meskipun pelan tapi pasti. Jayalah negeriku, majulah bangsaku, salam guyup rukun selamanya. Wallahu a'lam bissowab. 

Punjul, 23 November 2020






Santri & Jihat Literasi [Refleksi 10 November 2020]

S u b a d i    Bismillah, Bukan rahasia lagi, bahwa santri selalu menjadi aktor utama dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Resolusi jihad puncaknya ditandai dengan peperangan 10 November di Surabaya adalah salah satu bukti nyata bahwa kaum santri senantiasa menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan kemedekaan Tanah Air.
 
Membincang soal perjuangan kaum santri, jika kita menilik fakta sejarah, tentu tidak hanya perjuangan merebut kemerdekaan, kaum santri juga aktif dalam mengisi dan berkontribusi dalam sejarah perkembangan bangsa Indonesia sampai saat ini. Santri harus sadar bahwa keberadaannya menjadi benteng moral dan spiritual yang mampu menjaga bangsa ini dari berbagai macam ideologi yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. 

"Hubbul wathan minal iman" bukan sekadar slogan, namun telah menjadi ruh dan darah yang mengalir pada denyut nadi kaum santri. Mereka akan terus berjuang mempertahankan sekaligus mengisi hasil perjuangan para ulama dalam memerdekakan negeri ini. Tentunya sebagai wujud syukur kepada Sang Khaliq, tanda cinta kepada bumi pertiwi, dan ungkapan Terima kasih kepada para pejuang yang telah berkorban jiwa raga demi satu kata "merdeka".

Namun, ada pertanyaan penting yang patut kita renungkan, apa bentuk konstribusi kaum santri di era modern sekarang ini? Ya, kita percaya dan sadar hari ini kita telah merdeka, tetapi bukan berarti bangsa ini tidak memiliki masalah dan tantangan lagi. Kemajuan teknologi yang sangat cepat tidak hanya memberikan kemajuan, inovasi, dan berbagai kemudahan, tetapi juga melahirkan berbagai persoalan besar yang tidak terpikirkan sebelumnya.
 
Melesatnya perkembangan teknologi informasi melahirkan satu dunia baru yang bergerak dengan sangat cepat. Dunia maya adalah dunia yang terbuka dengan lalu lintas informasi super cepat dan tanpa batas. Dunia virtual ini menghujani otak dengan jutaan informasi setiap hari, namun perlu disadari dengan sepenuhnya bahwa tidak semua kabar benar dan bermanfaat. Sebagian besar informasi yang diterima justru berisi kabar bohong/hoak dan informasi yang justru kurang manfaat.
 
Tidak hanya itu, keterbukaan informasi digital membuka medan perang baru yaitu perang ideologi. Di dunia maya khususnya media sosial, akan melihat lalu lalang berbagai ide dan gagasan dari berbagai macam ideologi. Gagasan-gagasan itu saling serang satu sama lain, saling menjatuhkan, bahkan jika perlu saling mematikan. Hal itu bisa berupa ideologi negara, agama, politik dan lain sebagainya. 
   
Sayangnya di tengah tumpukan masalah yang lahir akibat kemajuan teknologi informasi, kemampuan literasi santri masih dipertanyakan. Kemampuan untuk menyaring informasi, kemampuan bertahan dari berbagai macam ideologi yang menyerang ideologi negara, atau ideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, agaknya salah satu kontribusi besar yang bisa dilakukan santri pada zaman ini adalah dengan jihad literasi. Literasi yang mencakup kemampuan membaca dan menulis, mengelola dan memahami informasi, berpikir kritis, kemampuan memecahkan masalah, serta penguasaan teknologi.

So, jihad literasi merupakan usaha sungguh-sungguh untuk meningkatkan kemampuan dan potensi santri dalam hal yang telah disebutkan di atas. Semua kemampuan tersebut sangat dibutuhkan pada zaman ini. Jika membaca sejarah, budaya literasi telah dilakukan oleh para ulama terdahulu, bahkan  tradisi menulis sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW. Beberapa sahabat mengumpulkan dan menulis al-Qur’an. Walaupun sempat dilarang, akhirnya hadits Rasulullah juga akhirnya ditulis dan dibukukan. 

Satu bukti manfaat konkrit aktivitas literasi yang dilakukan para sahabat kalau itu, kita yang hidup di zaman yang jauh dari mereka dapat dengan mudah mempelajari hadits dari Rasulullah. Tradisi literasi itu terus berkembang, yang puncaknya pada zaman Dinasiti Abasiyah sehingga Islam menjadi pusat kebudayaan intelektual. Walaupun setelah  masa itu ada kemunduran, tetapi aktivitas menulis masih tetap berlangsung sampai sekarang. 

Para ulama Nusantara juga ikut andil dalam budaya literasi ini. Seperti Imam Nawawi al-Bantani, Syekh Makhfudz al-Turmusi, K.H Hasyim As'ary adalah contoh ulama Nusantara yang karyanya banyak dan diakui oleh ulama baik di dalam atau di luar negeri.

Kesimpulannya, ketika para santri melakukan jihad literasi, itu berarti mereka meneruskan dan melestarikan budaya literasi yang telah dibangun para ulama dan kiai. Sejarah peradaban Islam pada dasarnya dibangun atas budaya literasi yang sangat kuat. Oleh karena itu harus tetap mempertahankan budaya itu dengan baik. Tak sedikit pakar dan ilmuan di masa ini berpendapat bahwa pada zaman dengan kecepatan informasi seperti sekarang, budaya literasi merupakan kebutuhan primer. Tanpa kemampuan literasi akan hilang dalam jagat dunia maya yang begitu keras.

Dengan demikian, kemampuan literasi akan menjadi modal utama bagi santri untuk bisa beradaptasi dengan dunia modern. Tanpa kemampuan literasi yang mumpuni khususnya literasi informasi dan media, santri akan mudah terombang-ambing oleh derasnya arus informasi. Akan mudah kehilangan keyakinan, jati diri dan bahkan ideologi yang dibawa dari pesantren. Dunia modern juga dibangun di atas perangkat teknologi yang sangat canggih. Santri yang selalu mendapatkan stigma gagap teknologi, bisa jadi akan sangat kesulitan melebur dalam dunia yang canggih. Untuk itu penguasaan literasi digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditolak, karena tanpa kemampuan penguasaan teknologi itu, santri hanya akan menjadi objek, bukan subjek yang mampu mengusai teknologi. 

Kemampuan literasi yang baik juga dapat dijadikan sebagai senjata yang ampuh untuk berdakwah. Bukankah santri adalah agen perubahan dalam dunia dakwah? Hari ini medan dakwah sangat terbuka lebar dengan adanya dunia maya. Manusia modern khususnya para remaja lebih banyak menghabiskan waktunya di media sosial, dengan demikian itu adalah tempat yang paling tepat untuk melakukan dakwah.

Untuk berdakwah di media sosial tentunya membutuhkan kemampuan literasi yang baik, terutama kemampuan menulis, agar dakwah bisa dilakukan dengan efektif. sebab itu, santri sebaiknya menyiapkan diri menghadapi situasi semacam itu, salah satunya dengan melakukan jihad literasi sebagai bukti cinta kepada negeri. Selamat hari pahlawan 2020. 

Siapa kita? NU
Indonesia? Jaya
NKRI? Harga mati
Ma'arif NU? Luar Biasa

Madiun, 10 November 2020
#Parkiran MAN 2 Madiun

Pelestarian Lingkungan Hidup Bagian Dari Iman


S u b a d i

Bismillah, disadari atau tidak sejatinya kehidupan alam semesta dalam pandangan Islam berjalan di atas prinsip keselarasan dan keseimbangan. Alam semesta berjalan dan berputar atas dasar pengaturan yang serasi dan dengan perhitungan yang tepat, semua tiada terlepas dari kodrat sekaligus iradat Sang Pencipta, Allah SWT. 

Dalam kasap mata, sekalipun di dalam alam ini tampak seperti unit yang berbeda-beda, namun sejatinya jika kita mau sejenak merenungkannya, semuanya berada dalam satu sistem kerja yang saling mendukung, saling terkait dan saling tergantung satu sama lain. Yakinlah, jika ada satu bagian yang rusak pasti menyebabkan bagian lain menjadi rusak pula. 

Dengan demikian, sekiranya tidak berlebihan bila segenap tindakan manusia yang nota bene mengemban amanat sebagai khalifah fil ard ini harus didasarkan atas perhitungan-perhitungan cermat dan cerdas yang diharapkan dapat mendukung prinsip keteraturan dan keseimbangan tersebut. Yakinlah pula, yang demikian itu akan mengantarkan kepada ridha Allah, sebab prinsip itu -keteraturan dan keseimbangan- akan mengantarkan penciptaan alam ini kepada tujuan yang dikendakiNya. 

Manusia yang beriman dituntut memfungsikan imannya dengan meyakini bahwa pelestarian dan penyelamatan lingkungan hidup adalah juga dari bagian iman itu sendiri. Sebab itulah wujud nyata dari statusnya sebagai khalifah fil ard, mengemban amanat dan tanggung jawab atas keamanan dan keselamatan lingkungan hidup. Lingkungan hidup musti dijaga dan dipelihara dengan baik dan terlindungi dari pengrusakan yang berakibat mengancam hidup manusia itu sendiri. 

Walhasil, jika kita masih berkeinginan untuk menjaga dan menyelamatkan hidup bumi ini dan manusia itu sendiri, maka kita harus berani mengatakan bahwa "alam adalah bagian dari kehidupan dan alam itu sendiri hidup". Alam bersama isinya -air, tanah, tumbuhan, dll- semuanya senantiasa bertasbih kepada Allah dengan caranya sendiri-sendiri. Semuanya bersama manusia, mempunyai fungsi untuk menjaga keseimbangan alam. Karena pada hakikatnya manusia adalah bagian dari alam, yakni sebagai salah satu unsur yang menjaga keseimbangan alam. Kiranya, itulah yang dimaksud khalifah sebagaimana diabadikan dalam al-Quran. Wallahu a'lam bisshawab. 

Punjul, 9 November 2020






MANUSIA MEMANG HARUS BERFIKIR


S u b a d I

Bismillah, hari ini sebagian wilayah di Indonesia sedang menunggu hujan, namun hujannya tak kunjung datang. Sebagian wilayah yang lain tidak menunggu hujan, namun hujan yang tidak ditunggu itu datang dengan derasnya sehingga berakibat banjir, tanah longsor, dan bahkan menelan korban, orang terbawa arus, tertimbun longsor, dan tak sedikit tanaman yang diidam-idamkan kini menjadi gagal penen. 

Akhir-akhir ini, musim kemarau maupun penghujan bisa datang sewaktu-waktu, tidak seperti dahulu kala yang dengan mudah ditebak oleh petani desa. Kini musim kemarau masanya bisa lebih lama dari biasanya, atau malah sebaliknya. Begitu pula musim penghujan kadang juga bisa lebih lama dari biasanya, pun juga sebaliknya. Karena itu, kita semua, termasuk bangsa ini harus berfikir dan memikirkan terhadap fenomena alam ini. 

Sepakat atau tidak, orang kebanyakan sekarang ini memang sudah berfikir, tetapi pikirannya mungkin sebatas pada pekerjaannya masing-masing, dan sikap seperti itu tidaklah cukup. Banyak orang sering kali bertanya dengan pertanyaan "apa", namun sering kali tidak bertanya menggunakan pertanyaan " mengapa"?. Misalnya, mengapa sekarang ini belum masuk musim penghujan kok sudah turun hujan, bahkan bisa begitu deras. Bagaimana akibatnya terhadap petani yang sudah terlanjur menanam jagung atau tembakau? Akibatnya, tanaman itu mati karena terlalu banyak tergenang air, atau bisa saja penen, tetapi hasilnya tentu tidak maksimal. 

Membincang soal hujan, tentu hujan itu bisa menjadi rahmat dan sebaliknya bisa menjadi petaka. Yang jelas, hujan akan menjadi rahmat tergantung bagaimana sikap manusia itu sendiri, yang terpenting adalah jangan sampai alam ini dirusak atau jangan merusak alam. Hujan itu adalah rahmat, namun jika kita tidak bisa mengolah lingkungan kita maka akan sangat mungkin terjadi banjir, yang berarti menjadi petaka. 

Oleh sebab itu, kata Ni'mah itu jika sedikit saja dirubah, menjadi Niqmah akan berubah sekali artinya. Ni'mah mengandung unsur ketenangan, kesenangan, dan kegembiraan, tetapi kalau dibaca Niqmah di sana ada unsur derita, gelisah, dan kesusahan. 

Walhasil, hakikatnya keseluruhan alam ini adalah rahmat, yang bisa menjadi ni'mat dan juga bisa menjadi niqmat. Dan, itu semua sangat tergantung kepada manusianya untuk menyikapi, memahami, menangani, serta memelihara. Karena itu, setiap kali kita mendapatkan kesulitan maupun penderitaan, sudah sepantasnya kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Apa yang salah pada diri saya? Jangan menyalahkan orang lain, atau lebih berbahaya lagi jika kita menyalahkan Sang Pencipta. Ibda' binafsik... 

Punjul, 12 Oktober 2020

Kisah 2 Dua Orang Hebat


S u b a d i

Bismillah. Pasti tidak mudah bagi seorang anak laki-laki yang ditinggal untuk selamanya oleh Bapaknya saat masih kecil, sedangkan ia adalah anak laki-laki tertua dalam keluarga. Kini ia harus menggantikan peran Bapaknya menjadi tulang punggung kelurga untuk membantu Ibunya mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Kini tinggallah seorang Ibu, dia, dua kakak perempuan, satu adik laki-laki, dan satu adik perempuan. 

Lima bersaudara itu usianya berdekatan, bahkan saat dia ditinggal untuk selama-lamanya oleh sang Bapak, ia masih sangat belia, masih blm cukup usia 10 tahun, baru saja masuk sekolah dasar. Memang ayahnya saat menikah dan mulai membangun bahtera rumah tangga usianya sudah tak muda lagi. 

Subutlah Imam Safari, itu nama ayahnya yang pergi untuk selamanya. Sedikit berkisah tentang sosok hebat ini, mulai kecil beliau hijrah ke banyuwangi untuk keperluan thalabul ilmi, entah berapa tahun waktu yang beliau habiskan untuk menimba ilmu agama sekaligus mengabdikan diri kepada sang Kyai. 

Hingga suatu saat, sangking lamanya dan tak kunjung pulang kampung, keluarga yang ada di rumah dilanda kegelisahan, apakah ia masih hidup atau sudah meninggal dunia, semua kelurga tidak ada yang tahu pasti, tidak ada kemampuan untuk mencari tahu kabar tentang Safari muda. 

Sebab terlalu lama menunggu dan tidak ada kepastian akan kabar Safari, kala itu keluarga sepakat dan meyakini dengan sepenuhnya, pasti ia telah meninggal dunia, kehadirannya tak bisa diharapkan kembali. Mungkin ini adalah takdir yang telah digariskan oleh Allah untuk keluarga itu, kehilangan salah satu anggota keluarga yang mereka sayangi dan sangat diharapkan kepulangannya, namun sudah begitu lama mereka menunggu, tetap saja Safari tak kunjung kembali pulang.

Akhirnya sebagai penghormatan terakhir untuk Safari yang dianggap telah meninggal itu, keluarga mengadakan hajatan, yakni slametan. Sebagaimana tradisi yang sering dijumpai tatkala ada anggota keluarga yang meninggal. Kerabat berkumpul untuk menggelar acara slametan, rumah mulai ramai tetangga yang berkumpul untuk membantu menyiapkan hidangan, beberapa makanan ringan mulai dibikin, mendut, apem, pisang goreng, jadah, kucur, lemet, dan lain-lain. 

Sebagaimana kebiasaan yang sudah menjadi tradisi, beberapa tetangga diundang hadir ke rumah sederhana itu untuk ikut berdoa dan membacakan amalan tahlil bersama, yang akan dihadiahkan kepada Safari yang diyakini telah meninggal dunia itu. Acara akan dimulai setelah shalat maghrib. Kini waktu menunjukkan pukul 17.15 seluruh hidangan yang akan disajikan kepada tamu undangan sudah siap, sepertinya tidak ada yang kurang satu pun.

Alhmdulilah, acara doa dan tahlilan bersama berjalan dengan lancar dan penuh khidmat, harapan keluarga, semoga Safari bisa tenang menghadap Allah, diampuni semua khilaf dan diterima semua amal kebajikannya. Semoga rahmat Allah selalu menyertainya, begitulah kira-kira harapan keluarga kepada Allah SWT. 

Sangking tulusnya keluarga dan keyakinan akan keadaan Safari, akhirnya Safari mendapatkan isyarat yang tak lazim, ia tak merasa makan apem, memang ia tidak makan apem sama sekali. Namun, ia muntah apem beberapa kali, ia terkejut, bingung, dan keget. Karena ia merasakan hal yang aneh dan tak wajar itu, kemudian ia sowan kepada Kyai dan mengadukan kejadian aneh itu untuk minta isyarat, apa yang sebenarnya sedang terjadi. 

Bersambung..... 








Renungan di Bilik Hati


S u b a d i

Bismillah. Hati dan kehidupannya laksana gunung besar yang menjulang tinggi, sejuk dan indah. Terlebih jika dipandang dari kejauhan, setiap mata yang memandang akan meninggalkan kesan indah, sejuk, damai, hening dan penuh ketenangan.

Namun sesungguhnya, jika kita dekati di dalamnya terdapat hutan belantara, jejurangan, tebing curam, bahkan sungai-sungai yang bekelak-kelok hingga penuh bebatuan. 

Hutan belantara juga identik dengan rimbunnya berbagai jenis pepohonan, ada yang berbuah ada yang tidak. Pohon yang berbuah pun ada yang dapat dimakan karena enak, manis, dan nyaman rasanya, namun tak sedikit juga yang beracun, bahkan bisa mematikan. 

Begitulah keadaan kehidupan hati. Pada titik waktu tertentu hati bisa merasa bahagia, namun pada titik waktu yang lain juga bisa bersedih. Kadangkala terasa bersemangat untuk melakukan sesuatu, namun sekali waktu hanya tersisa rasa kemalasan. 

Manusia sebagai pemilik hati, kayaknya tak bisa membebaskan diri dari rasa bahagia serta kesedihan, juga tak mampu menghindari kemudahan serta kesulitan. Tegasnya, setiap manusia hidup yang dianugerahi hati oleh Tuhan senantiasa memikul rasa bahagia juga beban penderitaan. 

Pasti kita sudah tahu sifat air mengalir. Kebanyakan sungai berkelak-kelok, artinya kemana sungai berkelok di situ air mengikutinya hingga ke muara. Sepertinya, mustahil air menentang dan bisa kembali pulang ke sember asalnya, di atas bukit yang tinggi. Air yang mengalir itu, dalam perjalannya sering bertemu dengan bebatuan, dari yang kecil, sedang, besar, hingga kelokan tajam. 

Hidup pun juga demikian, kita sadari atau tidak, tak selamanya kita selalu bertemu dengan sesuatu yang kita senangi, namun juga sering, bahkan sangat sering berjumpa dengan sesuatu yang sulit hingga menyibukkan pikiran. Seperti ujian hidup, cobaan, wabah, bertambahnya usia, sakit, dan berbagai warna kehidupan.

Kita hidup dan kaki berpijak di tengah tatanan norma, tradisi, hingga moral agama. Maka kemerdekaan kita tak sebebas yang selalu diharapkan. Tegasnya, tidak semuanya boleh melakukan sesuatu hal sekehendak pikiran dan keinginan kita. Kita berjalan, bertindak senantiasa terikat oleh tatanan yang ada, demi terciptanya keseimbangan. 

Namun demikian, bukan berarti kita tak bisa menjelmakan hati menjadi sebening embun di pagi hari. Salah satu kuncinya adalah senantiasa berfikir positif di setiap suasana dan keadaan. Sebab dengan berfikir positif akan lebih mendekatkan kepada kebahagiaan, hidup menjadi lebih terasa hidup, dan hati pun menjadi bening dan lembut. 

Sungguh berbeda dengan kita yang merawat berfikir negatif. Sebab hanya akan menyisakan ketakutan, gelisah, sakit, hingga kesengsaraan. Kesedihan yang tak kunjung purna hanya akan menggangu ketenang hati. Membayangkan keburukan hanya akan menguras energi pikiran, ia akan habis untuk hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan. 

Tugas kita hari ini adalah senantiasa berusaha menjalankan hidup dengan sebaik-baiknya. Menatap hari esok dengan doa, ihtiyar, dan husnuddzan. Wallahu a'lam bisshawab. 

Punjul, 7 September 2020

Cambuk Disiplin Melawan Corona


Bismillah. Sampai saat ini, dunia dan kususnya bangsa Indonesia masih dihantui oleh peredaran Corona. Pengaruhnya sangat luar biasa, semua spendi kehidupan hampir seluruhnya terimbas oleh Corona. Entah sampai kapan wabah ini akan berakhir, yang jelas seluruh elemen masyarakat dan pemerintah telah bahu membahu berihtiyar supaya wabah ini cepat berakhir. 

Masyarakat di Republik ini sangatlah variatif, dari tingkat pengetahuan, pendidikan, kesejahteraan, hingga kesadarannya dalam menyikapi penyebaran Corona, banyak yang taat menerapkan protokol kesehatan, namun tak sedikit pula yang acuh dan kurang menghiraukan himbuan pemerintah untuk selalu disiplin menerapkan protokol kesehatan, memakai masker, menjaga jarak, cuci tangan, tidak berkerumun, misalnya

Setiap penyakit pasti ada obatnya, namun faktanya sampai saat ini belum diketemukan obat untuk Corona. Bahkan, seperti diberitakan akhir-akhir ini, Corona mulai mutasi dan berkembang lebih ganas. Maka dalam hal ini, salah satu vaksin atau obat untuk melawan Corona tak lain adalah sikap disiplin. Tidak ada salahnya kita belajar dari al-Quran surat yasin ayat 40 :

لاالشمس ينبغي لها ان تدرك القمر ولا اليل سابق النهار، وكل في فلك يسبحون. 

Artinya;  "matahari tidak akan dapat mendahului bulan, dan tidak juga malam dapat mendahului siang, dan masing-masing pada garis edarnya terus menerus beredar".

Ayat di atas, sejatinya sedang memberi pelajaran kepada kita, bahwa alam semesta ini dengan segala sunnatullah berjalan dengan disiplin. Tegasnya, bulan, matahari, bintang-bintang, dan planet-planet mampu tampil dengan menjaga disiplin

Menurut hemat saya, salah sekali jika manusia yang statusnya menyandang predikat sebagai khalifah fil ard atau khalifah di muka bumi manakala tidak menjaga sikap disiplin

Dalam konteks menghadapi wabah Corona ini, benar jika seluruh masyarakat Republik tercinta ini senantiasa mengikuti aturan pemerintah untuk selalu disiplin menjalankan protokol kesehatan kapan dan di manapun berada. 

Sesuatu yang tidak boleh ditawar-tawar, masyarkat untuk selalu memakai masker, utamanya jika keluar rumah. Membiasakan pola hidup bersih dan sehat, dengan rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Disiplin untuk selalu menjaga jarak dan tidak berkerumun. Apalagi, bagi orang yang usianya lanjut, untuk lebih waspada dan hati-hati, sebab lebih rentan, terutama lagi yang mempunyai penyakit bawaan. 

Meski demikian, bukan berarti kita harus merasa takut yang berlebihan, namun bukan pula menganggap remeh, enteng. Yang lebih bijak adalah mengambil sikap pertengahan. Sebab jika selalu takut, was-was bisa jadi malah akan berakibat buruk bagi kesehatan dan imunitas tubuh. Maka mengedepankan sikap optimistis dan menjaga hati bahagia adalah pilihan yang tepat, tanpa mengesakpingkan sikap disiplin menerapkan protokol kesehatan. 

Terakhir, di malam jumat ini, mari kita berdoa, dengan keyakinan semoga pertolongan Allah selalu menyertai kita semua, dan wabah ini segera berlalu. Sehingga new normal benar-benar terlaksana dengan sesungguhnya. Amin... Amin... 

Punjul, 3 Agustus 2020



𝗥𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻

𝘒𝘦𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘰𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪...