google-site-verification=a29cQDLicXmx_KpxGtFuPjFzKNqoMZ3FEdNxkyQfTTk Kang Badi'

MENUNDA KEBAIKAN DENGAN SE-JUTA ALASAN

 
S u b a d i 

Bismillah. "Engkau tidak bisa turun ke dalam sungai yang sama" [Herakelitos]. Cukup lama saya terdiam memikirkan ungkapan Herakelitos ini. Setelah beberapa saat, menemukan maksudnya, benar "sungai yang selalu mengalir, sudah dapat dipastikan airnya pun selalu diperbarui dengan air yang datang kemudian".

Dalam konteks kehidupan yang lebih luas, hidup ini selalu berubah dalam ruang dan waktu. Hari Jum'at ini pasti berbeda dengan hari Jum'at kemarin, tentunya juga akan berbeda dengan hari Jum'at yang akan datang. Jika faktanya demikian, maka bisa dipastikan kita tidak akan bisa meraih kesempatan dengan menundanya hingga esok hari.
______________________
Setiap orang kayaknya pernah punya pengalaman menunda-nunda pekerjaan, walau sebenarnya kesempatan itu ada, meskipun kadarnya berbeda-beda. Saya sendiri juga pernah melakukannya, syukurnya segera sadar dan tidak sampai fatal, hehe. Namun demikian, saya sadar bahwa sikap menunda-nunda pekerjaan, sesepele apapun pada dasarnya bukanlah sikap yang terpuji.

Dalam tulisan sederhana ini, saya ingin mengilustrasikan sikap yang oleh kebanyakan orang dicap sebagai sikap yang tidak baik ini.
-------------------------
Ada seseorang mahasiswa, suatu hari ingin menulis tugas kuliah, bikin makalah, misalnya. Setelah mandi pagi, pikirannya berkata, "supaya nanti nulisnya tenang, sarapan dulu ah!! ". Maka ia tak jadi menulis dan pergi ke warung sebelah untuk sarapan. 

Setelah makan selesai, dan kembali ke kost, pikirannya berubah lagi, " Ngerokok dan minum kopi dulu", alasannya tetap sama, supaya nanti nulis dengan tenang. Setelah itu pikirannya melayang ke hal yang lain. "Ke internet ah, sekalian mencari data". Padahal data-data yang mau ditulis sebenarnya sudah ada, cukup. 

Setelah sampai di internet, buka Google dan Facebook. Dan kemudian sibuk keasikan dengan Facebook hingga akhirnya lalai mencari data. Kemudian kembali ke kost dan melihat Teman-temannya asik bermain gitar. Lah, pikirannya malah tertuju pada teman-temannya itu. Lalu ia berfikir kembali "menulis kan bisa dilakukan nanti, setelah shalat ashar, ini ada tamu dari kost lain, sudah semestinya dihormati dan ditemui. Maka, apa yang terjadi, ya... bergabung dengan mereka. 

Di sana, ia hanya sibuk ngobrol tak karuan sana-sini, sambil ngrokok dan ngopi. Setelah ashar tamunya pulang dan yang lain masuklah ke kamar masing-masing. Dan ketika berjalan ke kamar, mulutnya menguap. Dan pikirannya berubah lagi. "Lebih baik tidur dulu, biar nanti malam badannya fresh dan ngerjain nulis makalahnya bisa lebih semangat dan serius. 

Maka, tidurlah ia sampai maghrib, setelah bangun ia mandi, dan setelah mandi berganti baju dan hendak nulis. Namun pikirannya berkata, "makan dulu ke angkring, biar nanti nulisnya kuat. Maka pergilah ia ke angkring dan makan. Setelah lama di sana, kemudian kembalilah ia ke kamar, sampai di kamar, pikirannya berkata, " Ke kamar mandi dulu, buang air dan cuci muka dulu biar lebih nyaman nulisnya ". 

Hemm, tapi lagi-lagi pikirannya berkata " Lebih enaknya tidur dulu, nanti pukul dua bangun untuk nulis sekalian tahajjud. Apa yang yang terjadi, tidurlah dengan sangat pulas dan terbangun pukul 07.30. Makalah yang sejak kemarin hendak ditulis tidak jadi dikerjakan. Padahal, pukul 08.00 nanti waktunya presentasi. 

Gedobrak,,,, karena belum membuat makalah, pikirannya masih saja berkata "Udah, gak masuk kuliah ajalah, nanti bisa-bisa dimarahin dosen, dan malu sama teman-teman". Dan ia pun tak jadi pergi kuliah. Hemmm... 
_______________
Lalu, pelajaran apa yang dapat kita petik dari kisah unik di atas? 
Ketika kita berfikir nanti, maknanya kita  telah memberi peluang kesibukan lain untuk masuk, sehingga pekerjaan pokok senantiasa terbengkalai. Kesempatan hari ini akan menjadi masa lampau yang tak mungkin bisa kembali, tidak ada peluang yang sama untuk ke dua kali. Dan ketika tugas atau kewajiban sudah melewati batas waktu yang ditentukan, itu hanya akan menjadi sesuatu yang tidak berguna. Semoga bermanfaat. 

Munjungan, 14 Agustus 2020











SOSOK PEMBANGKIT SEMANGAT [2] AN-NAWAWI, "MEMBUJANG SAMPAI AKHIR HAYAT"


S u b a d i

Bismillah. Ada lirik lagu yang tentu sangat populer, penggalan lirik lagu Bang Haji Roma Irama ;
 
"Katanya enak jadi bujangan, 
Hidup sendiri tanpa beban, 
Susahnya jadi bujangan, 
Kalau malam tidur sendirian"

Bisa jadi, jika An-Nawawi mendengar penggalan lirik lagu Bang Roma tersebut akan tersenyum sendiri. Sebab nampaknya membujang atau uzuubah telah menjadi pilihan hidupnya. 

"Katanya enak jadi bujangan, Hidup sendiri tanpa beban, mungkin saja keadaan ini yang mendorong tekad An-Nawawi untuk membujang sampai wafat dalam usia 64 tahun. Nampaknya uzuubah menjadi pilihan yang sangat tepat untuk orang seperti An-Nawawi, ulama yang kesehariannya dihabiskan untuk mengajar ratusan santri dan berkarya lewat berpuluh-puluh judul kitab. 

Tatkala kita membaca Al-Minhaj, karya An-Nawawi bab nikah, Beliau menjelaskan yang artinya ; 
"Nikah hukumnya sunnah bagi orang yang butuh dan punya biaya, sunnah hukumnya meninggalkan nikah dan melemahkan syahwatnya dengan berpuasa. Dan jika tidak butuh nikah, maka nikah hukumnya makruh (kalau memang tidak punya biaya). Jika punya biaya, tidaklah makruh, namun yang lebih utama melakukan ibadah saja".
 
"Saya -An-Nawawi- berpendapat, jika memang seseorang tidak menggunakan waktunya untuk beribadah saja, maka nikah itu lebih utama baginya, yakni menurut Qoul Ashah". " wa illa fala lakin al-'ibadatu afdhalu".

Hebat sekali, mungkin kalau bukan An-Nawawi, pendapat ini hanya sebatas wacana saja. Namun bagi An-Nawawi menjadi pilihan hidupnya. Tekad ini dibuktikan oleh An-Nawawi, siang malam waktunya hanya digunakan untuk beribadah, menulis karya-karya ilmiah, mengajar, membaca Al-Quran, dan untuk berbagai dakwah. 

Literatur mengatakan, bahwa disamping Beliau ini terkenal sebagai "pecinta ilmu dan pendidikan yang gigih", betapa tidak, dalam sehari saja, bisa menyampaikan kurang lebih 12 mata pelajaran dari berbagai disiplin ilmu. Mengajar, membaca, dan menulis merupakan kegiatan yang sudah menyatu dalam hidupnya. ia juga terkenal " Amat keras" melakukan kritik kapada para umara' di Damaskus. Tidak pernah merasa takut berhadapan dengan penguasa. 

Pengorbanan dan tekad An-Nawawi ini nampaknya tidak sia-sia, perkembangan murid Imam Malik ini, dari hari ke hari bertambah pesat dan bahkan menjadi "fariidu Ashrihi" Atau orang yang nomor satu di zamannya. Sedangkan dalam fiqih, An-Nawawi bersama Ar-Rafi'i mendapat gelar kehormatan sebagai "Ass-Syaikhooni" Atau dua guru besar madzhab Syafi'i. 

Soal karya tulisnya, sudah pasti sangat banyak sekali, diantaranya adalah Syarh Muslim, Al-Irsyad, At-Taqrib, Majmu', Al-Adzkar, Roudhatut-thalibin, Riyadus-shalihin, dan masih banyak lagi. 

Hemm. Mungkin seandainya An-Nawawi atau Ma'ruf Al-Karkhi [seorang wali besar yang juga membujang] mendengarkan lirik lagu Bang Haji Roma selanjutnya :
 
"Susahnya jadi bujangan, 
Kalau malam tidur sendirian"
 
Pasti akan tersenyum lebar dan mungkin juga membatin: "ahh.. Lebay lhoooo Roma, siapa bilang malam sendirian? La wong selalu sibuk dengan ibadah dan ilmu". Kwkwkwkwkkw. 

Boyolangu, 12 Agustus 2020



SOSOK PEMBANGKIT SEMANGAT [1] "IMAM ASY-SYAFI'I YANG SAKIT-SAKITAN"


S u b a d i

Bismillah. Apakah anda sering dilanda sakit? Sakit panas, typus, magh, hipertensi, darah rendah, atau hanya sekedar flu atau batuk. Jangan sampai patah semangat, apalagi putus asa, jadilah orang yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan, demikianlah kira-kira banyak orang bijak berpesan. 

Berkali-kali kali Imam Asy-Syafi'i berpesan kepada murid-muridnya, pesan yang cukup singkat, namun mengesankan. "Al'ilmu 'ilmani, 'ilmu al-fiqhi li al-adyani wa 'ilmu at-thibi li al-abdani wa ma wara-a dzalika bulghatu Majelis ini". Yang artinya " Ilmu itu ada dua macam : ilmu fikih untuk agama, dan ilmu kedokteran untuk merawat badan. Selain keduanya hanya bekal pergi ke perkumpulan. 

Tidak banyak orang yang tahu, bahwa ternyata ada rahasia di balik ungkapan Asy-Syafi'i tersebut. Ternyata wasiat ini disampaikan oleh Beliau karena latar belakang "pengalaman pahit" yang mendera Asy-Syafi'i sampai akhir hayatnya. 

Sebagaimana disebutkan dalam buku yang berjudul "Rahasia Sukses Fuqaha" Imam Asy-Syafi'i menahan dua penyakit, yang tak kunjung sembuh, yaitu penyakit batu dan bawazir. Penyakit Asy-Syafi'i ini tergolong kronis. Namun demikian, Beliau menerimanya dengan tabah. Beliau tak pernah patah "semangat atau mengeluh". Penyakit yang dideritanya ini tidak pernah mengganggu aktivitas belajar dan mengajarnya. 

Bahkan, menurut catatan Ibnu Hajar : "ketika penyakit Imam Asy-Syafi'i semakin parah, Beliau kemana-mana selalu membawa mangkok kecil, mangkok ini diletakkan di bawah pantat Beliau untuk menampung darah yang terus menerus menetes pada saat Beliau duduk".

Sungguh, tak berlebihan dikatakan di antara nikmat dan karunia Allah yang sangat berharga itu adalah nikmat kesehatan. Sebagai bagian dari orang-orang yang mengagumi Imam Asy-Syafi'i, bahkan ikut menikmati buah pemikirannya patut untuk menyontoh ketabahan Beliau dalam menerima ujian sakit dari Allah sekaligus semangatnya. Tentu, kita tidak akan bisa menyamainya, setidaknya Beliau telah memberi teladan yang begitu mulia, meskipun dalam keadaan sakit, masih saja tekun untuk belajar dan mengajar. 

Akan menjadi aneh, jika waktu kita banyak, kesehatan kita prima, dan kesempatan kita punya, namun tidak dipergunakan untuk melakukan aktivitas yang bermakna, apalagi sampai dipergunakan untuk melakukan hal-hal yang menyimpang dan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Menggunakan kesempatan untuk hal-hal yang positif, menurut hemat saya adalah bagian dari cara kita mensyukuri nikmat kesehatan yang telah Allah berikan kepada kita. Semoga bermanfaat. Wallahu a'lam bisshawab.

Punjul, 12 Agustus 2020



GERAKAN LITERASI MADRASAH (GELEM)

S u b a d i

Bismillah. Sejak kemarin, Senin 10 Agustus 2020, Kemenag Kabupaten Tulungagung, dalam hal ini Seksi Pendidikan Madrasah menyelengarakan kegiatan virtual meeting penguatan/pendampingan Gerakan Ayo Membangun Madrasah (GERAMM), Tahun 2020. Acara yang dilaksanakan secara virtual meeting ini, diawali dengan sambutan dari Bapak Kasi Pendidikan Madrasah, yaitu Bapak H. Suryani, M.Ag, dilanjutkan oleh Plt. Kepala Kemenag Kabupaten Tulungagung, Bapak Drs. H. Masngut, M.Pd.I, sekaligus sebagai pembuka acara. Acara pembukaan berjalan baik dan lancar. 

Sejauh saya menangkap, bahwa GERAMM merupakan bagian dari upaya untuk mewujudkan cita-cita mulia, yakni menuju Madrasah yang Hebat dan Bermartabat, melalui program membangun madrasah dengan satu kunci, yakni mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki oleh madrasah. Dengan program ini, diharapkan seluruh komponen madrasah dapat dibangun dan ditingkatkan kemampuannya.

Lebih lanjut, dipaparkan bahwa GERAMM meliputi 7 Gerakan, yakni Gerakan Literasi Madrasah/GELEM, Gerakan Madrasah Sehat/GEMES, Gerakan Madrasah Inovatif/GEMI, Gerakan Furudul Ainiyah/GEFA, Gerakan Peningkatan Kompetensi Guru/KATA SIGURU, Gerakan Peningkatan Kompetensi Kepala Madrasah/KATA SIKAMAD, dan Gerakan Kompetensi Pengawas/KATA SIAWAS. 
-----------------------------------

Gerakan Literasi Madrasah (GELEM) 

Hari ini, Selasa, 11 Agustus 2020 merupakan hari ke dua kegiatan penguatan GERAMM, tepat pukul 08.00 acara dimulai, materi hari ini adalah Gerakan Literasi Madrasah (GELEM), sebagai pemateri adalah Bapak Drs. Imam Syafi'i, M.Pd.I, Kasi Kurikulum dan Evaluasi, dari Kanwil Kementerian Agama Jawa Timur. Untuk materi ini, sekurang-kurangnya diikuti oleh 324 guru RA dan Madrasah (MI, MTs, dan MA) yang didelegasikan oleh madrasahnya masing-masing.

Ada beberapa hal cukup menarik yang dapat saya tangkap, kususnya dari sajian materi Gerakan Literasi Madrasah, pertama, disajikan sekurangnya ada tiga hal yang melatarbelakangi program ini, di antaranya bagi saya cukup menggelitik, yakni data dari Republika.co.id, Senin 15 Desember 2014,14.00 WIB, Tingkat melek huruf orang dewasa : 65,5 persen. Dan Statistik UNESCO, 2012, mengatakan indek minat baca : 0,001, berarti setiap dari 1.000 penduduk hanya satu yang membaca. Kemudian data dari PISA, mengatakan tingkat membaca siswa Indonesia  berada di urutan ke 62 dari 70 negara. 

Dari sini jelas, menunjukkan minat membaca penduduk Indonesia begitu rendah, sehingga dirasa sangat perlu gerakan bersama untuk menumbuhkan budaya literasi. Salah satu jalan yang paling tepat dan efektif adalah memulai Gerakan literasi dari madrasah. Sejatinya literasi juga menjadi bagian dari kurikulum 2013. Jika kita tengok Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, sudah tercantum dengan jelas, salah satu aspeknya adalah membiasakan membaca setidaknya 15 menit setiap hari. Dan kini dengan adanya Gerakan Literasi Madrasah/GELEM, diharapkan budaya literasi (membaca dan menulis) semakin berkembang secara signifikan. 

Pegiat Literasi sekaligus penulis puluhan buku dari IAIN Tulungagung, Dr. Ngainun Naim, M.Ag, mengatakan, membangun tradisi membaca secara luas di kalangan masyarakat merupakan salah satu kunci penting untuk membuat masyarakat kita menjadi masyarkat yang maju. Kemajuan tidak bisa diperoleh secara signifikan hanya dengan adanya teknologi, modal besar, atau pergaulan luas semata. Kunci penting yang mendasari kemajuan adalah budaya membaca yang kokoh. (2019:40). Hemat saya, dengan diluncurkannya GERAMM, yang salah satu programnya adalah Gerakan Literasi Madrasah, perlu disambut dengan gembira, didukung, dan diupayakan kesuksesannya. 

Kedua, Pengertian Literasi, menurut Ditjen Dikdasmen, 2016:2, literasi berarti kemampuan untuk mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui aktifitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. Kemudian menurut UNESCO:2006:147, menyebutkan bahwa literasi mencakup 4 aspek, 1) literasi sebagai seperangkat keterampilan otonom, 2) literasi sebagai hal yang dilaksanakan, dipraktikkan, dan dikondisikan, 3) literasi sebagai proses pembelajaran, 4) literasi sebagai teks. 

Dalam paparanya, Drs. Imam Syafi'i, M.Pd.I menuturkan bahwa Gerakan Literasi Madrasah adalah usaha komprehensif untuk menjadikan madrasah sebagai masyarakat pembelajar yang dilakukan semua pihak baik pemerintah, guru, peserta didik, maupun orang tua wali. 

Dari sini jelas, program Gerakan Literasi Madrasah sejatinya tidak hanya sebagai upaya menumbuh kembangkan budaya literasi bagi peserta didik, akan tetapi, secara luas diharapkan literasi membudaya di lingkungan madrasah dan masyarakat, mulai peserta didik, guru, kepala madrasah, pengawas madrasah, dan orang tua wali. Sehingga literasi benar-benar menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia. Tradisi literasi memang harus terus digelorakan, sebab dengan semangat literasi yang kokoh, hingga membudaya merupakan piranti dan dan penanda kemajun sebuah bangsa. 

Ketiga, Tujuan Literasi, dalam paparannya, beliau menyajikan dua tujuan, tujuan umum, dan tujuan kusus. Tujuan Umumnya adalah menumbuh kembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi madrasah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Madrasah, agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Tujuan Kususnya adalah, a) menumbuh kembangkan budaya literasi di madrasah, b) meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan madrasah agar lebih literat, c) menjadikan mdrasah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga madrasah mampu mengelola pengetahuan, dan d) menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mawadahi berbagi strategi membaca. (Dirjen Dikdasmen. 2016:2).

KeempatPelaksanaan, Gerakan Literasi Madrasah dalam praktiknya meliputi 3 tahap, yakni: 
a) kegiatan pembiasaan, yang mencakup penumbuhan minat baca melalui kegiatan 15 menit membaca setiap hari (one day one ayat, one day on hadits, morning circle, morning smart, bacaan berkarakter, dan membaca buku non pelajaran), dan menata lingkungan kaya teks, (mengubah kelas menjadi kaya teks, pengadan buku nonpelajaran, perpustakaan, sudut baca, cafe baca, gubuk literasi, majalah dinding, dll. 
b) kegiatan pengembangan, disajikan beberapa alternatif kegiatan yang dapat dilakukan dalam kegiatan ini, meliputi menulis komentar singkat, merangkum apa yang dibaca, pengembangan kosa kata dengan satu hari 4 kata 4 bahasa, pengumpulan karya siswa dan guru, dll. 
c) kegiatan pembelajaran, pada sesi ini merupakan peningkatan kemampuan literasi di semua mata pelajaran, strategi membaca efektif, menerapkan budaya literat dalam pembelajaran, mulai dari perencanaan, proses, dan penilaian pembelajaran. 

Kelima, Madrasah Menulis/MaNis. Bagian ini bagi saya cukup menarik, sangat sayang jika dilewatkan, sebab kegiatan ini, MaNis, memiliki tujuan untuk membudayakan menulis bagi guru, pegawai, dan peserta didik untuk menghasilkan produk tulisan sesuai dengan jenjang dan kemampuannya. Kegiatan ini setidaknya meliputi 4 hal, yakni guru menulis/gelis, siswa menulis/Sulis, kepala Madrasah menulis/kamis, dan penelis/Pengawas Madrasah menulis. 

Sungguh tidak berlebihan, secara pribadi saya ucapkan selamat kepada guru, kepala madrasah, dan pengawas yang tergabung dalam group Ma'arif Menulis. Mari terus rawat spirit menulis yang sudah terbangun ini. Menulis sebagai warisan leluhur, kususnya para ulama'  memang sudah sepatutnya dilestarikan. Al-Qur'an bisa sampai kepada kita saat ini juga bagian dari jasa para penulis masa lalu. Menulis adalah aktifitas mulia, menulis bagian dari proses belajar, sehingga jika dilandasi dengan niat yang benar, menulis juga akan bernilai ibadah, sebab belajar adalah perintah agama Islam. Lebih lanjut, jika membincang ihwal literasi dalam peradaban Islam, sudah jelas disebutkan dalam surat al-Alaq ayat 1-5, dan surat al-Qalam ayat 1.

Banyak hal yang disajikan dalam materi ini, bagi guru dan kepala Madrasah memiliki kewajiban untuk menghasilkan tulisan yang dipergunakan untuk meningkatkan kompetensi sekaligus dipergunakan sebagai prasyarat kenaikan pangkat, tentu bagi ASN. Karya tulis yang dimaksud yaitu: buku berjenjang, esai praktik pembelajaran yang baik, laporan hasil penelitian, buku populer, modul, artikel ilmiah, dan lain-lain. 

Sedangkan untuk peserta didik, bersama-sama didampingi oleh guru untuk bisa menghasilkan karya literasi, diantaranya adalah cerpen, puisi, novel, komik, poster, resensi buku, dan lain-lain. 

Tidak hanya guru dan siswa yang dituntut untuk mengembangkan budaya literasi, dalam hal ini menulis, kepala Madrasah dan pengawas juga musti melai membiasakan menulis, bisa berupa laporan penelitian tindakan Madrasah, laporan tindakan kepengawasan, buku populer, jurnal, artikel, karya terjemahan, dan lain-lain. 

Terakhir, karena program ini adalah gerakan bersama yang resmi diluncurkan sebagai kebijakan yang harus dikerjakan oleh Madrasah di bawah naungan Kementerian Agama, maka akan ada monitoring dan evaluasi, sebagian upaya pemantauan dan penilaian untuk mengukur sejauh mana signifikansi keberhasilan Gerakan Literasi Madrasah. Tentu sesuai kriteria yang telah ditetapkan, baik mengenai lingkungan fisik, lingkungan sosial dan afektif, serta lingkungan akademik. Semoga bermanfaat, semoga sukses. Amin. 

Punjul, 11 Agustus 2020

















JANGAN PERNAH REMEHKAN HOBI ANDA


S u b a d i

Bismillah. Judul di atas sekaligus sebagai ungkapan saya untuk mengawali tulisan sederhana ini "jangan pernah remehkan hobi anda". Berawal dari sedikit pengalaman pribadi tentang hobi "Pelihara Burung Kicauan" tulisan singkat ini bisa terwujud. Sedikit? Ya, karena kurang ditekuni seperti pecinta burung yang lain, yang moncer dan sukses itu. Mereka mengembangkannya untuk budidaya dan bisnis. Alhamdulillah. 

Meskipun sedikit pengalaman, tetapi ada pelajaran yang dapat saya ambil, sekaligus untuk saya bagi. Ya, hobi, skill, bakat, atau apalah namanya jika ditekuni dengan sungguh-sungguh pasti tidak hanya melulu menjadi pemuas batin semata, tetapi sedikit-banyak juga mampu mendatangkan fulus, atau penghasilan untuk kita. 

Sebagai bukti bahwa hobi bisa menjadi lorong penghasilan, pertama berpijak pada pengalaman pribadi, sudah sejak lama saya punya hobi memelihara burung kicauan, ada Cucak Ijo, Kacer, Trucukan, Anis Kembang/pungklor, Murai Batu, dan lain-lain. Kemudian kedua, ada beberapa tokoh sukses berkat hobinya yang hendak saya cantumkan dalam tulisan sederhana ini, agar lebih meyakinkan bahwa hobi juga bisa menjadi peluang bisnis, lorong penghasilan yang luar biasa. 

Pertama, Sebab kesenangan memelihara burung, saya sering hunting burung bakalan yang mempunyai karakter bagus dan prospek, baik di pasar burung maupun di forum jual beli burung online. Karena yang saya cari adalah burung yang masih bakalan, pasti harganya punjuga miring, relatif murah. Semisal, trucukan awal beli 70 ribu rupiah, kita rawat dengan tulus penuh kesungguhan, hingga menjadi bagus, laku juga sampai 420 ribu rupiah. Pernah beli Cucak Hijau bakalan harga 370 ribu rupiah, kita rawat dengan kesungguhan, laku juga sampai 1 juta 200 ribu rupiah, dan masih banyak lagi pengalaman menyenangkan tentang hobi memelihara burung yang dapat menambah penghasilan, di samping kepuasan batin, hehe. 

"Sedikit merenung", bagi saya pengalaman yang sedikit tentang hobi di atas, bisa menjadi penanda bahwa sebuah hobi, skill, atau mungkin bakat, seandainya dijalani dengan tekun dan sungguh-sungguh, tentu tidak mengherankan jika bisa menjadi ladang rejeki, di samping dapat memberi kepuasan batin bagi pelakunya. Tegasnya, bermula dari sebuah hobi yang kita miliki, kita bisa mengembangkannya menjadi pulang bisnis yang menguntungkan.

Jika dipikir-pikir, bukankah usaha yang dijalankan berdasarkan hobi akan menjadi mudah dan nyaman?, dan coba jika kita bayangkan, umpama kita mendapatkan penghasilan dan tambahan penghidupan dengan melakukan pekerjaan yang kita sukai, tentunya akan menjadi kepuasan tersendiri. Dan bila boleh sedikit menebak, mungkin itulah mengapa kegiatan usaha yang berawal dari hobi sering kali berjalan lebih baik dan sukses.

Kedua, coba kita tengok sosok yang sudah tidak asing lagi di telinga kita, Bill Gates, banyak sumber mengatakan dia adalah si raja komputer, yang ternyata dia memulai bisnisnya dari sebuah hobi mengotak-atik komputer. Hobi yang telah ditekuninya dengan serius telah berhasil membawanya untuk menemukan komputer yang lebih praktis, lebih mudah, dan lebih canggih untuk digunakan dari pada komputer besar yang biasanya pada saat itu ia gunakan. 

Dengan upayanya itu, Bill Gates telah berhasil membangun jaringan Microsoft yang saat ini telah menggurita di seluruh dunia dengan pemasukan yang luar biasa fantastis. Sehingga hal itu memasukkannya ke dalam deretan konglomerat papan atas dunia. Luar biasa.

Kemudian, banyak juga penulis sukses yang berawal dari hobi menulis, sebab ketekunan menulis yang kokoh dan tanpa jemu, telah mampu mengantarkannya kepada kesuksesan hidup, semisal JK Rowling, yang dengan hobi menulisnya telah menyejajarkan dirinya sebagai penulis elit dan juga menjadi bagian orang yang terdaftar dalam deretan konglomerat kelas dunia. 

Jika kita ambil contoh dari dalam negeri saja, contohnya Mustika Ratu, ternyata bermula dari Mooryati Sudibyo yang mempunyai hobi meracik dan membuat jamu, terutama untuk disuguhkan kepada keluarganya. Sebab ketekunan dan kegigihan mengembangkan sebuah hobi membuat jamu itu, hobinya juga telah mengantarkan kepada kesuksesan yang luar biasa. 

Kegilaan orang akan hobi yang ditekuni dapat dengan mudah kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, hohi berburu barang antik, berburu bunga, tanaman bonsai, memancing, travelling, dan lain sebagainya. Salah satu sikap bijak, dalam menyikapi hobi yang membutuhkan modal biaya besar, dari pada terus menerus dituding sebagai salah satu biang pemborosan, waktu dan fulus, betapa serunya jika dari hobi tersebut diusahakan agar menjadi lorong penghasilan. 

Soal hobi, sering terdengar ungkapan "gak masalah untung atau buntung, yang penting hobi tetap jalan". Ya, memang tidak jadi masalah, toh walau tak dapat fulus, kepuasan batin masih bisa menjadi kompensasinya.

Halnya hobi menulis, meskipun Anda bilang, apasih untungnya? Fulus? Hehe.Tentu kepuasan batin, sarana belajar, berbagi senyuman, berbagi ilmu, menghindari kepikunan, dan saya yakin jika terus ditekuni, tak mengherankan, tak ada yang mustahil, jika juga akan menjadi wasilah turunnya rejeki dari langit. Amin. 

Punjul, 9-10 Agustus 2020







5 BUKTI BUDAYA MODERN PESANTREN


S u b a d i

Bismillah. Rasanya kurang afdhal jika tulisan sebelumnya yang berjudul "BUDAYA PESANTREN, BUDAYA MODERN" tidak saya uraikan lebih lanjut. Pertama, sebagai jawaban atas masukan teman, soal apa yang menjadi penyebab sampai dikatakan budaya pesantren, budaya modern?. Terimakasih untuk yang telah membaca tulisan tersebut, sebab telah menjadi spirit untuk menjawab dan menulis. Kedua, sebagai tambahan keterangan agar tulisan lebih komprehensif dan tidak bias makna.

Okey, setidaknya ada 5 point yang hendak saya uraikan dengan singkat. Kelima hal ini, sejauh saya mengamati dan merasakan merupakan kelaziman lama, bahkan menjadi tradisi kaum pesantren. Yang jelas, bicara pesantren tentu tak bisa lepas dari membincang Kyai, santri, kitab kuning, syawir, dan selera humor. Kelima point yang saya maksud dan menjadi asbab itu adalah sebagai berikut:

Pertama, melatih menghargai pendapat. Jelas pesantren mempunyai pengajaran bahsu al-masail atau halaqah musyawarah. Forum ini mafhum sebagai perkumpulan yang menyerupai diskusi group terfokus untuk mencari jawaban atas persoalan-persoalan keagamaan, bahkan soal konvensional. 

Untuk bisa aktif mengikuti jalannya diskusi santri dituntut untuk membaca banyak literatur dalam memberikan jawaban. Sebab rujukan kitabnya beragam, dapat dipastikan jawaban atas pertanyaan yang sama bisa memunculkan jawaban yang beragam pula, sesuai dalil dan argumentasi masing-masing. 

Kyai sebagian guru yang alim selalu malatih para santri untuk menyampaikan pendapat sekaligus mempertahankannya dengan dalil yang diyakini kuat. Di samping itu juga selalu diajarkan untuk menghargai pendapat yang berbeda-beda. 

Kedua, cinta seni dan keindahan. Sebagai contohnya, saat bulan Rabiul Awal, bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, santri dapat dipastikan membaca syair-syair yang indah dan merdu, al-Barzanji misalnya. Sungguh, pujian-pujian dan alunan cinta kepada sang panutan, Muhammad SAW itu menjadikan kaum santri terbiasa dengan kalimat-kalimat yang indah dan puitik. Tak hanya itu, jiwa seni tingkat tinggi juga diajarkan melalui seni kaligrafi, sungguh indah. 

Ketiga, selera humor, kelakar. Sering kita menjumpai para Kyai yang alim mempunyai selera humor yang tinggi, semua keadaan seakan mudah dan santai. Tentu kebiasaan ini bukan tanpa alasan. Humor bisa dipahami sebagai ekspresi rasa syukur atas luasnya nikmat yang dianugerahkan oleh Allah kepada hambanya. 

Salah satu pijakan yang biasa disampaikan oleh beberapa orang Alim, yang saat ini biasa menuturkan dalil tentang humor adalah Gus Baha'. Kaum santri mengembangkan selera humor berpijak pada kalimat ihya' ulumuddin, yang artinya demikian "bahwa ada sebagian umatku yang selalu optimis, karena yakin akan luasnya rahmat dan kasih sayang Allah. Namun, di saat yang lain juga suka menangis tersedu, karena takut akan adzab dari Tahan". Itulah mengapa kaum santri suka kelakar dan homoris, seperti Gus Dur. 

Keempat, melestarikan santra dan budaya. Ya, salah satu faktor utamanya adalah karena adanya pelajaran 'arud, yakni bagaimana cara menggubah syair yang sangat indah dan penuh makna. Tegasnya, pelajaran ilmu balaghah di pesantren dapat dipahami sebagai kaderisasi Seniman lisan sekaligus tulis. Contohnya sangat banyak betebaran di sekitaran kita, baik yang berbahasa Jawa, Sunda, Indonesia, dan bahasa-bahasa daerah yang lain. 

Kelima, problem solving yang sederhana. Meski tak semuanya, tetapi tidak sedikit pula para Kyai dan santri yang sudah senior banyak mempelajari pengobatan ala Nabi, atau yang biasa kita kenal dengan tibbun Nabawi. Faktanya, pengobatan tidak semata-mata untuk penyakit yang bersifat biologis yang disebabkan oleh faktor luar tubuh, tetapi juga disebabkan oleh faktor ruhani seseorang itu sendiri. 

Membincang soal ruhani, dalam konteks kontemporer bisa dikaitkan dengan psikologi atau ilmu lainnya. Dan biasanya, berbagai macam cara alternatif ditempuh para Kyai dan santri sebagai solusi atas berbagai persoalan hidup masyarakat luas, tidak selalu jlimet dan ilmiah tetapi solutif. Wallahu a'lam bisalahowab. 

Boyolangu-Punjul 7 Agustus 2020


4 PERKARA PENGGUGAH KELALAIAN


S u b a d i 

Bismillah. Sesungguhnya jatah seseorang di dunia ini adalah umurnya. Kalau dia menggunakannya dengan baik dalam hal-hal yang bermanfaaat, baginya kelak buah kebajikan untuk bekal di alam kekekalan, akhirat. Ibarat orang yang sedang berdagang, ia sedang menerima laba keuntungan yang membahagiakan.

Namun, jika umur sebagai anugerah ini disia-sikan dalam kemaksiatan, foya-foya, perilaku menyimpang, dan dosa-dosa, sehingga ia menemui Allah dalam keadaan akhir yang buruk, maka seseorang akan merugi. Sungguh, betapa menyesal ketika jasad sudah tertimbun tanah. (Doa saya; Semoga kita ditakdirkan baik oleh Allah. Amin) 

Di bawah ini, saya akan sebutkan empat perkara yang bisa menggugah hati dari kelalaian, telah disebutkan di dalam buku yang berjudul "Meraih Husnul Khotimah", karya Dr. Abdullah bin Muhammad al-Muthlak, halaman 17-20. Secara ringkas sebagai berikut :

Pertama, dzikrul maut, atau mengingat mati yang berkesinambungan. Hal ini menurut penuturan pengarang dzikrul maut akan menjauhkan seseorang dari rakus pada dunia dan lebih mencintai akhirat. Sehingga dapat membawa seseorang lebih bersungguh-sungguh dalam beramal saleh dan tidak condong untuk memperuntukkan dorongan hawa nafsu yang diharamkan di dunia fana ini. 

Kedua, ziarah kubur, ini adalah nasihat yang sangat dalam untuk hati. Kalau seseorang melihat tempat yang gelap dalam lubang, maka dia melihat itulah kesudahan di mana orang-orang yang dulu mencintainya berlutut menguruknya dengan tanah, setelah disakkan ke liang lahat yang sempit dan ditutup dengan papan. Sungguh, jika seseorang berziarah kubur sambil merenung, pasti mendapat banyak hikmah. 

Ketiga, memandikan mayit dan mengantarkan jenazah. Ketika seseorang membolak-balikkan jasad mayit di atas papan pemandian jenezah, terdapat pelajaran yang sangat dalam. Dituturkan oleh Dr. Abdullah, bahwa seseorang dalam kondisi hidup dan kuatnya dahulu tidak ada seorang pun yang mampu menyentuhnya, bahkan mendekatinya kecuali dengan izinnya. Maka dengan datangnya kematian, dia menjadi seonggok jasad kaku, tidak ada gerakan, dan dibolak-balikkan oleh yang memandikan sesuai yang diinginkan. 

Keempat, mengunjungi orang-orang saleh akan membangunkan hati dan membangkitkan semangat. Mengapa demikian? Sebab, kita akan melihat orang-orang saleh bersungguh-sungguh dalam beribadah, berlomba-lomba dalam ketaatan, tiada tujuan bagi mereka kecuali ridha Allah. Jika boleh menegaskan, bahwa berkawan, berteman, dan berkumpul dengan orang yang saleh dan berbudi luhur adalah bagian dari umur yang bermanfaat. Wallahu a'lam bissowab. Semoga bermanfaat. Amin. 

Boyolangu, 6 Agustus 2020

BUDAYA PESANTREN, BUDAYA MODERN


S u b a d i

Bismillah. Dunia pesantren sampai detik ini terbukti selalu menggelorakan pesan-pesan perdamaian, salah satu tradisinya melalui syiar dan syair yang bersumber dari khazanah dan kekhasan kaum pesantren itu sendiri. 

Disadari atau tidak, seperti saat-saat sekarang ini, menurut hemat saya penting bagi umat islam (kususnya Indonesia) untuk mencoba bersama menggaungkan syiar yang damai dalam setiap dakwah dan kegiatan lain yang melibatkan khalayak, masyrakat banyak. 

Mengapa yang demikian menjadi penting? Tak lain karena syiar untuk mengedepankan bahwa islam adalah inspirasi bukan semata-mata aspirasi, islam sebagai rahmat bukan malah melaknat, islam sebagai spirit kemajuan bukan kerikil sandung yang menjadi penyebab kejumudan, apalagi kemunduran, dan islam sebagai lumbung pemersatu bukan arena untuk permusuhan. 

Budaya pesantren kian menjadi lengkap dan sejuk, salah satu alasannya adalah gelora syiar beriring syair. Nada-nada dan shalawat selalu menghiasi syiar yang dapat menjadi penambah damainya jiwa dan hati, seluruhnya semata-mata agar semua insan mampu menjaga diri, menjaga jari, menjaga lisan, dan menjaga laku keseharian. Kasih bagi seluruh insan. 

Pesantren dengan gaya kaum santrinya senantiasa mengedepankan sikap santun, menghargai perbedaan, anti kekerasan, dan anti permusuhan (atas nama apapun!). Sikap yang demikian, sejatinya semata-mata hasil internalisasi budaya pesantren itu sendiri. 

Ya, tradisi yang sudah terbangun sejak lama sekaligus warisan leluhur yang penuh karisma dan laku mulia, selalu mengedepankan kebersamaan, toleran, menghargai perbedaan pendapat, memiliki selera humor tinggi, cinta seni dan budaya, dan banyak mengurai kebisingan dunia dengan cara-cara santai, tetapi selalu solutif. Modern bukan? 

Punjul, 5 Agustus 2020


EMPAT CACAT MANUSIA


S u b a d i 

Bismillah. Sangat lumrah diketahui, bahwa manusia adalah makluk ciptaan Allah yang paling sempurna, fi ahsani taqwim. Manusia di samping sebagai makluk biologis, juga termasuk makluk peradaban. Oleh sebab itu, tak heran jika banyak sekali kelebihan yang dimiliki, sekaligus tak luput juga dari sederet kekurangan. 

Pada uraian singkat ini, penulis ingin menyampaikan empat sisi kekurangan yang dimiliki manusia. Mengetahui dan menyadarinya bagi saya secara pribadi menjadi penting, demi kebaikan dan keharmonisan langkah dalam meniti jalan kehidupan. 

Pertama adalah angan-angan tanpa guna, berarti memimpikan sesuatu yang mustahil untuk dicapai, diraih. Tentu, angan-angan berbeda dengan cita-cita. Sebab, cita-cita adalah idealisme di masa mendatang yang memungkinkan untuk diraih dengan berbagai upaya yang realistis. Misalnya, bercita-cita ingin menjadi seorang penulis yang baik dan sukses, maka bentuk ihtiyarnya adalah terus menulis dan menulis tanpa jemu, mempublikasikan, membukukannya, terus mengasah ketrampilan menulis, dan lain sebagainya.

Kedua adalah terlalu memaksakan kehendak, kelemahan yang satu ini, sering menghinggapi orang yang sedang diberi otoritas, kekuasaan. Ia bukan lagi menjadi sosok yang mengayomi, mencerahkan dan menebarkan energi positif bagi yang ia pimpin. Akan tetapi, malahan menjadi momok yang membosankan. Sikap suka memaksakan kehendak yang menghinggapi seorang pemimpin bisa menjadi penyebab rusaknya sebuah organisasi. 

Membincang soal kehendak, tentu ia menjadi sangat manusiawi, akan tetapi kehendak tersebut apakah akan bermanfaat atau tidak, perlu mendapatkan ruang perenungkan secara mendalam, sehingga ia menjadi sebuah kehendak yang arif, proporsional, dan tidak menimbulkan dampak buruk terhadap roda organisasi, terutama jajaran yang dipimpin. 

Ketiga adalah keras kepala dalam pendirian, sifat negatif ini jika menghinggapi seseorang, maka perjalanan hidupnya menjadi keras dan kurang bermakna. Menjalani kehidupan sejatinya juga perlu seni, kapan harus menjadi penentu arah, kapan menjadi mediator di tengah keragamanan dan kebisingan hidup, dan kapan harus menjadi pendorong yang kuat untuk timbulnya kabajikan di rumah, di tengah masyarakat, dan seterusnya. 

Mempunyai sebuah pendirian adalah keniscayaan bagi setiap orang, akan tetapi bukan yang tercampuraduk dengan sikap keras kepala. Sebab, jika tercampuraduk maka kemungkinan besar yang terjadi adalah tak sudinya mendengar saran apalagi sampai mau menganalisis sebuah masukan. Mempunyai pendirian menjadi urgen, sebab ia akan memberi peluang kepada seseorang mampu membuka diri terhadap masukan konstruktif orang lain. 

Dan keempat adalah egois, sifat yang bisa menjangkiti kepada siapapun, tanpa pandang bulu. Demi kebaikan pribadi dan orang lain, maka watak ini (egois) harus dikelola dan dikendalikan agar tidak tumbuh subur pada pribadi seseorang. Jika, watak ini tidak segera dikenali dan kendalikan, maka lambat laun akan menjadi bagian karakter yang melekat kuat dan bisa menimbulkan dampak yang kurang baik, bagi diri sendiri dan juga orang lain. Wallahu a'lam bissowab. 

Madiun, 3 Agustus 2020


FILOSOFI ILMU TAJWID DALAM KEPEMIMPINAN


S u b a d i 

Bismillah. Sejatinya setiap dari kita adalah pemimpin. Dan sudah menjadi lazim, setiap pemimpin pasti dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Semua tanggung jawab yang dipikul, jika disikapi dengan rasa syukur dengan baik dan benar, maka tidak ada rasa berat atau beban untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut. Sehingga, segala tugas yang diembannya dijalankan dengan penuh dedikatif dan amanah.

Meminjam istilah ilmu Tajwid, izhar, idghom, iklab dan ikfa', sesungguhnya kepemimpinan bisa mengambil filosofi dari empat katagori cara membaca Al-Quran yang baik dan benar. Mari kita pelajari bersama-sama ;

Izhar, pengertiannya adalah tegas. Menjadi sosok pemimpin musti memiliki ketegasan dalam bersikap, mengambil keputusan sekaligus mengawal keputusan yang telah diambilnya. Disamping itu, ia juga dituntut memiliki ketegasan dalam memberikan reward dan punishment terhadap diri dan anggota yang dipimpin. 

Idghom, dalam ilmu Tajwid ia memiliki makna berbaur antara dua konsonan. Dalam konteks kepemimpinan, seorang pemimpin dituntut untuk mampu berbaur, membangun sinergi dan menyatukan potensi yang ada. Sinergitas menjadi salah satu kunci keberhasilan sebuah roda organisasi. Selain itu ia harus memiliki kemampuan akomodatif atas saran, masukan dan ide konstruktif yang disampaikan pihak lain, terutama anggota yang dipimpin. 

Iqlab, dalam Tajwid memiliki pengertian mengganti dalam bentuk baru. Sehingga dapat dipahami, seorang pemimpin juga dituntut untuk berkemauan dan berkemampuan melakukan terobosan dan inovasi. Oleh sebab itu, menjadi pemimpin musti terus meningkatkan kompetensi diri dalam mengemban tugas dan fungsinya. 

Ikfa', arti dalam Tajwid adalah samar. Pemimpin harus mampu men-samar-kan (menyembunyikan) atau meminimalisir segala bentuk kegaduhan yang timbul akibat kebijakan dan keputusan yang diambil. Suasana kondusif musti menjadi perhatian utama, sebab kondusifitas menjadi piranti keberhasilan menjalankan tugas dan fungsinya.

Peristiwa dalam kehidupan tentu sangatlah beragam, ada yang menyenangkan, menyedihkan, bahkan yang membuat galau dan marah. Akan tetapi, seseorang (termasuk juga pemimpin) yang sudah termanifestasikan dengan baik rasa syukurnya kepada Allah, dia akan proporsional menghadapi semua peristiwa yang dihadapi, dan selalu husnudzan kepada Allah, tidak sebaliknya.

Punjul, 2 Agustus 2020







BELAJAR BERSYUKUR

S u b a d i

Bismillah. Nikmat adalah salah satu bentuk anugerah dan kasih Allah yang tercurah kepada manusia. Sehingga, seorang hamba yang taat kepadaNya tak kan pernah berhenti mensyukuri atas karunia nikmatNya dengan berbagai macam cara. 

Penting bagi seorang muslim untuk memahami apa itu syukur dengan sebenarnya? Jika melihat definisi yang telah diuraikan para sufi, makna syukur begitu beragam. Akan tetapi pada intinya, bisa ditarik sebuah benang merah, bahwa syukur adalah pengakuan seorang hamba atas segala nikmat yang telah Allah berikan dan membuktikan dengan ketundukan kepadaNya. Begitulah kira-kira. 

Bahkan, sebab pentingnya arti syukur ini, membuat Abu Hasan al-Syadzili menjadikannya sebagai salah satu piranti utama dalam menapaki jalan kema'rifatan. Tentu, pengertian syukur dalam pandangan Beliau ini adalah makna syukur secara ideal, paripurna. 

Dalam pandangan tasawuf, rajin beribadah bukan karena ingin mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya, melainkan diniati sebagai rasa syukur atas semua anugerah yang diberikan Allah. Tiada siapapun yang bisa menghitung nikmat yang dianugerahkan olehNya. Begitulah kira-kira ilustrasi manifestasi syukur ala para sufi. 

Sungguh, meskipun penjelasan tasawuf seperti di atas bukan perkara mudah dan tidak semua orang bisa melakukannya, karena kebanyakan beribadah ingin mendapatkan pahala. Untuk itu, syukur dalam perspektif tasawuf sejatinya memberikan pengkayaan wawasan, bahwa relasi antara hamba dengan Tuhan semestinya tidaklah kalkulatif. 

Tegasnya, apapun bentuk ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya, semata-mata diniati dan dimaksudkan untuk mendapatkan ridhoNya. Wallahu a'lam bissowab. 

Punjul, 1 Agustus 2020


𝗥𝗮𝗻𝘁𝗮𝗶 𝗞𝗲𝘄𝗮𝗷𝗶𝗯𝗮𝗻

𝘒𝘦𝘸𝘢𝘫𝘪𝘣𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘴𝘰𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘬𝘶𝘪...