google-site-verification=a29cQDLicXmx_KpxGtFuPjFzKNqoMZ3FEdNxkyQfTTk Kang Badi'

لا ‏تفسدوا ‏في ‏الارض ‏بعد ‏اصلاحها ‏ ‏


🆂🆄🅱🅰🅳🅸

𝓑𝓲𝓼𝓶𝓲𝓵𝓵𝓪𝓱. Pada kesempatan ini masih dalam suasana prihatin menyaksikan saudara sebangsa yang dilanda musibah banjir. Siaran televisi setiap hari menyajikan berita di beberapa wilayah Indonesia mengalami banjir. Banjir yang terjadi tak hanya menggenangi pemukiman mereka saja, namun juga merusak ladang pertanian, menghanyutkan harta benda, jalan ambrol, tanah longsor, dan juga sampai menelan korban jiwa.

Disadari atau tidak, percaya atau tidak, sejatinya semua itu bisa terjadi sebab ada suatu hal yang telah melatar belakanginya, yakni sebab adanya kekerasan manusia terhadap alam, kekerasan terhadap tanah dimana manusia tinggal dan hidup. Hal ini musti menjadi perhatian serius dan segera dicarikan solusinya.

Membincang soal kekerasan terhadap tanah seringkali terlupakan atau jangan-jangan memang sengaja dilupakan sehingga tidak menjadi perhatian dan menjadi diskusi yang serius untuk dicarikan solusinya. Kenyataan bicara bahwa dampak yang ditimbulkan begitu serius dan dahsyat. Tidak hanya menimpa mereka yang melakukan kekerasan saja, namun masyarakat kebanyakan juga ikut terkena getahnya. 

Kekerasan terhadap tanah berarti memaksa tanah untuk memproduksi diluar kemampuannya. Melihat fenomena banjir dan tanah longsor terjadi di mana-mana menjadi petanda bahwa telah terjadi kekerasan terhadap tanah yang sudah meluas di negara tercinta ini, Indonesia. Nampaknya, aktivitas memaksa tanah untuk terus memproduksi di luar ambang batas kemampuannya ini tak disadari bahwa itu suatu kekerasan. Yang penting mengolah dan menghasilkan produk yang melimpah demi materi semata.

Kini aktivitas pertanian tidak hanya terjadi di sawah dan ladang pada dataran rendah saja, namun hutan yang dulunya rindang dengan pepohonan besar dan kokoh kini sudah sangat berubah, berganti menjadi ladang pertanian dengan tanaman-tamanan kecil yang tak mampu menahan air hujan. Tanahnya pun menjadi rapuh dan mudah longsor saat terguyur oleh hujan yang lebat. 

Disamping itu, yang dulunya para petani masih menggunakan cara-cara sederhana dan tradisional untuk menggarap sawahnya, kini pola pertanian yang mereka jalani sudah jauh berubah dengan menggunakan bahan kimia non-organik yang sangat tinggi, pupuk kimia, pestisida, fungisida, dan herbisida misalnya. Sejatinya, jika mau merenungkan pola pertanian yang berlebihan itu selain dapat menyiksa tanah juga merusak ekosistem tanah sampai menimbulkan kerugian kesehatan manusia itu sendiri. 

Walhasil, meskipun semuanya telah terjadi, sebagai orang yang beriman pantang untuk berputus asa. Semampu yang bisa diusahakan sudah sepatutnya untuk terus berihtiyar demi melestarikan alam, sehingga kembali terjadi keseimbangan. Sebab, sudah berkali-kali Al-Qur'an mengingatkan " Laa tufsidu fil'ardi ba'da islahiha". [Jangan merusak bumi ini setelah ditata dengan baik]. Semoga bermanfaat. Amiin. 

Punjul, 14 Februari 2021

"Malas" Adalah Pikiran Setan

S u b a d i

Bismillah, tentu kita pernah menjumpai orang yang ada di sekitar kita terlihat pasif dan tidak ada gairah saat beraktivitas atau jangan-jangan, malah kita sendiri sering merasa malas, diam, kurang serius menjalani kehidupan, tidak peduli dengan sekitar, abai dengan yang lain, dan sebagainya. 

Jika demikian, apa yang bisa diharapkan dari orang yang terjangkiti pikiran malas? Jika ada, pasti hanyalah masalah. Hehe

Sebagai guru, pasti pernah mendengar alasan dari siswanya yang tidak mengerjakan tugas sekolah karena beberapa alasan, listrik sedang padam, kuota internet habis sehingga tak bisa menerima pelajaran daring, diajak pergi ke luar kota oleh orang tua, tidak punya buku paket, dan sederet alasan lainya.

Sejatinya, sepanjang di dalam diri seseorang masih menyala semangat belajar, tentu ia akan terus berusaha untuk bisa belajar meskipun banyak hal yang menjadi rintangan. Listrik padam, paketan habis, dan alasan lain itu tak akan bisa meredupkan semangat belajarnya. 

Namun, sepertinya jika seseorang sudah terjangkiti pola pikiran setan yang berupa sifat malas ini, didorong dan dimotivasi seperti apapun sulit akan berubah. Kalaupun mau belajar dan mengerjakan sesuatu biasanya dasarnya hanyalah karena terpaksa. Ya, terpaksa barangkali masih lebih bagus dari pada tidak sama sekali. Hehe, dengan harapan suatu saat mendapat hidayah

Tetap saja, seseorang yang melakukan sesuatu dengan terpaksa, dapat dipastikan tidak akan melakukannya dengan sepenuh hati dan hasilnya tidak akan menjadi produk yang maksimal. Malas hanya akan membuat seseorang kehilangan gairah dan semangat menjalani kehidupan. Dari sini, dapat disimpulkan bahwa malas merupakan bagian dari sifat tidak terpuji. Malas itu sifat tercela. 

Misalnya lagi, pernah kita mendengar dan melihat pemberitaan di televisi tentang sidang anggota DPR. Tidak sedikit para anggota DPR yang mangkir kalau sidang, banyak kursi sidang kosong. Kalaupun datang ada saja anggota DPR yang terlihat aneh dan menggelitik, mereka masuk ruang sidang, duduk, ada yang bermain HP, mengantuk, dan bahkan tertidur pulas. Hehe. Mereka malas mengikuti sidang yang urgen itu. Meskipun mereka sudah sering dikritik, namun tetap saja ada yang bermalas-malasan saat sidang. Ini cermin bahwa mereka sudah terjangkiti pikiran setan berupa malas. 

Ah, kok malah ngelantur membicarakan orang. Hal serupa juga dialami penulis, betapa tidak "menulis" merupakan salah satu aktivitas yang menjadi komitmen penulis kala itu. Penulis meyakini sepenuhnya bahwa menulis adalah bagian dari proses belajar, menjalaninya dengan suka cita dan ikhlas pasti akan bernilai ibadah. Sehingga aktivitas menulis akan terus dirawat selamanya. Namun, kenyataan berkata lain, lebih banyak diam dan malas menulis ketimbang menulisnya. Ada saja alasan sehingga gagal memulai menulis, sibuk urusan kerjaan, rumah tangga, bisnis, tak punya ide, dan sederet alasan lainya. Jangan-jangan ini karena sudah kerasukan pola pikiran setan, yakni malas, ah... kasian setan jadi kambing hitam melulu. 

Walhasil, malas memang penyakit berat, namun bukan berarti tidak bisa diatasi, sepanjang kita mau berubah. Selalu ingat bahwa malas merupakan bagian kecil dari pola pikiran setan yang harus dihindari. Sehingga dalam menjalani aktivitas sehari-hari terasa bersemangat dan bergairah. Tentu hasilnya pun akan menjadi lebih maksimal. Malas... Lenyaplah! 

Punjul, 13 Februari 2021

Selalu Ada Hikmah di Balik Setiap Musibah


S u b a d i

Bismillah. Aku sangat yakin bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah Swt tidak ada nilai yang sia-sia, sekalipun sesuatu itu berupa bencana. Bahkan dari setiap bencana yang ada selalu ada hikmah yang bisa menjadi pelajaran hidup. Tinggal semampu apa manusia bisa menggali dalamnya hikmah yang terpendam di balik bencana tersebut.

Di awal tahun 2021, nyatanya pandemi Covid-19 sampai hari ini masih melanda dan belum mereda. Bahkan bencana tanah longsor, banjir, jatuhnya pesawat dan gempa bumi yang hari ini terjadi silih berganti, menambah deret daftar bencana yang melanda umat manusia. Namun, jangan sampai membuat akal sehat kita lepas kendali. Yakinlah, semua yang terjadi di dunia tentu atas rencana dan ketentuan Sang Pencipta. Kita harus menyikapinya dengan bijak dan senantiasa mengedepankan prasangka baik. 

Ya, memang tidak bisa dipungkiri bahwa manusia cenderung memiliki pemahaman yang beragam tatkala melihat atau mengalami peristiwa luar biasa yang terjadi di muka bumi ini. Apalagi kejadian itu kemudian memberi efek pada ketidakstabilan berbagai sektor seperti ekonomi, runtuhnya tatanan sosial, bahkan sampai menelan korban jiwa. Corona, gempa bumi, tanah longsor, dan banjir, misalnya.

Satu-satunya cara terbaik saat menyikapi situasi dan kondisi seperti ini adalah dengan mengembalikan sepenuhnya kepada Allah Swt. Sebab, sejatinya Dialah Dzat yang menghendaki semua peristiwa terjadi dan yakin bahwa di balik semua itu ada maksud yang sesungguhnya tentu jauh lebih besar dibandingkan besar dan dahsyatnya peristiwa yang terjadi. 

Yakinlah bahwa berfikir negatif tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah, sebab ia bukan solusi yang tepat. Namun, kita harus berpikir positif bahwa wabah dan bencana yang terjadi adalah bagian dari ujian, tanda perhatian Tuhan kepada manusia. Di samping itu, musibah yang terjadi musti dijadikan wasilah yang efektif untuk meningkatkan keimanan dan ketaatan kepadaNya.

Di saat wabah dan bencana sedang melanda seperti saat ini, setidaknya ada dua dampak yang sangat dirasakan masyarakat. Yakni dampak kesehatan dan dampak ekonomi. Dampak-dampak ini adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri dan tidak boleh sampai kehilangan pikiran sehat sehingga kita semakin jauh dari Tuhan dan lupa akan kedudukan manusia sebagai hamba.

Meski tidak ringan, sudah seharusnya masyarakat menjadikan pandemi dan bencana yang datang silih berganti ini sebagai upaya meningkatkan kualitas kehambaannya dengan cara berzikir, mendekatkan diri pada Allah, dan melakukan sikap-sikap terpuji lainnya. Sebab manusia sebagai makhluk, ia pasti selalu membutuhkan penciptanya, Allah Swt. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya juga manusia musti memperbaiki hubungan dengan sesama makluk hidup dan alam sekitar. Yang akhirnya tercipta hablum minallah, minannas, dan minal alam yang selaras dan proporsional. 

Madiun, 20 Januari 2021


SISI POSITIF di BALIK "KEBERSIHAN DIRI"

S u b a d i

Bismillah. Musim pandemi Covid-19 seperti saat ini banyak mengingatkan kita tentang pentingnya beberapa hal. Seperti perlunya menjaga keseimbangan dan kelestarian alam, fungsi rumah sebagai tempat pendidikan terbaik bagi anak-anak kita, perlunya memupuk jiwa solidaritas dan sosial antar sesama, hingga pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan. 

Membincang soal kebersihan, setidaknya bisa diejawentahkan sebagai bagian upaya manusia untuk memelihara diri dan lingkungannya dari segala yang kotor, kumuh dan menjijikkan dalam rangka mewujudkan dan melestarikan kehidupan yang sehat dan nyaman, jauh dari benih-benih penyakit yang bisa menjangkiti tubuh manusia. 

Setiap manusia pasti menyukai kebersihan, mulai kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Aktivitas mencuci tangan dengan sabun, mandi, sikat gigi dan lainnya adalah hal yang sering kita lakukan. Namun, tidak semua tahu tentang tata cara menjaga kebersihan diri dengan benar. Betul, menjaga kebersihan diri merupakan hal yang sangat vital dalam hidup seseorang dan bahkan sudah menjadi rutinitas setiap hari. Akan tetapi, apakah sejatinya alasan kita harus menjaga kebersihan? 

Ditinjau dari sudut sosial, menjaga kebersihan diri dapat membantu kita menghindari citra tubuh yang negatif. Sebagai gambaran sederhananya, saat bau badan, bau ketiak, bau mulut, gigi kuning, atau bagian lain dari tubuh kita tidak sedap tentu disamping menjadikan diri tidak nyaman kemungkinan negatif lain bisa menjadi bahan pembicaraan atau ejekan. 

Dari sudut kesehatan, faktor kebersihan diri yang buruk bisa meningkatkan risiko terkena ragam penyakit, seperti diare, terjangkit virus, atau infeksi penyakit lainnya. Maka dari itu dengan menjaga kebersihan diri, kita bisa mencegah terjadinya infeksi berbagai macam penyakit, baik penyakit yang ringan maupun yang berat. 

Secara psikologis kebersihan diri yang baik tentu bisa meningkatkan rasa percaya diri. Terlebih di saat kita berada dalam pergaulan dengan banyak orang. Dengan keadaan diri yang bersih, harum, rapi, dan enak dipandang selain bisa menumbuhkan rasa percaya diri juga merupakan bagian dari cara kita mensyukuri nikmat hidup sehat yang telah Tuhan berikan kepada kita. 

Semoga kita terhindar dari segala macam penyakit dan semoga tulisan singkat ini bermanfaat. Amiin. 

Punjul, 06 Desember 2020

Ayah Bunda Sayang Kalian


S u b a d i

Anakku, belahan jiwaku..
Waktu berlalu seakan tanpa pernah kita sedari
Namun pelukan sayang ayah bundamu tak pernah kehilangan erti
Dakapan hangat juga selalu menyertai, meski jarak sering memisahkan kita
Doa tulus selalu melekat erat dalam ayunan langkah bersatu mimpi

Anakku, jendela sanubariku..
Perjuangan itu kini sudah di hadapan
Saatnya menjalani hidup dengan penuh kesungguhan
Hadapi tentangan yang ada dengan senyuman
Sapa setiap kesulitan dengan keikhlasan
Raih bintang dengan penuh harapan

Anakku, penawar hidupku..
Hidup ini tidak terlalu mudah dijalani
Ada kesulitan yang akan memperkaya hati dan menguatkan diri
Namun, Jadilah pemenang layaknya juara sejati
Dengan rendah hati dan luhur budi
Bertabur kasih bersulam pekerti

Anakku, bintang harapanku..
Ayunkan langkah dengan ringan hati
Gapai setiap mimpi yang ada di sanubari
Bentangkan asa agar menjadi satu

YA Allah...
Lindungi anakku dalam teduh karunia-Mu
Bimbing anakku di setiap persimpangan yang membuatnya bimbang
Beri kemuliaan budi agar membuatnya bererti
Titiskan kebesaran jiwa agar membuatnya lebih bermakna
Sentuh hatinya dengan semangat tulus untuk berkongsi
Tanamkan keyakinan di jalan kebajikan dan kemuliaan 
Penuhi tekadnya dengan kerja keras dan pantang menyerah
Teguhkan peribadinya agar tidak mudah goyah

Ya Allah..
Terima kasih untuk kurnia terindah ini
Terima kasih untuk anugerah tidak ternilai ini

Amin...
#semoga yg mengharapkan momongan semoga lekas terkabul.... Bisshobri wassholah.  Amiin....

Majan, 27 November 2020

Sahabat, Ayo Belajar Membaca Al-Qur'an!


S u b a d i

Bismillah, Siapapun orang yang saat ini mampu membaca Al-Quran dengan baik dan benar, tentu telah melewati proses yang panjang. Diawali dari pelajaran membaca/iqra' yang paling dasar, terus ditingkatkan dalam kurun waktu yang cukup lama. Dimulai dari jilid 1,2,3 sampai lulus jilid 6 baru bisa naik tingkat ke mushaf Al-Quran, misalnya. 

Belajar Al Qur’an itu pasti tidak bisa instan, tidak cukup sekali dua kali atau sehari dua haris belajar saja. Namun butuh waktu, ketekunan, disiplin, dan kesabaran. Apalagi dalam mempelajari sifat-sufat huruf dan makhraj huruf. Tentu butuh proses belajar yang tidak ringan sampai benar-benar mahir dan fasih. 

Setiap orang pastinya tahu, bahwa Al-Quran merupakan kitab suci bagi umat islam, mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai panduan dan pedoman hidup bagi segenap kaum muslimin. Di dalamnya terkandung aqidah, ibadah, hukum-hukum, akhlak, dan sejarah.

Umat Islam tidak akan tersesat jika berpegang teguh pada Al-Quran, sebab Al-Quran merupakan pedoman hidup bagi setiap muslim. Hidup akan lebih bermakna jika dijalani dengan selalu berpegang teguh kepada Al-Quran. Oleh sebab itu umat Islam sudah seharusnya senantiasa membaca, memahami, dan mengamalkannya.

Ada yang bertanya, "Bagaimana mau berpedoman pada Al-Quran jika membaca saja enggan?"

Enggan membaca Al-Quran, bagi orang dewasa biasanya lebih sering dijumpai beragam alasan, karena kesibukan kerja mencari nafkah dan lain-lain. Sehingga waktu terasa amat sempit sekali, bahkan seolah tidak ada kesempatan untuk membaca Al-Quran. Maka perlu memaksanakan diri, menentukan waktu untuk Al-Quran. Bis pilih pagi hari selepas shalat Subuh, atau sebelum tidur. Yang penting jangan sampai dalam sehari semalam sama sekali tidak menyisihkan waktu untuk membaca Al-Quran. 

Alasan ke dua bisa jadi tidak membaca Al-Quran karena memang belum bisa membaca. Untuk kasus yang satu ini jawabannya hanyalah; "Harus segera belajar membaca Al-Quran". Ya, sebab sama sekali belum bisa membaca. Meskipun banyak aplikasi tutorial belajar Al-Qur'an di dunia maya dengan berbagai macam teknik dan metode. Akan tetapi yang paling utama belajar Al-Qur'an tetap lebih baik langsung kepada seorang guru. Namun, bukan berarti belajar dengan tutorial di internet itu tidak bermanfaat.

Sejatinya banyak hal yang perlu dipelajari saat belajar Al-Qur'an. Mulai dari makhraj huruf, sifat huruf, hingga tajwidnya. Karena itulah dalam belajar Al-Qur'an perlu didampingi oleh seorang guru. Hal ini menjadi penting karena kesalahan pengucapan huru-huruf dalam Al-Quran bisa jadi mengubah makna jauh dari makna yang semestinya.

Kita yang terbiasa dengan bahasa Indonesia atau bahkan bahasa daerah, bisa saja saat mengucapkan huruf-huruf Al-Quran berbeda makhraj dan sifatnya. Karena itulah belajar Al-Qur'an perlu disempurnakan dengan ilmu tajwid dan tahsin supaya bacaan kita menjadi lebih baik dan benar. 

Belajar al-Quran langsung kepada guru menjadi penting karena jika kita melakukan kesalahan saat mengucapkan kalimat yang dicontohkan, sang guru akan langsung membetulkannya. Tentu akan berbeda dengan ketika kita belajar secara otodidak. Kita bisa jadi tidak akan menyadari kesalahan yang kita buat sehingga akan merasa sudah benar sesuai contoh yang kita dengar. 

Walhasil: Ayo terus belajar Al-Qur'an, agar mampu membaca dan memahami makna yang dikandung didalam ayat-ayat Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah pedoman hidup bagi umat Islam. Al-Qur'an bagaikan peta yang menuntun kepada jalan hidup yang benar, di dunia hingga di akhirat. Aamin. 

Punjul, 26 November 2020


Mereka Mengenaliku Sebagai Guru


S u b a d i

Aku tahu dan sadar, di pundakku ada tanggung jawab yang tidak ringan, meski demikian selalu aku yakini bahwa di situ tersimpan cahaya kemuliaan. 

Aku sadar sepenuhnya, aku ini juga manusia biasa, sesekali waktu merasa lapar, haus, jenuh, kenyang, dan bosan. Kini aku harus mengajar dan mendidik sesamaku, yaitu anak-anak manusia generasi harapan bangsa. 

Aku harus ingat, hari ini aku menjadi guru bagi generasi abad 21, tantangan mengajar dan mendidik kian semakin berat, sangat berbeda dengan guru zaman dahulu. Namun, bukan berarti aku boleh berkelus kesah apalagi menyerah. 

Aku juga tahu, Anak-anak didikku bagian dari generasi  milenial, mereka sangat percaya diri, aware teknologi, dan bercita-cita tinggi. 

Aku sebagai guru mesti cepat menyadarinya dan bergegas untuk segera menyesuaikan diri dengan generasi milenial itu. Jika tidak, bisa jadi lambat laun aku akan tergantikan dengan beragam aplikasi yang kian deras bermunculan di dunia maya. 

Aku sebagai guru, bahkan kini aku telah menyandang predikat "guru profesional" yang lengkap ditandai dengan sertifikat pendidik harus terus belajar di manapun, kapanpun, dan kepada siapapun. 

Meskipun aku adalah guru, tak jarang ku temui anak didikku lebih awal menemukan sesuatu yang baru ketimbang aku. Jujur aku sadari itu. 

Salah jika aku yang dikenal sebagai guru profesional ini merasa cukup dan puas dengan ilmu dan keahlian yang aku miliki saat ini. Aku musti haus Ilmu, informasi, serta pengetahuan baru. 

Aku juga tahu, seiring pejalanan waktu tidak ada kata berhenti bagi ilmu pengetahuan, ia secara dinamis terus mengalami perkembangan, aku sebagai guru harus mempunyai sensivitas tentang hal itu. 

Aku tahu, mengajar, mendidik, dan belajar adalah pekerjaan yang tidak ringan. Namun bukan berarti aku boleh menganggap dan menjalani profesiku itu menjadi beban apalagi menyiksa hidupku. Aku harus menjalaninya dengan riang dan gembira. 

Aku berpesan kepada teman seprofesi sepertiku, ya para guru. Percayalah bahwa guru tidak akan tergantikan untuk selamanya. Jangan takut dengan munculnya aplikasi-aplikasi yang menjamur di dunia maya itu. 

Percayalah, betul seaindanya generasi ini hanya sebatas membutuhkan informasi, mengetahui dan memahami pengetahun saja, pasti yang diberikan oleh aplikasi canggih itu sudah sangatlah cukup. 

Namun, yakinlah mereka tidak hanya cukup butuh hanya sampai disitu, mereka butuh sosok teladan yang bisa menjadi model bagi mereka, demi membentuk karakter mulia di dalam diri dan laku kesehariannya. Maka hadirnya sosok utuh seorang guru sungguh dibutuhkan. Selamanya. 

Aku sebagai guru musti yakin, bahwa empati, kasih sayang, kepedulian, dan sikap-sikap mulia lainya sampai kapan pun tak kan tergantikan oleh apapun. Semua karakter mulai itu bisa menjadi sempurna sebab hadirnya sosok guru di antara para siswa. 

Aku yakin, profesi guru tidak akan pernah tergantikan oleh perkembangan zaman, oleh sebab itu, sekali lagi aku harus segera menyesuaikan diri dan masuk ke dalam dunia siswaku. 

Sungguh tidak ringan, tantangan zaman mengharuskanku menjadi orang yang memiliki multitalenta. Aku sudah seharusnya menjadi teladan, ilmuan, pendakwah, sekaligus juga pahlawan walau tanpa tanda jasa. 

Walhasil: Agar aku yang kadung menjadi guru ini harus dapat menjawab tantangan zaman, maka sudah semestinya aku rajin membaca buku, koran, maupun jurnal baik media cetak maupun elektronik. Agar aku terbebas dari kegelapan informasi terbaru yang berkembang dalam ilmu pengetahuan.

SELAMAT HARI GURU NASIONAL 2020
punjul, 24 November 2020








Sungguh "Bunga" Sedang Memberi Pelajaran Hidup Kapada Kita


S u b a d i

Bismillah, selama pandemi covid-19 ini banyak orang dibatasi bekerja dan beraktivitas di luar rumah. Yang biasanya bekerja di kantor sehari penuh, tugas dan tanggungjawabnya bisa dikerjakan dari rumah. Guru yang sehari-hari waktunya habis untuk mengajar di sekolah kini mereka diharuskan mengajar dari rumah. Intinya, saat musim pandemi mayoritas orang banyak mengerjakan tugas dan berkegiatan di rumah, dengan maksud membatasi terjadinya keruman banyak orang untuk memutus mata rantai penularan corona, supaya pandemi segera berlalu. 
______________
Membincang soal kegiatan orang di rumah saat musim pandemi covid-19, salah satunya adalah bercocok tanam di sekitar rumah. Yang sampai hari ini masih ramai adalah menanam bunga. Aktivitas ini sebenarnya bukan tanpa alasan,  bisa jadi demi menghilangkan kepenatan karena sudah jenuh terlalu lama di rumah atau memang karena menyalurkan hobi bagi penggemar tanaman bunga. Dan bahkan untuk ladang mengais rejeki dari hobi yang ia tekuni. 

Banyak media mewartakan bahwa tidak sedikit tanaman bunga yang harganya sangat fantastis, seperti yang sempat viral harga bunga janda bolong, dan bahkan di kediri beberapa waktu lalu juga sempat viral dengan berita seorang laki-laki yang membeli 4 jenis tanaman bunga dengan sebuh mobil avanza seharga 105 juta rupiah. Intinya, banyak bermunculan jenis tanaman bunga yang dulunya diabaikan kini diburu orang. Dianggap unik, langka, dan sebagianya. Karena kadung suka dan cinta, soal harga meskipun mahalnya minta ampun, tetap saja dibeli untuk diboyong pulang. 
____________
Terlepas pro-kontra terhadap fenomena ini, yang jelas segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di muka bumi ini pasti ada manfaat dan memiliki pembelajaran hidup, misalnya saja bunga. Ya, kita bisa belajar dari tanaman bunga. 
Belajar dari tanaman bunga, tentu kita bisa mencontoh betapa bunga memberikan manfaat bagi banyak makhluk Tuhan. Bunga membantu lebah, kumbang, dan kupu-kupu untuk bertahan hidup. Tidak hanya itu, bunga juga memberikan manfaat untuk menyegarkan mata dan pikiran setiap orang yang melihatnya. Bahkan bagi sebagian orang tanaman bunga bisa mengembalikan memori di masa lalu. Hehe. 

Dalam hal ini, manusia bisa mencontoh dengan senantiasa berbuat gemar berlbagi. Tidak usah pandang bulu kebaikan kita untuk siapa. Tetaplah berbuat baik, tidak peduli siapa yang akan merasakan kebaikan kita karena kebaikan yang kita tebarkan, itu pula yang nantinya akan kita tunai. InsyaAllah

Setiap orang yang diberikan bunga tentu akan merasakan bahagia. Tidak peduli berapa jumlah bunga yang diberikan, mendapatkan bunga tentu sesuatu pengalaman yang menyenangkan. Bunga yang diberikan bisa berasal dari beragam jenis bunga, tetapi perasaan yang dimunculkan tetap sama yaitu perasaan bahagia.

Dengan belajar dari bunga, kita bisa melakukan hal-hal sederhana untuk membuat orang lain merasa bahagia dengan kehadiran kita. Tidak perlu sesuatu yang mahal atau berlebihan, asalkan perilaku kita baik, tentu sekitar kita bisa menerima dengan baik pula. Sebagai bonus, kehadiran kita bisa menjadi salah satu sumber kebahagiaan bagi sekitar.


Mandi minimal dua kali sehari bisa membuat tubuh kita bersih dan tentunya lebih sehat. Dengan mandi rutin, tentu tubuh kita akan segar, bugar, dan memiliki aroma yang enak seperti halnya bunga. Apabila kita memilih untuk tidak mandi sementara tubuh memproduksi keringat, tentu akan menyebabkan bau badan. Bau tidak sedap ini tentu mengganggu sekitar.

Lewat bunga, kita bisa belajar lebih menghormati hak orang lain untuk bernapas. Jangan sampai aroma tubuh kita yang tidak sedap membuat orang lain yang sulit berkonsentrasi bahkan terganggu pernapasannya. Jadi, apabila belum rajin mandi, mulai sekarang pastikan untuk mandi rutin minimal dua kali sehari ya! Hehe. 

Terkadang kita salah dalam memaknai keindahan. Bunga yang indahnya luar biasa, suatu hari nanti akan layu dan tidak bermakna apa-apa lagi. Bunga yang tadinya merah merekah, wangi semerbak, dipuja, nantinya pasti hanya akan mengering dan hilang. Sama halnya dengan manusia, kita ini hidup sementara, tidak kekal, kecantikan dan keindahan fisik semata tidak akan memberikan manfaat apa-apa apabila tidak diimbangi kecantikan hati.

Apabila bunga bisa dikenang karena keindahannya ketika bunga itu sudah layu, maka kita sebagai manusia bisa dikenang melalui perbuatan positif kita selama hidup di dunia ini. Jadi, hari-hari yang kita miliki, jangan sampai luput dari kebaikan yang kita tebarkan. 

Siapa yang tidak tahu kalau bunga di dunia ini ada beragam? Coraknya beragam, bentuknya beragam, aromanya beragam, semuanya beragam. Dari berbagai macam keragaman yang dimiliki bunga, satu hal yang pasti adalah apapun bunganya, dia cantik sesuai dengan bunga apa dia.

Sama halnya dengan kita sebagai manusia. Tidak perlu iri dengan keindahan atau kecantikan orang lain. Tuhan sudah menciptakan kita sebagai bentuk paling sempurna untuk diri kita sendiri. Sebaiknya, apapun pemberian Tuhan bisa diterima dengan sebaik-baiknya dan dipenuhi rasa syukur agar hidup ini berjalan dengan tenang dan berkah.

Tidak penting membandingkan hidup sendiri dengan kehidupan orang lain. Kita tidak pernah tahu jenis batu terjal seperti apa yang dialami seseorang dalam hidupnya. Jika kita bertukar posisi, belum tentu kita mampu hidup seperti orang lain. Oleh sebab itu, kiranya hanya bersyukurlah yang lebih pantas kita utamakan dalam menjalani hidup yang kita miliki. 

Seseorang yang kreatif tentu memberikan nilai lebih bagi diri orang tersebut. Sama halnya dengan bunga yang apabila semakin kreatif seseorang dalam mengemasnya, akan meningkatkan nilai jual dan nilai keindahan bunga itu sendiri.

Kita sebagai manusia bisa belajar untuk tidak pernah berhenti mengasah kreativitas. Semakin kita terasah untuk kreatif tentu saja akan lebih mudah dalam menjalani hari-hari ini dengan lebih berwarna.

Walhasil; Jangan pernah menyepelekan hal-hal kecil di sekitar kita. Bahkan dari tumbuhan bunga saja kita bisa belajar makna hidup. Memang tidak disangka-sangka, hal-hal sederhana selalu mengandung pembelajaran. Segala sesuatu pasti ada nilainya, asalkan kita mau lebih menghargai hal-hal kecil di sekitar kita, salah satunya dengan sedikit memberikan waktu untuk lebih memaknai tumbuhan bunga itu sendiri. Semoga catatan sederhana ini dapat menghibur Anda. Amin. 

Punjul, 24 November 2020

Lembut Hati Muliakan Diri


S u b a d i

Bismillah, pernahkan Anda melihat orang yang budinya halus, sopan dalam berucap, dan santun dalam bertindak? Saya yakin, tidak hanya pernah, namun bisa jadi malah sering. Atau jangan-jangan Anda juga bagian dari orang yang berciri demikian. Maka bersyukurlah, sebab yang demikian itu lebih diridhai oleh Allah SWT. 

Halusnya budi, baiknya hati, sopan saat berucap dan santun dalam bertindak, merupakan bagian dari ciri-ciri akhlak terpuji, yang harus dipegang kuat-kuat oleh setiap manusia. Sebab, sikap berhati lembut dapat membawa kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Orang yang berhati lembut biasanya tidak pernah menggunakan bahasa atau kata-kata yang kurang terpuji dan nada bicaranya jauh dari nuansa kasar. Mereka selalu baik dalam bertutur kata, tidak merendahkan orang lain dalam bersikap dan bertindak. Dengan semua orang sikapnya selalu baik dan jauh dari sikap merendahkan, apalagi sampai menghina. 

Mereka yang berhati lembut tidak suka menyakiti hati dan perasaan orang lain. Mereka sangat hati-hati dalam perbuatannya, karena mereka takut kalau sampai menyakiti orang lain. Orang yang berhati lembut senantiasa menghargai kehadiran orang lain dan tidak suka mencemoohkan kekurangan dan kesalahan orang lain. 

Seandainya Anda melihat orang yang hati dan sikapnya kasar, maka berucaplah dalam hati "ya Allah jauhkan aku dari sikap yang demikian itu, dan berilah petunjuk hambaMu ini ke jalan yang benar". Amiin... 

Punjul, 24 November 2020

Disipilin Diri, Kenapa Tidak? [ Refleksi Sebagai Pesan Diri]


S u b a d i

Bismillah. Disiplin diri itu seperti otot. Semakin rajin kita melatihnya, semakin kuat kita. Sebaliknya, semakin kita enggan atau tidak melatihnya, semakin lemah kita. Kira-kira begitulah cara mudah membuat analog dalam rangka memahami kata disiplin. Manusia dibekali akal sehat, satu diantara gunanya memang untuk berfikir, dan sangat benar jika kita mau memikirkan ayat-ayat Allah sekalipun tidak tersurat dalam kitab suci Al-Quran. 

Barangkali tidak ada orang yang tercipta sama persis di dunia ini, meskipun sejatinya jika Allah ingin membuat sama tentu bukan perkara yang rumit bagiNya. Setiap orang pasti mempunyai kekuatan otot yang berbeda, begitu juga setiap orang memiliki tingkat disiplin yang berbeda-beda. Jika kita mampu menahan napas selama beberapa detik saja, itu sebenarnya bukti bahwa kita sejatinya memiliki disiplin diri. Namun begitu, tidak semua dari kita mau mengembangkan disiplin yang kita miliki pada tingkat yang sama.

Sederhana, sekali lagi. Diperlukan otot untuk membangun otot. Maka dari itu, untuk membangun disiplin diri, kita memerlukan disiplin diri. Apakah bisa, saya yakin kita bisa, pasti bisa. Modalnya sepertinya hanya niat yang benar dan segera bertindak. Itu saja. 

Pasti kita pernah menyaksikan para binaragawan, baik di TV maupun di sekitaran kita. Rata-rata mereka mempunyai otot yang kuat dan badanya sangat bugar. Tentu untuk bisa mencapai kondisi tubuh yang ideal seperti itu tidak cukup berlatih satu atau dua hari saja. Pasti butuh berlatih dengan disiplin dan pola makan yang teratur juga. 

Kira-kira cara untuk membangun disiplin diri analoginya sama dengan melakukan angkat beban untuk membangun otot. Ini berarti mengangkat beban sampai mendekati batas kemampuan kita. Perhatikan ketika kita mengangkat beban, kita mengangkat beban yang mampu kita angkat. Kita memaksa otot-otot sampai kita tidak kuat lagi dan kemudian beristirahat.

Dari situ, mungkin cara dasar untuk membangun disiplin diri adalah dengan menjalani tantangan yang mampu kita selesaikan, tapi untuk menyelesaikannya kita harus bersusah payah dan mengerahkan segenap kekuatan yang kita miliki. Ingat ya, ini bukan berarti mencoba melakukan sesuatu dan gagal melakukannya setiap hari. Ini juga bukan berarti kita harus melakukan sesuatu yang dapat dengan mudah  dilakukan. Kita tidak akan mendapatkan kekuatan dengan mengangkat beban yang tidak mampu kita angkat dan juga tidak akan mendapatkan kekuatan dengan mengangkat beban yang terlalu ringan.

Lalu, kalau begitu kita harus bagaimana? Kita harus memulai dengan beban atau tantangan yang dapat kita jalani, namun untuk melakukan hal itu, kita harus bersusah payah sampai mendekati batas kekuatan yang kita miliki. 

Ada istilah begini "Latihan Progresif" Yang kurang lebih maknanya demikian "sekali kita sukses, kita menaikkan tingkat tantangannya setingkat lebih tinggi". Artinya, jika kita tetap mengangkat beban dengan berat yang sama setiap waktu, pasti tidak akan bertambah kuat. Demikian halnya, jika gagal menantang diri sendiri dalam kehidupan, kita tidak akan mampu untuk berdisiplin diri.

Bukan sesuatu yang benar jika kita memaksa diri kita terlalu keras saat membangun disiplin diri. Jika ada murid kita mencoba menyelesaikan seluruh pelajaran dalam semalam untuk menghadapi ujian dan keesokan harinya ia berharap bisa menyelesaikan seluruh soal ujian dengan baik dan bisa mencapai tujuan pembelajaran secara konsisten, hampir pasti dia akan mengalami kegagalan. Hal itu sama seperti kita yang pergi ke tempat fitnes untuk pertama kalinya dan mencoba mengangkat beban 300 kilogram. Kita kayaknya hanya akan terlihat bodoh, dan bahkan akan menjadi bahan tertawaan. Hehe

Namun, Jika siswa kita hanya mampu menyelesaikan 1 lembar bacaan dalam sehari dan kita hanya bisa mengangkat sepuluh kilogram beban. Bukan sesuatu yang memalukan jika siswa kita dan tentu juga kita memulai dari apa yang bisa dilakukan. Dengan latihan secara bertahap dan istiqamah, dia akan semakin pandai, dan otot-otot kita akan menjadi semakin kuat.

Sama halnya jika sekarang kita sangat tidak disiplin, sebenarnya kita masih dapat menggunakan sedikit disiplin yang kita miliki untuk dilatih sehingga dapat menjadi semakin disiplin. Semakin kita disiplin, hidup kita tentu semakin mudah untuk dijalani. Tantangan yang pada mulanya terlihat mustahil bagi kita untuk dijalani, akhirnya akan tampak lebih ringan dan mudah. Saat kita semakin kuat, yakinlah berat beban yang sama akan terasa semakin ringan.

Yang terakhir, akan menjadi lebih cerdas dan bijak, jika kita tidak bandingkan diri kita atau siapa saja dengan orang lain. Sebab, itu sama sekali tidak akan menolong. Kata bijak mengatakan, "Jika Anda berpikir bahwa Anda lemah, orang lain akan tampak lebih kuat. Sebaliknya, jika Anda berpikir bahwa Anda kuat, orang lain akan tampak lebih lemah". 

Walhasil, mari kita lihat kemampuan kita sendiri dan bercita-citalah bahwa kita akan semakin kuat saat melatih diri. Terus semangat untuk berlatih dan istiqomah. Salam sukses. Amin. 

Punjul, 24 November 2020

Ormas Islam Sebagai Perekat Bangsa


S u b a d i 

Bismillah, salah satu tugas mulia yang diemban oleh ormas-ormas Islam di bumi pertiwi ini adalah ikut serta dalam mewujudkan tatanan masyarakat muslim yang cerdas, santun, dan moderat. Sehingga keberadaannya sebagai mitra pemerintah akan lebih bermakna dan bermartabat, bukan malah sebaliknya. 

Agama sebagai salah satu perekat kehidupan berbangsa dan bernegara bagi saya merupakan suatu keniscayaan. Disadari atau tidak, fakta menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang religius, di dalamnya terdiri dari berbagai umat beragama. Oleh sebab itu, menurut hemat saya Ormas keislaman juga memiliki tanggung jawab untuk ikut andil mencerahkan umatnya terkait kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Banyaknya faham keislaman yang dianut umat islam, sekaligus banyaknya varian madzhab merupakan tantangan Ormas Islam sekarang. Meskipun sejatinya keragaman madzhab ini tidak perlu lagi dikhawatirkan karena telah terbukti berjalan beratus tahun yang membuat Islam di Indonesia selalu dinamis. 

Namun, Lagi-lagi yang perlu menjadi perhatian adalah faham keislaman yang mempunyai kecenderungan menegaskan kelompok lain yang berbeda. Kelompok yang memiliki faham seperti ini, dalam literatur sejarah Islam dikenal dengan khawarij, ia memiliki pengaruh, apalagi di masa kini sebarannya lebih efektif, sebab banyak menggunakan medsos sebagai basis kegiatannya. 

Banyaknya kanal-kanal medsos dan mudahnya orang menyampaikan ceramah keislaman tanpa generasi keilmuan keislaman yang memadahi musti disadari oleh Ormas Islam bahwa itu adalah bagian dari tantangan. Sebab jika tidak ada gerakan masif untuk merevitalisasi bahan-bahan dakwah bisa jadi masyarakat akan sangat mudah terbawa oleh faham keislaman ekstrem yang justru jauh dari teladan Rasulullah, para sahabat, dan ulama' saleh. 

Dalam sejarah peradaban islam, terbukti adanya kelompok yang mengaku dirinya muslim, namun memiliki pandangan keras dan ekstrem, apalagi di era sekarang ini, bisa jadi lebih banyak dan masif. Jika tidak diwaspadai tentu memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap masyarakat muslim, berfaham namun ekstrem, yang dapat memecah belah umat dan bangsa. Pastinya tidak diharapkan. 

Oleh sebab itu, untuk memperkuat sekaligus memperbanyak pengikut faham keislaman yang moderat, yang selaras dengan jati diri bangsa Indonesia rasanya juga perlu cara, motode serta strategi penyampaian dakwah yang relevan dan peka zaman. 

Kita tahu bahwa para ulama saleh telah banyak memberikan contoh tradisi tulis/literasi yang sangat produktif. Tradisi lisan, seperti pidato, ceramah, tabligh dan lainnya juga penting. Namun, di era sekarang ini jangan sampai meninggalkan tradisi tulis. Dakwah secara lisan dan tertulis sangat perlu digalakkan bersama-sama oleh Ormas-ormas Islam, terutama yang menjunjung tinggi sikap tawassuth dan menghargai perbedaan. Kuncinya dengan mengedepankan sumber keislaman yang bisa dipertanggungjawabkan. 

Era sekarang serba digital. Kanal-kanal medsos sudah semestinya dipenuhi dengan materi-materi keislaman yang menyejukkan dan mencerahkan. Sehingga besar harapan masyarkat umum lebih mudah mendapatkan sajian materi keislaman yang menyejukkan melalui medsos tersebut. 

Oleh karena itu, seiring dengan menjamurnya faham keislaman yang ekstrem sudah waktunya Ormas Islam melakukan terobosan untuk berjuang demi hadirnya konten ajaran Islam yang moderat, modern, sejuk, sekaligus mencerahkan. Meskipun pelan tapi pasti. Jayalah negeriku, majulah bangsaku, salam guyup rukun selamanya. Wallahu a'lam bissowab. 

Punjul, 23 November 2020






𝗥𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻

𝘒𝘦𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘰𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪...