google-site-verification=a29cQDLicXmx_KpxGtFuPjFzKNqoMZ3FEdNxkyQfTTk Kang Badi'

Kemuliaan Sorang Ibu, Jangan Dilupakan !

angkringan segoro kidul
Subadi


Ribuan kilo
Jalan yang kau tempuh
Lewati rintangan untuk aku, anakmu
Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh panah
Seperti udara
Kasih yang kau berikan
Tak mampu ku membalas, Ibu
by; 
[Iwan fals, Ibu]

Ijinkan aku bercerita tentang soal kemuliaan seorang Ibu, yang tak jarang dilupakan oleh seorang anak. Peran sosial seorang ibu yang begitu mulia sama sekali tidak bisa diukur dengan materi tertentu. Perjuangannya, pengabdiannya, dan pengorbanannya yang suci dan agung. Karenanya, siapapun anak yang mengabaikannya, dapat dipastikan akan jauh dari kasih sayang Allah Yang Maha Kasih. Karena Tuhan pun menyayanginya, bahkan Surga yang begitu indah pun ditundukkan di bawah telapak kaki seorang Ibu.

Ibulah yang banting-tulang di rumah, meskipun Ibu kerjannya hanya di rumah, memasak dan mengurus anak, sebenarnya tak kalah beratnya dibanding kerja seorang ayah. Ibu selalu siap dan tanggap dua puluh empat jam penuh. Kapan pun suami dan anaknya mau makan, saat kapan saja anak yang kecil menangis, pipis dan buang air besar, dan apalagi bila sakit, maka ibu lah yang selalu melek dan bersanding dengan keluarganya. Hanya Ibu lah yang tak pernah mengeluh meski lelah, penat dan kantuk melandanya. 

Meskipun Ibu hanya di rumah, ia harus mondar-mandir antara sumur, dapur, kamar, halaman depan-belakang dan sebagainya untuk mengurus rumah, anak dan masak. Niscaya jarak yang ditempuh akan begitu panjang hingga kiloan meter. Ini hanya persoalan fisik semata. Di sisi lain Ibu harus memiliki dan mengelola pengertian dan kesabaran yang tiada tara. Ibu harus mementingkan dan mendahulukan keluarganya ketimbang dirinya. Ibu rela dikencingi anaknya tanpa harus mengeluh, marah dan kesal. Lelah, capek, dan kotor sangat akrab dengan Ibu. Apalagi kata yang lebih tepat selain sabar ? yang patut disematkan untuk Ibu. 

Dengan bekal ketabahan, kesabaran dan ketulusan seorang Ibu lah, kesempurnaan keluarga akan tercapai. Bekal itu sekaligus modal paling penting bagi pembentukan moral dan watak anak-anaknya. Ibulah yang banyak dan sering berkumpul dengan anak-anaknya, maka Ibulah yang banyak berperan dan berpengaruh terhadap kepribadian seorang anak. Meskipun Ibu tak selalu berpendidikan tinggi, tetapi naluri ilahiyahnya mendorongnya untuk selalu membawa dan mengarahkan anak-anaknya ke jalan yang benar dan bertata krama. Itulah Ibu, kemampuan Ibu adalah daya yang Allah SWT titipkan di punggungnya. Daya yang maha Suci.

Sungguh aneh jika menemukan sekecil-kecilnya keluarga yang didalamnya ada Ibu yang diremehkan oleh suami, apalagi anak-anaknya. Meremehkan peran dan pengorbanan seorang Ibu hanya akan menunjukkan betapa rendah tingkat keilmuan dan pengetahuan. Padahal, dengan sedikit berfikir saja, sorang anak akan menemukan makna yang agung atas pengorbanan seorang Ibu. Pontan-panting Ibu mengurus bayi tiga bulan, yang menangis, pipis, dan berak di tempat tidur di tengah malam buta nan sunyi di saat kantuk meyergapnya mati-matian, lantaran siangnya kecapekan memenuhi segala kebutuhan keluarga. Ibu tetap berdiri tegak untuk itu semua. Sungguh tak kan ada padanan materi yang layak sebagai gantinya. 

Sedikit saja waktu yang kita luangkan untuk merenungkan tentang Ibu akan menemukan begitu banyak alasan bahwa Allah memang layak menganugerahkan prioritas teologis dengan ungkapan "Surga Berada di bawah Telapak Kaki Ibu".

Sebagai seorang anak, kita tak punya sedikitpun alasan untuk tidak menyayangi Ibu kita.

[Sayangilah Ibu_mu, maka Allah pun akan menyayangi_mu.]


Ahad, 10 Mei 2020

Punjul Karangrejo Tulungagung

Aku, Membaca, dan Rasanya

Membaca Membahagiakan

Subadi


Saat mendengar kata "Literasi" yang aku pikirkan setidaknya ada dua hal -  membaca dan menulis -  yang paling dasar bagiku adalah membaca. Ya, membaca. Hampir dapat dipastikan semua orang di dunia ini semua pernah membaca, kecuali hanya sedikit. Dapat dipastikan juga semua semua orang di dunia ini juga pernah menulis, keculai hanya sedikit. Semua orang pun sepakat bahwa membaca memiliki peran yang sangat vital dalam menyumbang generasi-generasi emas pembawa kemajuan, tentu kita pun sepakat bahwa membaca akan meningkatkan kecerdasan dan pengetahuan. Membaca membuka pintu-pintu ilmu, membaca membuka kacrawala dunia, membaca membuka wawasan, membaca megikis ketidaktahuan, membaca menuntun ke jalan kecerdasan, dan membaca adalah alat untuk menjadi orang yang bisa bermanfaat. Sungguh membaca adalah keniscayaan.

Membaca berarti melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis, bisa melisankan dan juga bisa dalam hati. Dulu saat TK atau sekolah dasar, setidaknya ada dua kegiatan membaca yang biasa diterapkan dalam aktivitas membaca. Yang sampai saat ini masih teringat, guru meminta peserta didik untuk sesekali -bahkan sering- membaca teks bacaan dari materi pelajaran dengan membaca nyaring atau membaca dalam hati. Membaca nyaring berarti membaca dengan suara lantang -keras- yang bisa dilakukan sendiri maupun dengan berkelompok. Dalam keadaan sendiri maupun di depan halayak, semisal membaca nyaring di depan kelas atau dari bangku masing-masing. Membaca dalam hati merupakan teknik membaca tanpa suara, yang lebih menekankan dalam pemahaman isi bacaan.

Kebiasaan membaca menjadi penting karena banyak manfaat yang ditimbulkannya. Bisa dipastikan semua orang jika ditanya "membaca itu penting apa tidak?" , aku yakin mereka akan sepakat menjawab bahwa membaca itu penting. Membaca itu penting bagi semua orang, mulai anak sekolah sampai orang tua sekali pun. Bahkan manfaat membaca bagi orang tua bisa menghindarkan kepikunan. Bagi beberapa orang membaca bukan hanya sebatas untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Tetapi membaca bisa sebagai sarana rekreasi, yang dapat menyegarkan tubuh dan otak dari kepenatan.

Sungguh aku bisa merasakan manfaat dari aktivitas membaca ini, yang  juga aku sebut sebagai hobi. Meskipun belum begitu maksimal, tetapi seingat ku tidak ada hari tanpa membaca walau hanya sedikit. Membaca menjadi penting karena banyak manfaatnya. Dengan membaca dapat mengurangi rasa kecemasan dan kegundahan. Ya, saat kita gelisah dan hati sedang gundah, setidaknya bisa kita netralisir dengan membaca buku atau alqur-an [kitab suci]. Manfaat lain yang aku rasakan adalah bisa membuat otak berkembang, dengan membaca otak lebih aktif berfikir dan menganalisa kecil-kecilan. Dari sini banyak mempengaruhi dalam menyamaikan ide, dan cara bertutur kata, berfikir lebih jernih dan berbicara lebih tetata. Dengan membaca membuat diri lebih terbuka dengan masukan dan saran orang lain, ketimbang hanya menyalahkan. yang tak kalah pentingnya lagi dengan membaca merasa menjadi pribadi yang lebih berfikir. Berfikir sederhana dalam setiap menghadapi permasalahan, lebih rileks dalam menghadapi masalah dan sejumlah persoalan [ tidak gampang kagetan ]. Boleh dikata otak tidak gambang stress.  Membaca terasa juga sebagai alat penghibur diri. Sebagai contoh kecil saja, dengan membaca cerita yang menarik  atau homoris pasti menjadi banyak ketawa, minimal tersenyum. Ini pasti juga akan meninggkatkan daya imunt tubuh, dan relaksasi saraf otak dan otot-otot wajah. 

Ada satu hal yang aku rasakan begitu terasa dari manfaat membaca. Saat kuliah S-1, prodi yang ku ambil adalah Pendidikan Bahasa Arab/PBA. Di prodi ini pasti salah satu prioritasnya adalah dalam hal kebahasaan arab. Setidaknya ada beberapa ketrampilan yang menjadi fokus, membaca, menulis, menyimak, menghafal, mendengar, dekte,  dan berbicara. Untuk menjalankan semua ketrampilan itu pasti membutuhkan modal penguasaan kosa kata bahasa arab yang memadai. Sejauh yang saya ingat, jarang sekali mengahafal kosa kata arab. Hanya dengan rajin membaca kamus bahasa arab dan juga materi kuliah yang berbahasa arab itu, ternyata tapa aku sadari bisa meningkatkan penguasaan kosa kata yang lumayan banyak. Tanpa harus fokus menghafal.  Dan berkat rajin membaca seluruh proses belajar ketrampilan bahasa arab itu bisa terlaksana dengan baik dan lancar, sejauh yang aku ingat tidak pernah menemui kendala yang  begitu berarti. Alhamdulillah. Sungguh dengan membaca dapat menumbuhkan daya ingat dan menambah kosa kata.

bersambung.....


Minggu, 10 Mei 2020

Punjul Karangrejo Tulungagung





Ayo Sempurnakan Shalat Kita Dengan Doa Iftitah

Salah satu kelas Madrasah Diniyah MHM Bolu Punjul Karangrjo

MENDALAMI DOA IFTITAH

Subadi

Tulisan ini saya buat berangkat dari sebuah pengalaman, ya pengalaman pribadi dan juga beberapa teman. Teman yang saya maksud ialah teman saat di pesantren dulu. Di setiap pesantren yang mananya ngaji fikih itu sudah menjadi makanan pokok yang tak pernah ditinggalkan. Ngaji fikih setidaknya sudah dimulai dari bangku Ibtida', kitab yang sudah menjadi kurikulum wajib di setiap pesantren. Salafi kususnya. Namanya kitab Al-Mabadi' Al-Fiqhiyah, kitab fikih yang sangat dasar, terdiri dari 4 jus. Biasanya akan katam di kelas 5 Ibtida'. Sangat mudah dipahami untuk santri awalan. Karena penyajiannya berupa tanya jawab. Kitab ini hanya membicarakan urusah fikih. Tidak yang lainnya. Pasti bagi yang pernah mengenyam bangku madrasah tak asing dengan kitab yang satu ini. Sungguh bermanfaat untuk menunjang praktik ibadah sehari-hari. Alhamdulillah. 

Dalam kitab ini, Juga di kitab yang lain disebutkan bahwa doa Iftitah termasuk bagian dari sunnahnya shalat. Bukan rukunnya shalat. Doa ini dibaca setelah takbiratul ihrom, sebelum membaca surat Al-fatihah yang rukun itu. Karena hukum membacanya sunnah maka mempunyai implikasi bagi siapa yang meninggalkan atau tidak membaca doa Iftitah ini, shalatnya tetap sah-sah saja. Berbeda dengan ketika tidak membaca surat Al-fatihah, dapat dipastikan shalatnya tidak sah, sebab ia bagian dari rukun shalat.  Dari kemurahan ini, terkadang saya tinggalkan dengan biasa-biasa saja. Tanpa dibebani rasa penyesalan sedikitpun, Tanpa menengok makna dan pesan yang begitu mendalam. Hal yang serupa juga dialami oleh sebagian teman santri yang lain. Mengambil yang lebih mudah, sehingga menjadikan shalat sedikit lebih sebentar karena ada bacaan yang ditinggalkan. Ya bacaan sunnah doa Iftitah ini. Padahal jika kita kerjakan paling hanya menghabiskan waktu 1 sampai 2 menitan cukup. Naif sekali.

Kebiasaan sering meninggalkan doa Iftitah itu berjalan lumayan lama, bukan hanya dalam hitungan bulan, tapi tahunan. Tapi alhmdulillah, kini kebiasaan itu tak lagi saya lakukan. Ini tidak terjadi begitu saja, tetapi ada hal yang saya anggap sebagai hidayah dari Allah SWT yang dilewatkan seorang Guru. Beliau adalah K.H.Muhsin Ghozali. Yang tak lain adalah pengasuh Pondok Pesantren Putra Hidayatul Mubtadi'in Bolu Punjul Karangrejo Tulungagung. Sosok Kyai yang sangat Alim, tegas dan istiqamah dalam menebar ilmu. Kapasitas keilmuannya mumpuni, terutama ilmu alat [nahwu-sharaf] dan Fikih. Tentu fan-fan ilmu yang lain. Maklum Beliau alumni Pondok Lirboyo, yang juga termasuk santri terbaik kala itu.

Dalam suatu acara  tasyakuran yang berbarengan dengan peringatan Isra' Mi'raj Baginda Muhammad SAW. Saya merasa beruntung mendapat undangan. Apalagi Kyai yang ngisi acara tausiyahnya  adalah Yai Sin  [ masyarakat sekitar akrab juga dengan panggilan ini ]. Model ceramahnya saya suka, tidak hanya guyonan, tetapi banyak pesan dan ilmu yang beliau sampaikan. Tak jarang ketika saya hadir di setiap pengajiannya, tangan selalu terdorong untuk membuka HP kemudian mencatat apa yang beliau sampaikan. Sesampai di rumah yang sering saya lakukan adalah segera mengingat kembali dan menulis di status Facebook. Salah satu point pesan beliau saat menjelaskan masalah Isra' Mi'raj adalah topik tentang shalat. Karena ini termasuk pesan dasar dari peristiwa itu. Selain juga menyampaikan peristiwa-peristiwa yang menyertainya. 

Salah satu pesan Yai Sin kala itu ;

"Iftitah itu sunnah, meskipun sunnah sebaiknya jangan ditinggalkan, apalagi saat shalat munfarid/sendirian hendaknya penuh. Kalo waktu shalat berjamaah, ya diusahakan tetap dibaca walaupun tidak dari awal, yaa dari Inna Shalati wa Nusuki ..... dan seterusnya". Dengan catatan ada waktu dan tidak mengganggu Fatihah. Beliau kemudian memaparkan makna dan fadilah kenapa musti dibaca meskipun tidak wajib. Dari sini saya merasa tercambuk untuk segera memperbaiki shalat dengan menyempurnakan doa iftitah.

Dari uraian yang disapaikan, setidaknya ada beberapa point yang sempat saya abadikan, sehingga doa Iftitah menjadi lebih penting ;

1] Secara bahasa Iftitah mempunya arti pembukaan. Serumpun dengan kata miftah yang secara bahasa artinya alat pembuka atau kunci. Maka dapat ditarik kesimpulan doa Iftitah bisa dimaksudkan Doa Kunci, yang berfungsi sebagai alat pembuka dalam setiap shalat. Karena itu kandungan isinya semacam laporan dan kehadiran diri memenuhi panggilan Allah SWT. : "Wajjahtu wajhiya liladzi fathara as-samawati wal ardhi " [ku hadapkan wajahku pada Dzat yang menjadikan langit dan bumi].

2] Yang dimaksud "wajah" bukanlah wajah dhahir, yang sama arti dengan wajah fisik menghadap ke arah kiblat. Tetapi wajab bathin yang menghadap kepada Allah SWT. Karena pada hakikatnya yang memiliki kemampuan melihat Allah SWT dan mengenalnya bukanlah mata dhahir, tetapi mata bathin. Setelah melapor atas kehadiranNya - sebagaimana doa di atas- orang yang shalat kemudian melakukan pengakuan dan kepasrahan yang berbunyi : Hanifan Musliman wa ma ana minal musyrikin [ ... dengan condong dan berserah diri, dan aku bukanlah termasuk orang yang musyrik]

Dalam bagian pertama doa Iftitah ini terlihat sekali proses pengakuan seorang hamba akan kebesaranNya, yang secara otomatis memposisikan diri lebih kecil dariNya. Barang siapa terbesit dalam hatinya akan adanya keuasaan yang lebih besar dari Allah SWT, sungguh orang itu telah terjerumus dalam kemusyrikan. 
3] Begitu pula jika setelah melaporkan kehadiran dan pengakuan dirinya, barulah seorang berikrar akan posisi sebagai laku ibadahnya. Sebagaimana terucap dalam lanjutan doa Iftitah: "Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi robbil alamin, la syarika lahu wa bidzalika umirtu wa ana minal muslimin" [ sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah milik Allah Robbul alamin. Tiada sekutu bagiNya. Demikianlah aku diperintah, dan aku termasuk orang muslim].

[Inilah bentuk kepasrahan total dari seorang hamba pada Allah SWT merupakan kandungan inti dari doa Iftitah. Karena itulah doa Iftitah juga dimaknai sebagai doa pembuka. Tidak hanya pembuka shalat, tetapi juga pembuka pintu langit. Yang tiada lain sebagai wasilah membukakan pintu komuniksi antara hamba dan Tuhannya].

wallahu a'lamu bissowab.

Jum'at-Sabtu, 09 Mei 2020

Punjul Karangrejo Tulungagung


.  

Pandemi Covid-19 Mengingatkan Akan Fungsi Rumah

 
Nararya Farhan Nawafi' sedang study at home

Subadi


Awalnya Virus ini hanya muncul di tempat yang sangat jauh, Wuhan-Cina. Yang kala itu rasa-rasanya tidak akan sampai ke Indonesia, apalagi akan masuk ke pelosok-pelosok desa. Hari demi hari terus berjalan, pasien terinfeksi kian banyak yang berguguran hingga jumlah yang sangat mengkawatirkan. Tidak hanya pasien yang menjadi korban, tetapi keselamatan tim medis pun terancam, tak sedikit yang juga terjangkit dan gugur saat bertugas. Penyebarannya begitu pesat, mengharuskan pemerintah segera membuat keputusan cepat untuk menanggulangi penyebaran virus ini, selain karena mengancam jiwa masyarakat, juga sedang mengancam sendi-sendi kehidupan.

Mobilisasi orang-orang terus berlangsung, dari satu daerah ke daerah yang lain, dari satu negara ke negara yang lain. Tidak disadari, sebagian dari mereka ada yang membawa virus ini, mungkin virus itu bersemayam di dalam tubuhnya atau berada di barang-barang bawaan dan pakaian yang mereka kenakan. Pergerakan Sosial terus terjadi, pun demikian kontak fisik antar individu. Sehingga dengan mudah yang sehat ikut terjangkit tanpa mereka sadari. Pergerakan virus sudah pasti sulit dikendalikan, tersebar hampir di seluruh penjuru dunia, termasuk juga Indonesia. Sehingga penyakit ini mewabah di seluruh dunia. Pandemi Covid-19.

Dampak yang ditimbulkan begitu besar. Di antaranya adalah mengharuskan orang-orang bekerja dari rumah, tidak lagi di kantor-kantor. Beribadah di rumah, tidak lagi di masjid ataupun mushola [terutama di wilayah episentris], dan proses belajar mengajar pun dilaksanakan dari rumah. Para guru serta dosen mengajar dari rumah, para peserta didik dan mahasiswa harus belajar dari rumah. Hampir berjalan 2 bulan mulai kebijakan ini dibuat sampai batas akhir pasti yang belum diketahui.

Tidak dapat dipungkiri dampak negatif yang ditinggalkan amat terasa. Meskipun demikian, bersamaan dengan pandemi Covid-19 ini pasti ada hikmah yang menyertainya. Selain Tuhan ingin menunjukkan kuasaNya sekaligus bukti bahwa manusia adalah makhluk yang benar-benar lemah. Dengan adanya virus corona tipe baru, menggerakkan para pakar melakukan riset/penelitian untuk menciptakan obat dan vaksin yang dapat melawan virus ini. Mengingatkan kembali kepada manusia, bahwa untuk menjaga keseimbangan kehidupan hendaknya menjaga lingkungan hidup dengan baik, makan sewajar dan seperlunya,  tidak mengekploitasi alam,  dan hendaknya melestarikan lingkungan hidup dengan sebaik-baiknya. Misalnya.

Rasanya terlalu panjang penulis untuk masuk pada point pembicaraan topik ini. Uraian di atas sebatas gambaran umum saja bahwa sesungguhnya setiap peristiwa yang terjadi di alam ini, sekalipun peristiwa itu adalah musibah pasti selalu ada hikmah yang menyertainya. Kuncinya sederhana saja,  jika kita mau membaca fenomena yang terjadi dan mau memikirkannya. 

Hampir dua bulan anak-anak sekolah menjalani aktivitas belajarnya di rumah. Kegaiatan belajar yang sebelumnya tidak pernah terkirakan. Kini benar-benar terjadi,  mau tidak mau guru dan peserta didik harus menjalani kegiatan pembelajaran dari rumah masing-masing. Sebuah fenomena yang baru. Di sini, peran serta orang tua sangat dibutuhkan demi terlaksananya pembelajaran anak-anaknya. Tiap orang tua harus menyediakan alat komunikasi yang memadai - androit/laptop- , menyisihkan sebagian uang untuk membeli pulsa/paket data internet - karena rata-rata pembelajarannya daring-,  selain juga harus menyisihkan sebagian besar waktunya untuk mendampingi anak-anaknya tatkala belajar. Terutama bagi bagi orang tua yang anak-anak yang masih duduk di bangku TK dan Sekolah Dasar. Peran serta orang tua sangat dibutuhkan demi tercapainya tujuan belajar dari rumah ini. Orang tua tidak hanya sekedar mendampingi, tetapi ikut membantu mengatur jadwal belajar, memantau, memberi motivas sembari memberi solusi ketika sedang menemui kendala belajar dan lain sebagainya.

Suasana yang sangat berbeda dengan hari-hari sebelum pandemi ini terjadi. Suasana rumah seperti menjadi sekolahan, orang tua yang seluruh waktunya biasanya habis untuk bekerja di luar. Kini musti menyisihkan banyak waktu untuk menjadi guru bagi anak-anaknya. Disadari atau tidak, Covid-19 mengingatkan kembali akan fungsi rumah sebagai pusat ilmu bagi keluarga. Ini pesan positif dan perlu kita renungkan. Tidak hanya cukup kita renungkan tetapi juga harus ditindaklanjuti. Tentu bagi setiap orang tua.

Jika kita menengok ke belakang, kiranya sangat tidak berlebihan jika dikatakan orang tua dan rumah adalah guru dan sekolah pertama bagi seorang anak. Orang tua menjadi guru bagi anaknya setidaknya mulai anak dalam kandungan. Segala macam cara telah dilakukan, terutama seorang ibu. Dia rajin mendengarkan musik-musik yang baik, rajin membaca Al-qur'an, makan makanan yang halal lagi baik, mengatur emosi, berbicara hanya yang baik-baik saja,  berdoa dan lain-lain sebagainya. Semuanya pernah dilakukan orang tua, kususnya ibu demi mengajari anaknya yang masih di dalam kandungan. Sungguh awalan belajar yang baik. Sampai ia lahir dan tumbuh besar, sejatinya orang tua lah yang menjadi model dan panutan bagi seorang anak. Rumah bukan hanya hunian semata tetapi juga sekolahan pertama bagi seorang anak. Jika setiap orang tua menyadari akan fungsi rumah bagi keluarganya sebagai pusat ilmu, tentu tidak akan mengemas rumahnya hanya dengan barang-barang, kursi-kursi, lemari-lemari berisi baju, dan barang-barang berharga lainya saja. Tetapi, karena rumah sebagai pusat ilmu, rumah musti juga dapat menumbuhkan spirit belajar anak-anak. Seperti adanya perpustakaan rumah, yang menyediakan buku-buku yang relevan dengan tingkat usia anak, hingga buku-buku yang lain yang lebih kompleks. Termasuk dorongan orang tua, baik dari segi ucapan dan tingkah laku sehari-hari harus mencerminkan sosok seorang guru. Karena orang tua juga guru bagi anak-anaknya.

Rumah tangga akan diangkat derajatnya oleh  Allah SWT. ternyata bukan rumah tangga yang punya kedudukan tinggi. Bahkan sebaliknya, tidak jarang kedudukan tinggi itulah yang menghinakan. Tidak jarang pula kekayaan yang banyak akan membuat sebuah rumah tangga "dimiskinkan" oleh keinginan-keinginan, diperbudak dan dinistakan oleh apa yang dimiliki. Tentu ini bukan harapan kita semua. Harapan kita adalah seperti yang sudah dipesankan oleh Allah SWT dalam surat Al-Mujadilah ayat 11, yang artinya; "...... Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di anataramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat....". 

Kegigihan rumah tangga dalam menuntut ilmu, memperkaya ilmu dan meluaskan ilmu adalah kekayaan yang teramat berharga. Barang siapa ingin dunia pasti pakai ilmu. Ingin akhirat harus pakai ilmu. Ingin keduanya haruslah pakai ilmu. Ilmu adalah pupuknya iman. Memiliki harta tetapi kurang ilmu, malah kita akan menjadi "penjaga harta". Kalau kita memiliki ilmu yang banyak maka ilmulah yang akan menjaga kita. Harta dinafkahkan bisa habis, sedangkan ilmu bila kita nafkahkan kian semakin melimpah. Oleh karena itu, tidak berlebihan jika berpesan " Pastikan agar anggota keluaga kita - anak, istri, suami-  selalu sungguh-sungguh untuk mencari ilmu. Baik ilmu tentang hidup di dunia maupun ilmu untuk menggapai kebahagiaan di akhirat. 

Percayalah ! Allah SWT menjanjikan, jika Allah cinta pada keluarga, cirinya ialah dibukakan hati mereka untuk belajar ilmu agama. Untuk itu, Hari ini adalah mementum yang tepat bagi kita orang tua untuk mengingat kembali bahwa rumah adalah pusat ilmu bagi keluarga kita. Kita mulai lagi dengan mencari majlis\ ilmu, datangi dengan sungguh-sungguh. Beli buku-buku yang bermanfaat untuk bacaan keluarga, terutama anak-anak kita. Menjadikan perpustakaan menjadi bagian penting dari rumah kita. Dengarkan radio dan apa sajalah yang penting dapat membuat kita semakin mengenal Allah SWT. Yang terpenting dapat mengenalkan anak-anak kita pada ilmu dan dapat menumbuhkan spiritnya untuk selalu giat belajar.
Perpustakaan rumah yang harus ditingkatkan kembali
 

Menyikapi bencana ternyata tidak harus dengan ratapan dan kegelisahan. Dengan sedikit berfikir jernih kita akan dapat memperoleh hikmah-hikmah di balik semua kejadian.

wallahu a'almu bissowab...

08 Mei 2020
Punjuul Karangrejo Tulungagung.

Pesan Diri [Mengingat Bait Syair saat Madrasah 25 Tahun Silam]

AKU SEDANG MEMBANTU IBU

Subadi


"Bejo Beji Bejane Wong Kang Dho Iling"
"Dho Ngibadah Moco Qur'an Kang Sumandhing" 




Bejo Beji;

Bejo kemayangan, keberuntungan hakiki dimata Alloh, dalam naungan ridha dan rahmatNya, kebahagiaan yang akan menyambut manuasia saat hidup di dunia dan kelak di akhirat. 

Bejane Wong Kang Dho Iling;
 
Keberuntungan dan kebahagiaan akan menjadi hadiah bagi orang-orang yang selalu ingat dan sadar akan dirinya, sebagai hamba yang musti selalu menghamba pada Rabnya.


Dho Ngibadah;

Orang-orang yang ingat akan jati dirinya dan sadar akan keberadaan Dzat Yang Maha Agung akan selalu berusaha dengan sekuat tenaga menjaga syahadatnya, sekaligus tunduk dan patuh, menjalankan perintah dan meninggalkan larangannya.

Moco Qur'an Kang Samanding;

Orang yang beruntung adalah mereka yang selalu ingat dan beramal shalih yang dilandasi kejujuran dan keihklasan di hatinya. Ada satu petunjuk yang jika berpegang teguh dengannya niscaya akan selamat hingga tujuan yang diridhai. Petunjuk itu adalah peta kehidupan yang abadi, diberikan kepada orang suci oleh Yang Maha Suci. Peta itu kini sangat dekat "sumanding" dengan orang-orang yang beriman. 


Mari kita sambut dia,
Mari kita perhatikan dia, 
Mari kita baca-baca dia,

Jangan biarkan dia telelap tidur ngorok di pojok meja dan lemari,
berselimut sawang bersimbah debu.

Peta itu adalah Al-Qur'an Al-Karim.


Ya Rab...
Limpahkan kepada kami kekuatan untuk selalu ingat kepadaMu, 
Kekuatan untuk menyempurnakan ibadah kepadaMu,
Kekuatan untuk istiqamah membaca petunjukMu,
Sehingga menjadi hambaMu yang Engkau Ridhai.

Amin. 

07 Mei 2020
Punjul Karangrejo Tulungagung

Pesan dan Doa untuk Buah Hati

Farhan & Furqon
Puisi

Subadi

Anakku, belahan jiwaku
Waktu berlalu tanpa pernah kita sedari
Namun pelukan sayang ibu dan ayah tak pernah kehilangan erti
Dakapan hangat juga selalu menyertai
Doa tulus ku melekat erat dalam ayunan langkah bersatu mimpi

Anakku, jendela sanubariku
Perjuangan itu kini sudah di hadapan
Saatnya menjalani hidup dengan penuh kebebasan
Hadapi tentangan dengan senyuman
Sapa setiap kesulitan dengan keikhlasan
Raih bintang dengan penuh harapan

Anakku, penawar hidupku
Hidup ini tidak terlalu mudah dijalani
Ada kesulitan yang akan memperkaya hati,
Tapi.. Jadilah pemenang layaknya juara sejati
Dengan rendah hati dan luhur budi
Bertabur kasih bersulam pekerti

Anakku, bintang harapanku
Ayunkan langkah dengan ringan hati
Gapai setiap mimpi yang ada di sanubari
Bentangkan asa agar menjadi Satu

YA Allah
Lindungi anakku dalam teduh kurnia-Mu
Bimbing anakku di setiap persimpangan yang membuatnya bimbang
Beri kemuliaan budi agar membuatnya bererti
Titiskan kebesaran jiwa agar membuatnya bermakna
Sentuh hatinya dengan semangat tulus untuk berkongsi
Tanamkan keyakinan terhadap kebaikan
Penuhi tekadnya dengan kerja keras dan pantang menyerah
Teguhkan peribadinya agar tidak mudah goyah

Ya Allah..
Terima kasih untuk kurnia terindah ini
Terima kasih untuk anugerah tidak ternilai ini

Yang mengharapkan momongan semoga lekas terkabul
Niat, ihtiyar, doa, dan sholat
[Hajat, Tahajjud dan Dhuha]
Amin

07 Mei 2020

Punjul Karangrejo Tulungagung

Bentuk Ijabahnya Doa


Subadi


Allah SWT memerintahkan kita untuk berdoa kepadaNya.
ادعوني استجب لكم
"Berdoalah kepadaKu, niscaya Aku kabulkan doa kalian"


Disamping itu, doa juga merupakan satu bentuk ibadah yang akan mendapatkan pahala. 
الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ
”Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi) 

*Ijabahnya Doa*

والاجابة قد تكون بعين المطلوب او بدفع ضرر اوبثواب فى الاخرة كما قيل انه يأتي الشخص يوم القيامة فيعطيه الله تعالى ثواباعظيما فيتعجب ويقول يا رب بماذا فيقول الله تعالى الم تسألني كذا وكذا في وقت وكذا وكذا فيتمنى انه لم يكن اجيب بدعوة قط فى دار الدنيا (توشيخ على ابن قاسم) 
Ijabahnya doa adakalanya berupa sesuatu yang kita minta (ainil matlub), atau berupa tertolaknya bahaya yang akan menimpa, atau dirupakan (Allah SWT)  dalam bentuk pahala di akhirat. 
Seperti yang telah diucapkan, sesungguhnya ada seseorang yang  datang pada hari kiamat, lalu SWT memberinya pahala yang besar (banyak), kemuadian orang tersebut heran dan bertanya,  Yaa Allah... Sebab apa aku memperoleh pahala yang besar ini ? 
Allah SWT berfirman, "bukankah engkau pernah meminta kepadaKu ini dan itu, di waktu ini dan itu. (ini semua adalah balasan dari doa-doamu yang engkau panjatkan didunia dulu).
Setelah mengetahui akan hal itu, maka ia berharap agar doa doanya tidak dikabulkan didunia (namun dikabulkan di akhirat semua).

Kesimpulan:

*Berdoa itu diperintah Allah SWT.
*Doa adalah ibadah. 
*Doa merupakan cerminan ketawadhu'nya seorang hamba kepada Robnya.
*Dikabulkannya doa adakalanya berupa sesuatu yang kita minta (ainil matlub), seperti meminta rizki diberi rizki, atau dirupakan Allah dalam bentuk lain, seperti meminta harta diberi kesehatan, selamat dari musibah. Ada yang dikabulkan di dunia dan ada yang dikabulkan diakhirat. 


Mudah mudahan Allah memudahkan kita untuk senantiasa berdoa, munajat kepada Allah SWT, sehingga kita memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Amin.

07 Mei 2020
Punjul Karangrejo Tulungagung

MENGAPA HARUS MEMILIH MADRASAH

[Madrsah Mengantarkan Generasi Unggul, Berkualitas, Berakhlakul karimah]

Subadi*

Salah satu semangat juang pendidikan Madrasah dapat dilihat dari bagaimana caranya dalam membekali peserta didik dengan dasar-dasar Agama. Fiqih, ilmu Al-qur'an,  ilmu Hadist,  Sejarah Kebudayaan Islam, dan  ilmu Akhlak, misalnya. Tanpa sedikitpun mengesampingkan pendidikan umum, Sain, Matematika, Ilmu Sosial Budaya, Pendidikan Lingkungan Hidup. dan lain-lain. Karena pada dasarnya semua Ilmu dan pengetahuan hanya bersumber dari Sang Pencipta, yaitu Allah SWT,  Tuhan semesta alam. Kedua ranah itu hendaknya ditekuni demi keseimbangan dan keselarasan ilmu pengetahuan.

Pengetahuan agama dan umum tidak harus selalu dibenturkan antara satu dengan yang lainnya. Keduanya secara ideal haruslah berjalan beriringan demi tercapainya keseimbangan intelektualitas dan spiritualitas. Fenomena menunjukkan, sekarang banyak bermunculan sekolah umum berbasis pesantren -madrasah- yang tumbuh subur di lingkungan Pesantren. Hampir semua Pesantren yang dulunya hanya punya konsentrasi pada pendidikan bidang agama,  kini rata-rata telah mengembangkan sayap dakwahnya dengan mendirikan sekolah-sekolah. Mulai tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Semua itu terjadi bukan tanpa alasan. Pesantren yang merupakan tonggak awal pendidikan di Nusantara juga harus mampu menjawab tantangan serta tuntutan zaman yang kian modern. Sehingga pengembangan sayap dakwah pada ranah pendidikan umum ini menjadi hal yang sangat wajar dan dirasa perlu. Pesantren, selain membekali peserta didik dengan beragam fan-fan ilmu agama, juga musti menyiapkan peserta didik dengan pengetahuan umum yang relevan dengan dinamika kehidupan modren. Selain itu, pengaruh globalisasi dengan segala macam pernak-pernik pengaruh negatif yang di hadirkan menjadi salah satu sebab tidak terlalu diminatinya pendidikan pesantren yang murni hanya mengutamakan soal pengetahuan agama. Bagi pesantren agaknya juga sebagai cara kreatif yang harus ditempuh untuk mempertahankan eksistensinya sebagai lembaga pendidikan tertua di nusantara. Sehingga dapat ditarik kesimpulan, lembaga pendidikan umum di pesantren setara dengan lembaga formal seperti MI, Mts, dan MA. Menurut hemat penulis, kesemuanya mempunyai prioritas utama yaitu peran dalam pembentukan karakter peserta didik.

Secara umum, kurun beberapa tahun terakhir pendidikan Madrasah berkembang dengan pesat, hampir di semua tingkatan, mulai dari MI, Mts, MA dan Sekolah Umum yang berada di lingkungan pesantren. Orang tua didik, dari berbagai latar belakang dan tingkatan sosialnya tidak canggung untuk menitipkan dan mempercayakan pendidikan bagi anak-anaknya di Madrasah. Fenomena ini terjadi begitu masif di sekitaran kita, bahkan nasional. Sungguh perkembangan yang luar biasa terjadi di Madrasah. Hampir dapat dipastikan setiap tahun antusias masyarakat kepada Madrasah selalu meninggkat. Ini dapat dilihat dengan jumlah input calon peserta didik baru yang selalu menujukkan peningkatan dari waktu ke waktu. Pendidikan Madrasah diminati masyarakat bukan tanpa alasan. Pasti ada alasan yang mendasar dan logis sehinga masyarakat tergerak untuk menjadikan Madrasah sebagai pilihan utama " firts choice" bagi pendidikan anak-anaknya.

Hemat penulis, ada beberapa alasan yang mendasari orang tua didik memilih Madrasah untuk pendidikan anak-anaknya;
1] Karena di madrasah semua tujuan pendidikan baik pada ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik lebih mengena.
2] Guru madrasah bukan pengajar yang sekedar mengajar dan mentransfer ilmu pengetahuan semata. Tetapi lebih mendidik anak-anak bangsa. Integritas, loyalitas dan tanggung jawab guru madrasah sangat membanggakan dalam menuntun, membimbing, dan mengarahkan peserta didik agar menjadi generasi yang shalih dan shalihah, dimana karakter atau akhlak menjadi prioritas pertama dan utama.
3] Mata pelajaran yang lebih variatif ; selain pengetahuan umum yang diajarkan, pengetahuan agama juga sangat diprioritaskan. Ini dapat dibuktikan dengan adanya pelajaran : al-Quran Hadits, Akhidah Akhlak, Sejarah Kebudayaan Islam, Fikih dan Bahasa Arab. 
4] Lebih dekat dengan Masjid/ Musalla. Dengan demikian sudah barang tentu setiap hari peserta didik akan selalu bersinggungan dengan praktik keagamaan, seperti wudhu, shalat dhuha, shalat fardhu dan kegiatan-kegiatan pembiasaan dalam rangka pembentukan karakter shalih. 
5] Adanya kegiatan pembiasaan yang lebih bervariasi, Pembiasaan sangatlah tepat untuk usia dini -usia emas/golden age- karena kegiatan positif yang diulang-ulang akan terpatri pada jiwa dan menjadi kerakter shalih, yang dapat menjadi bekal hidup di kemudian hari. Dengan adanya prioritas pengetahuan agama yang memadai dan dikolaborasikan dengan kegiatan pembiasaan ini diharapkan menjadi benteng bagi peserta didik dalam menyikapi beragam persoalan dan pengaruh negatif dari globalisasi.
6] Gaung pendidikan karakter lebih melekat di tubuh Madrasah,  Madrasah dapat mengejawentahkan dalam bingkai Akhlak Mahmudah. Peserta didik Madrasah dibekali dengan pemahaman bahwa Akhlak itu universal,  berakhlak berarti harus mampu membangun hubungan yang positif dengan Tuhannya,  Rasulnya,  Orang tuanya,  sesama manusia,  dirinya sendiri, cara bersikap dan berbudaya dan menjaga alam semesta.
Sebagai contoh,  a] Berakhlak dengan Tuhannya,  berarti Peserta didik harus belajar dan berusaha menjalankan apa yang menjadi perintahNya.  b] dengan RasulNya,  anak didik musti taat dengan ajaran yang dibawanya serta mencontoh prilaku dan kebiasaannya untuk menghiasi prilaku sehari-hari.  3] Dengan orang tua, peserta didik harus mampu berbakti kepada keduanya, membantu dan mendoakan. 4] Dengan dirinya berarti anak didik harus mampu mensyukuri nikmat, berkata jujur dan baik,  berpakain yang sopan,  dan menggunakan anugerah akal sehat untuk belajar dengan sungguh-sungguh, juga harus mampu bertanggung jawab atas semua yang diputuskan dan dikerjakan, 5]  Dan dengan alam sekitar berarti anak didik harus menjaga dan merawat bumi agar tercipta harmoni kehidupan di dunia. Tentu ini satu dari sejuta usaha dan bentuk dari penerapan Akhlak mulia.

Dewasa ini,  sebagai bukti bahwa pendidikan Madrasah tidak hanya berkutat pada pendidikan yang berorientasi pada pengetahuan agama semata dapat dilihat dari gerak dan perannya mampu bersaing dengan lembaga sederajat serta prestasi-prestasi yang diraih, baik pada ranah akademik maupun ektra kurikuler, bidang sain,  budaya,  seni dan ketrampilan yang lain.

Dengan alasan-alasan di atas, kiranya dapat ditarik sebuah kesimpulan,  bahwa pendidikan Madrasahlah yang paling tepat menjadi pilihan utama "first Choice"  bagi masyarakat dan orang tua didik, untuk ikut mengambil peran sebagai benteng sekaligus penangkal dari berbagai macam pengaruh negatif  era globalisasi saat ini. 

Sedikit gambaran mengapa harus memilih Madrasah dan betapa besar peran Madrasah dalam mewujudkan generasi yang berkualitas dan berakhlaqul karimah...

Ayooo...  Sekolah di Madrasah agar Hidup menjadi tambah berkah...  Aamiiin....


05 Mei 2020
Punjul Karangrejo Tulungagung

*Kepala MI Tarbiyatussibyan Boyolangu Tulungagung

LADANG TAFAKUR [Belajar Dari Perilaku Anak Kecil]


Subadi


Bagi orang tua, anak adalah karunia Allah SWT yang tak dapat dinilai dengan apa pun. Dengan segala keunikan dan kepolosannya ia menjadi tempat curahan kasih sayang orang tua. Setiap anak itu unik. Masing-masing dari mereka memiliki kebutuhan, tantangan, dan beragam permasalahan yang berlainan. Selain itu, ia juga memiliki potensi dan bakat yang berbeda-beda. Setiap anak berhak memilih dan melakukan apa yang ia inginkan. Ini sangat diperlukan, agara ketika beranjak dewasa anak mampu menjadi sosok yang bertanggung jawab, kreatif dan mandiri. 

Alangkah bahagianya jika Allah SWT mengaruniakan kepada kita hati yang bening. Ibarat gelas bening yang terisi air jernih. Saat masuk di dalamnya sebutir debu saja akan mudah terlihat. Jika ditembus cahaya maka teranglah seisi gelas dan bahkan bisa menerangi sekitarnya. Begitulah kira-kira gambaran orang tua yang memiliki hati yang bening. Jika berbuat salah akan segera menyadari kesalahannya dan tidak akan selalu sibuk untuk menyalahkan anak, melainkan akan sibuk mengevaluasi dirinya. 

Dengan hati yang jernih pula, dapat dipastikan orang tua akan mudah menerima ilmu dari mana saja. Ilmu yang tidak hanya di dapat dari bangku sekolah dan kuliah, ilmu yang tidak hanya hadir dari orang yang lebih tua saja. Hati yang jernih pasti juga dapat menerima limpahan ilmu dari sorang anak bahkan bayi sekalipun. Dari sini mari bersama-sama kita bertafakkur !!! Bertafakur dengan mengamati kebiasaan dan keunikan anak kecil. Bersihkan hati untuk mendapatkan ilmu. 

Lazimnya, anak kecil punya semangat pantang menyerah yang patut di tiru oleh orang dewasa. Lihatlah anak-anak yang mulai berjalan, bertatih-tatih melangkahkan kakinya. Sesekali, bahkan sering terjatuh, yang membuat kakinya lecet hingga berdarah. Walaupun demikian ia tetap mengulangi untuk berjalan tanpa berfikir " aku tidak bakat berjalan ". Terus dan terus berjalan tanpa kenal lelah dan putus semangat. Sampai ia benar-benar mampu berjalan dengan lancar. 

Lihatlah, ketika anak sedang bertengkar dengan temannya. Umumnya anak-anak lebih cepat akur dan akrab kembali. Semenit yang lalu ia adu mulut bahkan berebut mainan. Tapi semenit kemudian ia sudah berbagi makanan dan bermain bersama lagi. Sungguh ladang untuk tafakkur bagi orang-orang yang mau berfikir. 

Lantas mengapa orang-orang dewasa takut gagal ? Sesungguhnya kita tidak harus malu dengan kegagalan kita, mencoba sesuatu yang positif. Kejatuhan kita bukanlah kegagalan. Karena kegagalan yang sesungguhnya adalah tidak berbuat untuk memulai sesuatu. Apalagi jika sesuatu itu sudah kita mulai, dan bahkan sudah menghasilkan karya, meskipun sangat sederhana. Itu adalah prestasi dasar yang musti disyukuri dengan terus gigih dan tekun untuk menghadirkan karya-karya baru yang lebih berkualitas dan bermanfaat lagi. Malu musti disingkirkan jauh jauh. 

Ada pelajaran lain yang dapat diambil dari anak-anak, Pelajaran akan kepolasan mereka. Anak-anak menjalani kehidupan apa adanya, tidak pernah dipusingkan dengan keadaan. Mereka sungguh polos, hati dan pikirannya merdeka. Jika orang dewasa mau menirunya dalam hal yang positif, pasti hidup tidak akan berat penuh sengsara. Selain itu, anak-anak juga mempunyai kebiasaan yang menunjukkan prilaku kreatif, di benaknya banyak sekali hal-hal yang ingin ia ekpresikan, main corat-coret tembok, loncat-loncat, menyobek kertas, menggambar apa yang ia pikirkan dan lain sebagainya. Dan sudah selayaknya sebagai orang dewasa dengan kematangan berfikir yang dimiliki, bertindak kreatif adalah suatu keniscayaan. Tentu ini tak cukup untuk menggambarkan kepolosan anak-anak yang dapat kita contoh tanpa harus merasa malu. 

Meskipun demikian, ada juga beberapa kebiasaan dan prilaku anak yang tidak layak untuk ditiru orang dewasa. Diantaranya adalah suka pamer dan ingin menang sendiri, Apapun yang ia miliki selalu ingin diperlihatkan kepada temannya dan orang-orang sekitar. Tentu ini Naif  jika orang dewasa sampai meniru prilaku anak-anak yang satu ini. Saya yakin tujuan anak kecil itu hanya sebatas kelucuan, bukan tujuan yang negatif. Tetapi, suka pamer dan menang sendiri bagi orang dewasa adalah kesalah besar yang musti dihindari.

Anak kecil selalu ingin menang sendiri dan sering mamaksakan kehendak,  ini dapat dimaklumi karena ia belum mempunyai kemampuan dalam memperhitungkan sesuatu. Jika ini terjadi pada orang dewasa akan sangat naif dan fatal. Lantas bagaimana cara sebagai orang tua agar kebiasaan negatif pada anak tidak terbawa sampai dewasa? salah satu kuncinya adalah kedewasaan orang tua - Ibu dan Bapak- . Kedewasaan tersebut dimulai dari mengendalikan diri dari ingin menang sendiri. Orang tua musti mengedepankan dialog dari pada selalu mendekte anak. Karena harus disadari keinginan orang tua belum tentu benar-benar baik bagi seorang anak.

Sifat lain dari anak yang tidak patut untuk ditiru adalah tidak adanya rasa malu. Ia tidak malu kencing di celana bahkan menangis di tempat umum. Jika sampai ditiru orang dewasa, ini sama sekali bukan prestasi melainkan kebodohan yang amat besar. hehe. Sungguh betapa banyak prilaku anak-anak yang dapat kita tafakuri. Sebagai sumber inspirasi sekaligus ilmu bagi kita. Semoga bermanfaat.

05 Mei 2020
Pujul Karangrejo Tulungagung 

Kisah Pertemanan Yang Tak Terlupakan

Ahmad Izzuddin, M.Pd.I
Kekuatan Berfikir Positif 

[Berjumpa dengan Ahmad Izzuddin, S.Pd.I,M.Pd.I]

Subadi

Meskipun aku berasal dari desa, tepatnya Desa Tawing, Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek,  wilayah paling selatan di Kabupaten Trenggalek. Anak desa pesisir pantai selatan yang jauh dari keramaian kota dan segala hiruk-pikuk kebisingannya. Alhmdulillah, lahir dan besar berada di lingkungan keluarga yang sangat mengedepankan pendidikan, meskipun orang tua SD saja tidak lulus karena suatu hal yang melatarbelakanginya. Bahkan ke empat saudaraku dengan kegigihan orang tua yang serba terbatas itu masih bisa sekolah hingga mengenyam bangku kuliah, S 1 dan sebagian s 2. Sebuah prestasi orang tua yang tak terkira, yang patut disyukuri dengan sebaik-bainya.

Aku lulus S 1 pada tahun 2008, saat itu program studi yang aku pilih adalah Pendidikan Bahasa Arab/PBA, di STAIN Tulungagung. Program studi ini aku ambil karena memang dari kecil ada ketertarikan tersendiri dengan bahasa arab,  ilmu nahwu dan sharaf,  kayaknya ini pengaruh lingkungan pendidikan yang aku lewati sebelumnya, yang cenderung hanya berkutat di madrasah dan madrasah. Mulai dari MI, MtsN, MAN, Pesantren, bahkan saat di MAN saja dulu sudah berada di jurusan Bahasa. MAN 2 Tulungagung. Kala itu yang menjadi Kepala Madrasahnya adalah Pak Drs. Marjuni, M.Pd. 

Selang 2 tahun setelah lulus dari STAIN Tulungagung, tepatnya tahun 2010 aku mencoba mendaftar dengan beberapa teman Pondok melanjutkan study di pasca sarjana STAIN Tulungagung. Jurusan yang saya ambil sama dengan kebanyakan teman, kala itu ada kang Dian Muh. Hakim, yang kini jadi Dosen di UNISMA Malang, kang Arif Nur Aini, yang kini jadi dosen di Staid Diponegoro Tulungagung, Ustadzku pak H. Bagus Ahmadi, yang kini menjadi dosen di Staid Diponegoro Tulungagung, Kang Farid Efendi yang kini menjadi pengusaha konfeksi selain juga jadi guru. dan teman-teman yang lain.

Saat masuk mendaftar, seperti biasanya ada prasarat yang musti dipenuhi, yaitu membuat karya ilmiyah semacam makalah pendidikan, karena jurusan yang ku ambil adalah MPI, Managemen Pendidikan Islam. Akhirnya, cari-cari literatur ketemulah ide saat itu, tema makalah yang ku ambil adalah Epistemologi Pendidikan Islam, sebisa dan semampu ku buat. Yang ku ingat kala mendaftar saat itu, semua calon mahasiswa musti mengisi ceklist persyaratan, yang salah satu bagian ada pilihan kemampuan bahasa asingnya, ada arab dan inggris - aktif-pasif-tidak bisa-, diminta untuk dilingkari salah satu, saya coba saja pilih yang aktif. walhasil, ternyata ini diperhatikan betul sama dosen pengujinya, saat itu masih ingat betul ada Pak Dr. Abad Badruzzaman, Dr. Teguh, dan Dr. Ahmad Fatoni. Mampus ... aku diminta presentasi dengan bahasa arab itu, karena sudah aku pilih ya musti tanggung jawab, meskipun tidak maksimal kala itu. Alhamdulillah masih terbantu dengan sedikit ingatan maharatul kalam yang kumiliki.

Sampailah pada informasi penerimaan mahasiswa baru, dan alhmdulillah diterima. Juga teman-teman yang lain. Kemudian mengikuti kegiatan perkuliaan awalan, Perkuliahan Umum yang diselenggarakan di qo'ah/AULA Kampus STAIN.  Di sini Kita dikumpulkan mengikuti kegiatan yang paling awal, semua mahasiswa baru berkumpul menjadi satu dan belum tahu di kelas mana kita akan berada, serta besama siapa kita akan berteman. 

Kuliah Umum terus berjalan, Pemateri silih berganti memberikan kuliah kala itu, sampailah pada sesi tanya jawab yang melibatkan mahasiswa baru. Semua yang bertanya, pertanyaannya bagus-bagus dan kentara akan kedalaman ilmunya. Dari sekian penanya itu, ada satu yang bagiku sangat berkesan, dari mahasiswa baru, ia ke depan memperkenalkan diri, nama Ahmad Izzuddin, asal Blitar, asal kampus dan seterusnya.... ia bertanya yang bagiku pertanyaannya luar biasa, rasa kantuk pun serasa langsung hilang,  retorika bahasanya lugas, sistematis dan suarnya sedikit serak basah. Terbesit di dalam hatiku, Ya allah... Aku akan sangat bahagia jika nanti bisa berkawan dengan orang ini. Keinginan itu sangat kuat muncul di pikiran ini.

Alhmdulillah, saat pembagian kelas, seluruh mahasihwa baru mencari kelasnya masing-masing kemudian masuk di kelas sesuai yang ada di daftar pengumuman. Apa yang terjadi ? setelah aku duduk di salah satu bangku, tak selang lama sosok yang saat itu aku harapkan jadi teman - Ahmad Izzuddin- duduk disampingku. Subhanallah... Terjawab sudah keinginan itu. 

Dan alhdulillah, kuliah berjalan, pertemanan berjalan dengan baik, hampir tiap kali ada waktu luang di sela-sela kuliah kita sempatkan ngopi bareng sambil ngobrol dan diskusi ringan,   banyak hal yang ku dapat dari pertemanan itu, dia orang baik, spiritnya luar biasa,  yang sebenarnya  perjuangan dia dalam menuntut ilmu tak kalah rumit dari ku. Dan saat ini dia menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi islam di kota Blitar. Terus semangat kawan... suatu saat nanti kita akan berjumpa lagi dalam situasi dan kondisi yang lebih membahagiakan. aamiin,...

Positif Thingking yes !- Negatif Thingking No !

04 Mei 2020.




𝗥𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻

𝘒𝘦𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘰𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪...