google-site-verification=a29cQDLicXmx_KpxGtFuPjFzKNqoMZ3FEdNxkyQfTTk Kang Badi'

Ayo Bercerita Tentang Indonesia !


S u b a d i

Bismillah. Termasuk bagian dari rakyat Indonesia, kita pada hari ini, selasa 1 Juni 2021 sangat layak untuk mengingat bahwa setiap tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Mengingat-ingat saja ihwal hari bersejarah itu bagi penulis merupakan wujud syukur dan bukti kecintaan kita pada bumi pertiwi, sekaligus penghormatan kepada para Pahlawan bangsa yang telah memperjuangkan kemerdekaan Negara Indonesia.

Mengingat, ada satu tonggak awal dimana seluruh anak bangsa dengan leluasa untuk bergerak wewujudkan cita-cita kehidupan bangsa Indonesia yang lebih baik, adil, dan sejahtera. Tonggak awal itu adalah dikumandangkannya Proklamasi kemerdekaan. Ia sejatinya buah perjuangan panjang dan meletihkan seluruh anak bangsa dalam rangka menjaga, melawan, dan mempertahankan kehormatan bumi pertiwinya dari segala bentuk penjajahan. 

Semangat perjuangan merupakan nilai dasar yang dikandung oleh proklamasi. Semangat itu berkobar untuk berperan sebagai pembangkit semangat melakukan pembangunan diberbagai bidang, baik mental, spiritual, ideologi, politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, dan juga keamanan.

Sejarah mencatat bahwa presiden pertama Republik Indonesia dalam pidatonya di forum PBB tanggal 30 September 1960 memperkenalkan kepada dunia bahwa Pencasila sebagai konsepsi dan cita-cita bangsa Indonesia. dst




LEBARAN Yesss!

S u b a d i 

Bismillah. Ada satu momen utama yang selalu ditunggu-tunggu oleh muslim Indonesia sehabis 1 bulan penuh menjalankan ibadah Puasa Ramadhan. Ya, momen itu disebut Lebaran. Lebaran bisa dimaknai sebagai ajang silaturrahim untuk berkunjung ke keluarga, sanak saudara, tetangga, teman, sesepuh, guru, dan masyarakat luas. 

Lebaran sendiri sudah sejak lama menjadi tradisi muslim Indonesia. Bahkan mereka rela berbondong-bondong mudik [pulang kampung] setiap Lebaran tiba. Tak lain karena sebuah tujuan untuk menyambung tali kasih, pengobat rindu, saling bermaafan, berbagi, dan mempererat tali persaudaraan. Sesungguhnya momen Lebaran yang demikian itu hakikatnya adalah Silaturrahim

Jika ditelisik lebih dalam lagi, silaturrahim sebagai agenda utama lebaran secara syariat merupakan amalan mulia yang diperintahkan agama yang harus selalu dijaga. Silaturrahim mampu menyambungkan apa-apa yang tadinya putus dalam relasi hablum minannas. Dan bahkan, sering disampaikan bahwa silaturrahim mempunyai fadhilah memperpanjang umur serta melapangkan rezeki. 

Muhammad Quraish Shihab menuturkan satu hadits tentang subtansi silaturrahim dalam karyanya Membumikan Al-Quran: Peran dan Fungsi Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat: 317. Bunyinya demikian: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Laysa al-muwashil bil mukafi’ wa lakin al-muwwashil ‘an tashil man qatha’ak. (Hadits Riwayat Bukhari)

Artinya: “Bukanlah bersilaturrahim orang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturrahim adalah yang menyambung apa yang putus.” (HR Bukhari). 

Dari Sabda Nabi Muhammad tersebut, jelas termaktub bahwa silaturrahim menyambung apa yang telah putus dalam hubungan hablum minannas. Manusia tidak terlepas dari dosa maupun kesalahan sehingga menyebabkan putusnya hubungan. Di titik inilah silaturrahim mempunyai peran penting dalam menyambung kembali apa-apa yang telah putus tersebut.

Perlu disadari, bahwa silaturrahim tidak musti menunggu momen Lebaran tiba. Manusia tidak mungkin harus menunggu berbulan-bulan untuk menyambungkan apa-apa yang telah putus, sebab batas umur manusia tidak ada yang pernah tahu. Sehingga manusia akan sangat merugi jika nyawa tidak lagi dikandung badan sedang ia masih menyimpan salah dan dosa kepada sesama, orang lain. 

Kendati demikian, bukan berarti momen Lebaran menjadi sia-sia. Malahan, ia bisa menjadi momen yang paling tepat jika di hari-hari lain belum mampu menyambungkan apa yang telah putus. Sebab, energi kembali ke fitri turut mendorong manusia untuk berlomba-lomba mengembalikan jiwanya pada kesucian. Idul Fitri-lah yang mampu melakukannya. 

Walhasil, jangan pernah memutus tali silaturrahim, karena disamping ia mengandung bukti konkret tentang kasih sayang, ketulusan, dan rasa rahmat, silaturrahim nyatanya merupakan bagian dari syariat islam. Wallahu a'lam bisshawab.

Punjul, 22 Mei 2021

3 HAL PENOPANG IBADAH KITA !


S u b a d i

Bismillah, alhamdulillah hari ini saya masih diberi kesempatan untuk mencicipi halaman demi halaman kitab yang lama tidak saya buka. Tradisi membaca memang perlu terus dilestarikan, meskipun hanya sedikit waktu yang disisihkan untuk membaca. Ya, saya percaya membaca sejatinya bukanlah aktivitas yang berat dan membutuhkan banyak biaya. Namun jika belum terbiasa, membaca rasanya bisa menjadi sesuatu yang sangat berat, malas seperti saya ini. Hehe

Kitab yang saya miliki rata-rata hanya seputar ibadah, akhlak, ilmu Qur'an, hadits, manthiq, blaghah, ilmu alat, dan tauhid saja. Itu pun masih dalam tingkatan yang sangat dasar sekali. Maklum, saat nyantri dulu selain hanya dalam waktu yang sangat singkat, barangkali kemalasanlah yang menjadi faktor utama, sehingga tidak sampai menjadi orang alim seperti teman-teman yang lain. Namun, meski demikian saya tetap wajib bersyukur dengan kesempatan yang telah Allah berikan kala itu. Alhamdulillah. Yang sedikit ini semoga bisa bermanfaat. Amin. 

Pada beberapa halaman kitab yang saya baca, coba mengulas keterkaitan lafadz iyyaka na'budu dalam surat al-fatihah dengan persoalan ibadah kepada Allah SWT. Disebutkan bahwa ibadah seorang hamba kepada Allah SWT keberhasilannya senantiasa ditopang oleh tiga hal, yakni hati, lisan, dan angota tubuh. 

Pertama, Hati. Disebutkan bahwa ibadah merupakan perjalanan seorang hamba menuju Allah SWT. Sebelum seseorang berkata dan bertindak maka hatilah yang paling pertama bergerak dan merespons segala sesuatunya. Dalam hal ini, hati akan melintasi beberapa tahapan untuk menuju al-Haq. Persinggahan hati yang pertama adalah al-Yaqzhah yakni kerisauan hati setelah terjaga dari kelenaan. 

Secara sederhana dapat dipahami begini, seseorang yang awalnya terlena kemudian mulai tersadar. Ya, dalam keadaan sadar seseorang hatinya akan mulai galau dan ingin melakukan amal ibadah. Saat keinginan muncul pada hati seseorang pasti ia akan mendapatkan ilmu/pengetahuan untuk menuju tahap selanjutnya. 

Tahap kedua yang akan dilintai oleh hati disebut al-Azm yang bisa dimaknai dengan niat atau tekad untuk memulai sebuh amal. Saat seseorang sudah mempunyai niat dan tekad yang kuat, ia akan segera mempersiapkan diri untuk belajar tentang cara dan lain hal yang dapat mengantarkan dia kepada tujuannya. Bahkan, disamping itu ia akan mencari cara bagaimana menyikapi godaan dan rintangan yang akan menghadang tujuannya. 

Kemudian, setelah niat dan tekad telah menjadi kuat, maka seseorang akan memasuki apa yang disebut dengan Fikrah. Al-fikrah merupakan fokusnya perhatian hati kepada sesuatu yang hendak dituju atau dicari, meskipun dia belum memiliki gambaran jalan yang akan ditempuh untuk mengantarkan kepada sebuah tujuan. Itulah makna fikrah

Sejatinya, hati yang sudah terfokus, hanya memiliki satu tujuan yakni kepada Allah semata, tanpa terpengaruh godaan dari kanan maupun kiri. Jika ini sudah terjadi, maka seseorang akan memasuki tahapan al-bashirah. Lalu apa maksud dari al-bashirah itu? Disebutkan bahwa ia adalah cahaya dalam hati untuk melihat janji dan ancaman, surga dan neraka. Tegasnya, cahaya bashirah merupakan sebuah keistimewaan atau ilmu yang disusupkan oleh Allah SWT ke dalam hati hambaNya. Ia menjadi mata batin yang mampu mengetahui apa-apa yang terkandung dalam sesuatu yang madharat maupun manfaat, begitu juga yang terkandung di balik larangan maupun perintah Allah SWT. 

Jika hati seseorang telah mendapatkan hal-hal tersebut, dapat dipastikan hatinya akan semakin tulus dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT. Hatinya mempunyai tujuan yang satu, yaitu terfokus kepada Allah SWT. Dan apabila maksud/tujuannya kuat maka ia akan memulai perjalanan menuju Allah SWT dengan tawakkal. 

Kedua, Lisan. Meskipun hati seseorang telah kokoh sebagai penopang utama ibadah seseorang, namun lisan tidak kalah penting. Dijelaskan ibadah secara lisan setidaknya harus memperhatikan lima perkara. Yang wajib bagi lisan diantaranya mengucapkan dua kalimat syahadat, sebuah kesaksian kepada Allah SWT serta merupakan pondasi ibadah. Kemudian lisan untuk membaca al-Qur'an, seperti menjaga keabsahan shalat, mengucapkan zikir yang wajib dalam shalat, dan membalas salam atau mengucapkan salam. 

Yang sunnah bagi lisan di antaranya membaca Al-Qur'an secara rutin/istiqomah, menyebut asma Allah, menggali ilmu dan lain sebagainya. Sedangkan yang haram bagi lisan di antaranya mengucapkan perkataan yang dibenci Allah SWT dan RosulNya, menyampaikan  sesuatu yang bertentangan dengan ketetapanNya, menyuruh kepada bid'ah, menuduh, mencaci, bohong, memberi kesaksian palsu, dan mengatakan tentang Allah SWT tanpa didasari ilmu. Sedangkan yang makruh bagi lisan adalah mengatakan sesuatu, padahal andai kata hal itu tidak dikatakan, maka akan lebih baik. 

Ketiga, Anggota Tubuh. Anggota tubuh seseorang tidak bisa dinafikan dalam urusan ibadah, karena ia sangat menentukan terjadinya sebuah tindakan ibadah atau amal ibadah. Munculnya sebuah amal untuk berbuat semata-mata terdorong oleh tujuan yang kuat. Tekat yang kuat itu menjadi daya yang memotivasi terjadinya tindakan/amal. Sehingga seseorang akan segera dapat mengawali ibadah, yakni berbuat dalam melakukan perjalanan menuju Tuhan Yang Maha Benar. 

Walhasil: Ketiga penopang ibadah ini [hati,lisan, dan anggota tubuh] haruslah sejalan dan disempurnakan, demi terlaksananya ibadah dengan baik dan benar, sampai pada tujuan, dan diridhai oleh Sang Khaliq, Allah Azza Wajalla. Wallahu a'lam bisshawab.

Punjul, 5 Mei 2021



MADU TEMANKU


S u b a d i

Bismillah, semenjak aku bergabung dengan HPAI 6 tahun yang lalu, selain bertambah banyak teman aku juga merasa lebih dekat dengan madu. Madu di bisnis ini masuk dalam kelompok produk sunnah, sederajat dengan minyak zaitun, susu, dan kurma. Dikatakan produk sunnah karena ia termasuk salah satu kegemaran Baginda Nabi Muhammad SAW.

Hal yang sangat membahagiakan ketika berteman dengan madu adalah saat pelanggan merasakan manfaat madu yang dibeli dariku. Selama ini sudah banyak sekali pelanggan setia yang merasakan manfaat dari madu. Badan menjadi lebih fit dan sakit yang mereka derita banyak mendapatkan kesembuhan lantaran rutin minum madu. Alhamdulillah ya Allah, semuanya hanya karena kehendakMu. 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa madu dipercaya memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh bila dikonsumsi secara rutin dan tidak berlebihan. Saat ini madu juga digunakan untuk berbagai jenis pengobatan tradisional hingga modern. 

Literatur mengatakan, secara klinis madu mengandung antibakteri sehingga membuat tubuh dapat terhindar dari penyakit. Madu juga dapat membersihkan kotoran di usus, menyembuhkan batuk berdahak, menyembuhkan luka, menyehatkan pencernaan, hingga meningkatkan daya tahan tubuh. Subhanallah

Selain itu, madu menjadi minuman yang istimewa sebab ia memiliki kualitas antioksidan yang tinggi, termasuk asam organik dan senyawa fenolik. Kandungan antioksidan dapat bermanfaat pada risiko serangan jantung, stroke, meningkatkan kesehatan mata, dan beberapa jenis penyakit kangker. 

Soal manfaat madu yang luar biasa ini, Nabi Muhammad SAW bersabda: " Madu adalah penyembuh bagi segala penyakit dan al-Qur'an adalah penyembuh apa yang ada di dada. Maka bagi kalian ada dua penyembuhan; Al-quran dan Madu." , [HR. Ibnu Majah, 3452 dari Hadist Ibnu Mas'ud]. Dan Ibu Majah juga meriwayatkan bahwa Nabi juga pernah bersabda: "Barang siapa yang minum madu 3 tegukan dalam setiap bulannya, dia tidak akan terkena bala' yang besar". [HR. Ibnu Majah].

Subhanallah, sungguh sempurna ciptaanMu ya Allah... Alhamdulillah. 

Boyolangu, 4 Mei 2021



Sudahkan Kita Bermuhasabah Hari Ini?

S u b a d i

Bismillah. Secara ringan muhasabah bisa dimaknai menghitung. Dalam wacana kesufian, muhasabah artinya instrospeksi diri. Lebih spesifik lagi muhasabah bisa difahami sebuah kesadaran untuk menimbang antara baik dan buruk, antara manfaat dan madharat, antara  haq dan bathil, dan lain sebagainya.

Saat ini kita berada di bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Setiap umat yang beriman berlomba-lomba dalam kebaikan dan beribadah kepadaNya. Siang untuk berpuasa, malam untuk tarowih dan qiyamul lail. Ibadah kebanyakan umat bertambah lebih banyak dibanding bulan-bulan sebelumnya. Surau dan masjid pun selalu penuh dengan jamaah shalat, terlebih waktu malam hari. Sungguh pemandangan yang menyejukkan dan damai. 

Senyampang mengisi dan berdiri tegak menikmati welas-asih Allah Ta'ala di bulan yang penuh ampunan dan pembebasan ini, tak ada salahnya jika kita pergunakan untuk berfikir, selagi yang kita fikirkan adalah hal yang positif, terlebih bisa bermanfaat. 

Saat bicara soal ibadah, berarti kita sejatinya sedang membincang tentang berjalan menuju Tuhan. Maka sudah sepatutnya kita memperhitungkan sesuatu yang ada dalam perjalan, diawali dengan menyiapkan tekad dan bekal, kendaraan yang akan kita tumpangi, serta hal lain yang kita butuhkan untuk mensukseskan perjalanan kita. Sebab perjalanan yang kita lalui akan terus bergerak dan tak kan pernah kembali.

Satu point penting yang tidak boleh kita kesampingkan saat berjalan menuju Tuhan [ibadah] adalah muhasabah. Muhasabah menjadi sangat penting sebab dengannya kita akan selalu ingat dengan diri sendiri. Ia mampu menunjukkan kekurangan, ketidaksopanan, serta memperlihatkan dosa-dosa kita kepada Allah SWT. Dengan muhasabah kita akan terbantu untuk menimbang diri kita sendiri dan berhias untuk mengumpulkan bekal untuk menyambut masa depan, Akhirat. 

Sebagai hamba, kita sering merasakan nikmat, dan kita juga pernah melakukan kejahatan. Sekecil apapun nikmat yang pernah kita rasakan dan seremeh apapun kejahatan yang pernah kita lakukan. Dengan muhasabah kita akan menemukan apa sesungguhnya yang dari Allah dan apa yang berasal dari diri kita sendiri. Sehingga kita akan tahu di mana letak ampunan dan rahmatNya sekaligus tahu dimana letak kehancuran dan kerusakan. 

Dengan muhasabah pula kita akan terbantu membandingkan betapa luas kemurahan Allah dan betapa sempit pengabdian kita kepadaNya. Betapa Agungnya Allah dan betapa hinanya kita. Kita juga akan semakin menyadari bahwa Dia-lah yang layak disembah dan kita adalah hamba yang wajib menyembah. 

Namun perlu dicatat, bahwa muhasabah bukanlah hal yang mudah begitu saja dikerjakan. Sampai Ibnu Qoyyim al-Juziyyah menuturkan tiga syarat agar seorang hamba dapat bermuhasabah, tiga hal itu adalah :

Pertama, cahaya hikmah adalah ilmu yang dimiliki seseorang, dengan ilmu seseorang akan mampu membedakan mana yang haq dan bathil. Cahaya hikmah hanya akan akan datang kepada seseorang yang hatinya telah mendekat kepada Allah dan tekun berbadah kepadaNya. Jadi caya hikmah ini tidak akan datang begitu saja. 

Kedua, kita harus berprasangka buruk kepada diri sendiri. Sederhananya jika kita tidak pernah berprasangka buruk kepada diri sendiri, pasti pada satu titik kita akan merasa selalu baik dan benar. Dan fatalnya jika kita sampai melihat yang sajatinya keburukan sebagai kebaikan dan aib sebagai kesempurnaan. Naudzubillah. Ingat, kehancuran Fir'aun tak lain karena disebabkan oleh selalu menganggap dirinya paling baik dan sempurna. 

Ketiga, dapat membedakan nikmat dan ujian. Maksudnya, kita musti memahami dan mengetahui mana yang mengandung rahmat kasih sayangnya dan mana nikmat yang hanya semu. Kita musti bisa menentukan mana nikmat yang merupakan kasih sayang Allah yang bisa membawa kepada kenikmatan abadi, dan mana kenikmatan yang sejatinya hanya tipuan semata. 

Semoga kita senantiasa dituntun oleh Allah SWT selalu berada pada jalan yang diridhai, diterima semua amal kebaikan kita, dan dijadikan menjadi hambaNya yang mampu bermuhasabah. Amin. 

Punjul, 03 Mei 2021







الام ‏هي ‏مدرسة ‏الاولى ‏


S u b a d i

Bismillah, sudah menjadi lazim bahwa seluruh manusia yang wujud di bumi ini terlahir melalui perantara seorang Ibu. Hal ini tentu sudah menjadi kodrat bagi hidup manusia. Kecuali manusia pertama yang diciptakan oleh Allah SWT, sebagai cikal bakal -Ibu dan Bapak-  awal bagi manusia, siapa lagi kalau bukan Adam dan Hawa.

Membincang tentang sosok seorang Ibu pasti selalu menarik dan bermakna. Satu waktu bisa membuat hati dan raup muka gembira ria, di waktu yang lain bisa membuat kita sedih merintih. Gembira-ria sebab berjuta bentuk kasih sayang yang ia curahkan kepada kita banyaknya tak hitung. Sedih-merintih karena melihat perjuangan, jerih payah, pengorbanan, dan cucuran keringat serta air mata yang tak terkira. Percayalah, semuanya tak kan pernah kita mampu membalasnya, sampai kapan pun. 

Sudah banyak yang tahu, dalam perspektif islam kedudukan seorang Ibu sangatlah tinggi lagi mulia. Betapa tidak, Surga seorang anak pun berada di bawah telapak kaki Ibu. Dari sini, tatkala kita mau sejenak diam dan merenungkan secara singkat saja, pasti akan menemukan makna bahwa Ibu adalah sosok yang mampu mengantarkan anaknya menuju surga. Dengan kata lain, kita dapat memaknai bahwa Ibu adalah sosok yang bisa menjadi wasilah tergapainya kebahagiaan di dunia dan akhirat kelak. 

Ibu adalah sosok yang paling dekat dengan kita, anak-anaknya. Bersama Ibu kita dikandung selama -+ 9 bulan, lahir ke dunia ini kemudian kita menyusu kepadanya dalam waktu yang cukup lama. Belum cukup, sehari-hari, siang malam kita selalu bersama dengan Ibu kita. Apapun kebutuhan kita, saat masih kecil selalu Ibu yang mencukupi, makan, mandi, tidur, ganti baju, belajar berjalan, bicara dan lain sebagainya. Semua Ibulah yang lebih banyak berperan. 

Tak berlebihan jika Ibu kita, kita sebut sebagai مدرسة الاولى, sekolah utama dan pertama bagi kita semua, seorang anak. Ibulah yang pertama menemani hidup kita. Ibulah yang pertama memberikan pengajaran sekaligus membangun pondasi dalam diri kita. Sampai kapanpun peran sosok Ibu tak kan pernah terputus, perjuangannya tidak mengenal kata pensiun.

Yakinkan bahwa Ibu adalah guru kita yang memiliki kecintaan, kehangatan, kebaikan, keceriaan, cinta, dan kasih sangat besar kepada kita. Ia sanggup membersamai kita dalam suka dan duka. Sebesar apapun suka yang kita miliki, sedalam apapun duka yang kita hadapi, Ibu pasti akan sanggup bersama dengan kita.

Ibu adalah مدرسة الاولى anak-anaknya. Dari sosok ibulah kita belajar hal baru dalam hidup ini. Berbicara, mengenakan baju, cara makan, hingga budi pekerti yang luhur. Dengan sentuhan dan didikan yang lembut dan penuh kasih, suatu saat akan membuat seorang anak menjadi sosok yang kuat, sekaligus lembut, dan percaya diri.

Meskipun pernah kita jumpai anggapan bahwa jasa dan perjuangan seorang Ibu dianggap suatu hal yang kecil, namun yakinlah sejatinya jasa dan perjuangannya sangat besar. Melupakan jasa dan perjuangannya adalah kesalahan besar dan fatal. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita sebagai seorang anak senantiasa berusaha untuk membahagiakan dan menghargainya. Sebab, dengan cara ini akan menjadi bagian dari bentuk membalas jasa seorang Ibu. 

Bersambung.... 






Antara Tawadlu ‎& عباد ‏الرحمن


S u b a d i

Bismillah. Dari sekian panjang deret daftar sifat terpuji yang musti diperhatikan dan dipegang teguh setiap muslim adalah sifat Tawadlu. Secara sederhana sifat ini dapat dimaknai prilaku manusia yang mempunyai watak rendah hati, tidak sombong, tidak angkuh, atau tidak merendahkan diri agar tidak kelihatan sombong, congkak, angkuh, besar kepala, atau kata-kata lain yang sepadan maknanya. 

Sejatinya, jika kita korek lebih jauh dan mendalam Tawadlu hanyalah ditujukan kepada Allah Yang Maha Agung semata. Ketundukan jiwa, hati, serta prilaku sebagai bukti ketidakberdayaan dan rasa lemah dibanding keagungan dan kekuasaan_Nya.

Sepertinya Allah SWT tak kan pernah rela memberikan surga dan ridha_Nya kepada manusia selagi dalam hati dan lakunya dipenuhi kesombongan dan keangkuhan. Sikap angkuh dan sombong cukup menjadi petanda bagi manusia yang tidak mengharap surga dan ridha_Nya. Sungguh tepat dan tak berlebihan para ulama mengatakan bahwa tujuan Tawadlu ialah mengharap surga [ridla] dan menghindarkan diri dari api neraka [طمعا لجنته تعالى ورهبا من ناره تعالى ]. 

Banar, Tawadlu hanya ditujukan kepada Allah SWT sebagai bukti kepatuhan manusia untuk menyempurnakan penghambaan kepada_Nya. Akan tetapi bukan berarti pula harus ditinggalkan dalam praktik hidup sehari-hari. Manusia sebagian makhluk yang hidup berdampingan dengan sesama juga harus mempraktikkan sifat mulai ini -Tawadlu- dalam muamalah setiap harinya. Bukankah sebagian tanda manusia yang dianggap sebagai "hamba Allah Yang Rahman" itu selalu berjalan di antara sesama dengan menundukkan kepala?. Ia seolah tidak pernah melihat langit. Ia berjalan terlihat santai tanpa sedikitpun terlihat membusungkan dadanya. 

Pangkat, jabatan, jendral, dan segalanya predikat duniawi yang disandang tak kan pernah ia jadikan alasan untuk membusungkan dada. Sehingga sangking istimewanya sifat ini Alloh SWT menyebutnya dengan  "عباد الرحمن"  Yaitu hamba-hamba Allah Yang Maha Penyayang [tengok: surat al-Furqan: 63].

Ya Allah, tuntun hamba_Mu yang lemah namun sombong ini menuju ketawadluan yang sudah pasti Engkau ridhai. Kami yakin sungguh hanya Engkaulah yang mampu menjadikan kami hamba_Mu yang tawadlu. Amin.... 

Punjul, 07 Maret 2021



لا ‏تفسدوا ‏في ‏الارض ‏بعد ‏اصلاحها ‏ ‏


🆂🆄🅱🅰🅳🅸

𝓑𝓲𝓼𝓶𝓲𝓵𝓵𝓪𝓱. Pada kesempatan ini masih dalam suasana prihatin menyaksikan saudara sebangsa yang dilanda musibah banjir. Siaran televisi setiap hari menyajikan berita di beberapa wilayah Indonesia mengalami banjir. Banjir yang terjadi tak hanya menggenangi pemukiman mereka saja, namun juga merusak ladang pertanian, menghanyutkan harta benda, jalan ambrol, tanah longsor, dan juga sampai menelan korban jiwa.

Disadari atau tidak, percaya atau tidak, sejatinya semua itu bisa terjadi sebab ada suatu hal yang telah melatar belakanginya, yakni sebab adanya kekerasan manusia terhadap alam, kekerasan terhadap tanah dimana manusia tinggal dan hidup. Hal ini musti menjadi perhatian serius dan segera dicarikan solusinya.

Membincang soal kekerasan terhadap tanah seringkali terlupakan atau jangan-jangan memang sengaja dilupakan sehingga tidak menjadi perhatian dan menjadi diskusi yang serius untuk dicarikan solusinya. Kenyataan bicara bahwa dampak yang ditimbulkan begitu serius dan dahsyat. Tidak hanya menimpa mereka yang melakukan kekerasan saja, namun masyarakat kebanyakan juga ikut terkena getahnya. 

Kekerasan terhadap tanah berarti memaksa tanah untuk memproduksi diluar kemampuannya. Melihat fenomena banjir dan tanah longsor terjadi di mana-mana menjadi petanda bahwa telah terjadi kekerasan terhadap tanah yang sudah meluas di negara tercinta ini, Indonesia. Nampaknya, aktivitas memaksa tanah untuk terus memproduksi di luar ambang batas kemampuannya ini tak disadari bahwa itu suatu kekerasan. Yang penting mengolah dan menghasilkan produk yang melimpah demi materi semata.

Kini aktivitas pertanian tidak hanya terjadi di sawah dan ladang pada dataran rendah saja, namun hutan yang dulunya rindang dengan pepohonan besar dan kokoh kini sudah sangat berubah, berganti menjadi ladang pertanian dengan tanaman-tamanan kecil yang tak mampu menahan air hujan. Tanahnya pun menjadi rapuh dan mudah longsor saat terguyur oleh hujan yang lebat. 

Disamping itu, yang dulunya para petani masih menggunakan cara-cara sederhana dan tradisional untuk menggarap sawahnya, kini pola pertanian yang mereka jalani sudah jauh berubah dengan menggunakan bahan kimia non-organik yang sangat tinggi, pupuk kimia, pestisida, fungisida, dan herbisida misalnya. Sejatinya, jika mau merenungkan pola pertanian yang berlebihan itu selain dapat menyiksa tanah juga merusak ekosistem tanah sampai menimbulkan kerugian kesehatan manusia itu sendiri. 

Walhasil, meskipun semuanya telah terjadi, sebagai orang yang beriman pantang untuk berputus asa. Semampu yang bisa diusahakan sudah sepatutnya untuk terus berihtiyar demi melestarikan alam, sehingga kembali terjadi keseimbangan. Sebab, sudah berkali-kali Al-Qur'an mengingatkan " Laa tufsidu fil'ardi ba'da islahiha". [Jangan merusak bumi ini setelah ditata dengan baik]. Semoga bermanfaat. Amiin. 

Punjul, 14 Februari 2021

"Malas" Adalah Pikiran Setan

S u b a d i

Bismillah, tentu kita pernah menjumpai orang yang ada di sekitar kita terlihat pasif dan tidak ada gairah saat beraktivitas atau jangan-jangan, malah kita sendiri sering merasa malas, diam, kurang serius menjalani kehidupan, tidak peduli dengan sekitar, abai dengan yang lain, dan sebagainya. 

Jika demikian, apa yang bisa diharapkan dari orang yang terjangkiti pikiran malas? Jika ada, pasti hanyalah masalah. Hehe

Sebagai guru, pasti pernah mendengar alasan dari siswanya yang tidak mengerjakan tugas sekolah karena beberapa alasan, listrik sedang padam, kuota internet habis sehingga tak bisa menerima pelajaran daring, diajak pergi ke luar kota oleh orang tua, tidak punya buku paket, dan sederet alasan lainya.

Sejatinya, sepanjang di dalam diri seseorang masih menyala semangat belajar, tentu ia akan terus berusaha untuk bisa belajar meskipun banyak hal yang menjadi rintangan. Listrik padam, paketan habis, dan alasan lain itu tak akan bisa meredupkan semangat belajarnya. 

Namun, sepertinya jika seseorang sudah terjangkiti pola pikiran setan yang berupa sifat malas ini, didorong dan dimotivasi seperti apapun sulit akan berubah. Kalaupun mau belajar dan mengerjakan sesuatu biasanya dasarnya hanyalah karena terpaksa. Ya, terpaksa barangkali masih lebih bagus dari pada tidak sama sekali. Hehe, dengan harapan suatu saat mendapat hidayah

Tetap saja, seseorang yang melakukan sesuatu dengan terpaksa, dapat dipastikan tidak akan melakukannya dengan sepenuh hati dan hasilnya tidak akan menjadi produk yang maksimal. Malas hanya akan membuat seseorang kehilangan gairah dan semangat menjalani kehidupan. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa malas merupakan bagian dari sifat tidak terpuji. Malas itu sifat tercela. 

Misalnya lagi, pernah kita mendengar dan melihat pemberitaan di televisi tentang sidang anggota DPR. Tidak sedikit para anggota DPR yang mangkir kalau sidang, banyak kursi sidang kosong. Kalaupun datang ada saja anggota DPR yang terlihat aneh dan menggelitik, mereka masuk ruang sidang, duduk, ada yang bermain HP, mengantuk, dan bahkan tertidur pulas. Hehe. Mereka malas mengikuti sidang yang urgen itu. Meskipun mereka sudah sering dikritik, namun tetap saja ada yang bermalas-malasan saat sidang. Ini cermin bahwa mereka sudah terjangkiti pikiran setan berupa malas. 

Ah, kok malah ngelantur membicarakan orang. Hal serupa juga dialami penulis, betapa tidak "menulis" merupakan salah satu aktivitas yang menjadi komitmen penulis kala itu. Penulis meyakini sepenuhnya bahwa menulis adalah bagian dari proses belajar, menjalaninya dengan suka cita dan ikhlas pasti akan bernilai ibadah. Sehingga aktivitas menulis akan terus dirawat selamanya. Namun, kenyataan berkata lain, lebih banyak diam dan malas menulis ketimbang menulisnya. Ada saja alasan sehingga gagal memulai menulis, sibuk urusan kerjaan, rumah tangga, bisnis, tak punya ide, dan sederet alasan lainya. Jangan-jangan ini karena sudah kerasukan pola pikiran setan, yakni malas, ah... kasian setan jadi kambing hitam melulu. 

Walhasil, malas memang penyakit berat, namun bukan berarti tidak bisa diatasi, sepanjang kita mau berubah. Selalu ingat bahwa malas merupakan bagian kecil dari pola pikiran setan yang harus dihindari. Sehingga dalam menjalani aktivitas sehari-hari terasa bersemangat dan bergairah. Tentu hasilnya pun akan menjadi lebih maksimal. Malas... Lenyaplah! 

Punjul, 13 Februari 2021

Selalu Ada Hikmah di Balik Setiap Musibah


S u b a d i

Bismillah. Aku sangat yakin bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah Swt tidak ada nilai yang sia-sia, sekalipun sesuatu itu berupa bencana. Bahkan dari setiap bencana yang ada selalu ada hikmah yang bisa menjadi pelajaran hidup. Tinggal semampu apa manusia bisa menggali dalamnya hikmah yang terpendam di balik bencana tersebut.

Di awal tahun 2021, nyatanya pandemi Covid-19 sampai hari ini masih melanda dan belum mereda. Bahkan bencana tanah longsor, banjir, jatuhnya pesawat dan gempa bumi yang hari ini terjadi silih berganti, menambah deret daftar bencana yang melanda umat manusia. Namun, jangan sampai membuat akal sehat kita lepas kendali. Yakinlah, semua yang terjadi di dunia tentu atas rencana dan ketentuan Sang Pencipta. Kita harus menyikapinya dengan bijak dan senantiasa mengedepankan prasangka baik. 

Ya, memang tidak bisa dipungkiri bahwa manusia cenderung memiliki pemahaman yang beragam tatkala melihat atau mengalami peristiwa luar biasa yang terjadi di muka bumi ini. Apalagi kejadian itu kemudian memberi efek pada ketidakstabilan berbagai sektor seperti ekonomi, runtuhnya tatanan sosial, bahkan sampai menelan korban jiwa. Corona, gempa bumi, tanah longsor, dan banjir, misalnya.

Satu-satunya cara terbaik saat menyikapi situasi dan kondisi seperti ini adalah dengan mengembalikan sepenuhnya kepada Allah Swt. Sebab, sejatinya Dialah Dzat yang menghendaki semua peristiwa terjadi dan yakin bahwa di balik semua itu ada maksud yang sesungguhnya tentu jauh lebih besar dibandingkan besar dan dahsyatnya peristiwa yang terjadi. 

Yakinlah bahwa berfikir negatif tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah, sebab ia bukan solusi yang tepat. Namun, kita harus berpikir positif bahwa wabah dan bencana yang terjadi adalah bagian dari ujian, tanda perhatian Tuhan kepada manusia. Di samping itu, musibah yang terjadi musti dijadikan wasilah yang efektif untuk meningkatkan keimanan dan ketaatan kepadaNya.

Di saat wabah dan bencana sedang melanda seperti saat ini, setidaknya ada dua dampak yang sangat dirasakan masyarakat. Yakni dampak kesehatan dan dampak ekonomi. Dampak-dampak ini adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri dan tidak boleh sampai kehilangan pikiran sehat sehingga kita semakin jauh dari Tuhan dan lupa akan kedudukan manusia sebagai hamba.

Meski tidak ringan, sudah seharusnya masyarakat menjadikan pandemi dan bencana yang datang silih berganti ini sebagai upaya meningkatkan kualitas kehambaannya dengan cara berzikir, mendekatkan diri pada Allah, dan melakukan sikap-sikap terpuji lainnya. Sebab manusia sebagai makhluk, ia pasti selalu membutuhkan penciptanya, Allah Swt. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya juga manusia musti memperbaiki hubungan dengan sesama makluk hidup dan alam sekitar. Yang akhirnya tercipta hablum minallah, minannas, dan minal alam yang selaras dan proporsional. 

Madiun, 20 Januari 2021


SISI POSITIF di BALIK "KEBERSIHAN DIRI"

S u b a d i

Bismillah. Musim pandemi Covid-19 seperti saat ini banyak mengingatkan kita tentang pentingnya beberapa hal. Seperti perlunya menjaga keseimbangan dan kelestarian alam, fungsi rumah sebagai tempat pendidikan terbaik bagi anak-anak kita, perlunya memupuk jiwa solidaritas dan sosial antar sesama, hingga pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan. 

Membincang soal kebersihan, setidaknya bisa diejawentahkan sebagai bagian upaya manusia untuk memelihara diri dan lingkungannya dari segala yang kotor, kumuh dan menjijikkan dalam rangka mewujudkan dan melestarikan kehidupan yang sehat dan nyaman, jauh dari benih-benih penyakit yang bisa menjangkiti tubuh manusia. 

Setiap manusia pasti menyukai kebersihan, mulai kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Aktivitas mencuci tangan dengan sabun, mandi, sikat gigi dan lainnya adalah hal yang sering kita lakukan. Namun, tidak semua tahu tentang tata cara menjaga kebersihan diri dengan benar. Betul, menjaga kebersihan diri merupakan hal yang sangat vital dalam hidup seseorang dan bahkan sudah menjadi rutinitas setiap hari. Akan tetapi, apakah sejatinya alasan kita harus menjaga kebersihan? 

Ditinjau dari sudut sosial, menjaga kebersihan diri dapat membantu kita menghindari citra tubuh yang negatif. Sebagai gambaran sederhananya, saat bau badan, bau ketiak, bau mulut, gigi kuning, atau bagian lain dari tubuh kita tidak sedap tentu disamping menjadikan diri tidak nyaman kemungkinan negatif lain bisa menjadi bahan pembicaraan atau ejekan. 

Dari sudut kesehatan, faktor kebersihan diri yang buruk bisa meningkatkan risiko terkena ragam penyakit, seperti diare, terjangkit virus, atau infeksi penyakit lainnya. Maka dari itu dengan menjaga kebersihan diri, kita bisa mencegah terjadinya infeksi berbagai macam penyakit, baik penyakit yang ringan maupun yang berat. 

Secara psikologis kebersihan diri yang baik tentu bisa meningkatkan rasa percaya diri. Terlebih di saat kita berada dalam pergaulan dengan banyak orang. Dengan keadaan diri yang bersih, harum, rapi, dan enak dipandang selain bisa menumbuhkan rasa percaya diri juga merupakan bagian dari cara kita mensyukuri nikmat hidup sehat yang telah Tuhan berikan kepada kita. 

Semoga kita terhindar dari segala macam penyakit dan semoga tulisan singkat ini bermanfaat. Amiin. 

Punjul, 06 Desember 2020

𝗥𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻

𝘒𝘦𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘰𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪...